Part. 58

3.4K 188 5
                                        


Menyampirkan tas nya ke sebelah pundak kiri, dimana pelajaran yang telah usai membuat Alvan berjalan keluar yang sudah di sambut oleh Leo dan juga Revan.

"Langsung pulang?" tanya Leo yang di balas anggukan olehnya lalu berjalan beriringan menuju parkiran.

Namun tatapannya terpaku kala Virly yang menjadi sepupunya itu menghadang jalannya "udah siap pulang ke rumah?"

"Jangan ajak gua ke rumah yang lo maksud" hardik Alvan dengan datar.

"Sorry, gua cuman pengen lo buat kembali Alvan"

Alvan tak menggubris dan berlalu berjalan menuju mobil Revan yang terparkir.

"Al" tangannya tertahan kala dia yang sudah siap membuka pintu membuatnya menoleh, hingga tatapannya tertuju pada pelaku "lepas" tekannya.

"Tolong sekali saja gua minta waktu lo sebentar" ucapnya penuh harap.

"Lo gak ada kapoknya?"

"Gak akan dan gak akan pernah sampai lo mau bicara sama gua"

Alvan menghela nafas sesaat, rasanya dia juga sudah bosan di hantui oleh mereka yang menyandang gelar kelurganya

"Lima menit"

"Bisa tidak di sini?" tanyanya yang membuat Alvan menatap kesekelilingnya yang ternyata sudah banyak orang-orang yang menatap ke arah mereka.

Menghela nafas sesaat "bang Revan, ayo" panggil Alvan lalu melirik kembali ke arah Reksa "ikuti gua" setelahnya Alvan masuk di susul Leo dan juga Revan.

Reksa hanya mengangguk senang meski terbesit rasa iri kala Revan yang baru ia kenali itu di panggil dengan embel kata 'abang' tapi buru-buru dia enyahkan pikirannya itu.

Karena setelah perjuangannya selama kurang lebih satu bulan hanya untuk bertemu dan berbicara dengan Alvan bisa membuahkan hasil.

Penolakan Alvan yang terus menerus membuatnya tak mundur, karena karena Reksa yang selalu berpikir, bahwa Alvan pernah lebih merasakan dari sekedar penolakan darinya.

•••••

Cafe bernuansa modern dengan panggung kecil di pojok kanan, menambah kesan santai untuk sekedar nongkrong bahkan ngedate di waktu bersamaan.

Di meja pojok dekat jendela terdapat dua orang yang bisa di kategorikan sedarah, duduk saling berhadapan.

Sedangkan di sisi sudut lain, Revan dan Leo membiarkan mereka untuk saling bicara, tanpa ikut terlibat, yang bukan ranah urusannya.

"Gua gak punya banyak waktu" ucap Alvan di kala keheningan menyapa di antara keduanya.

Perlahan Reksa menghela nafas lalu menatap Alvan intens "Gua cuman mau kita bisa memperbaiki semuanya Al, menata ulan kembali keluarga kita yang semlat retak"

Alvan menaikan sebelah alisnya "hanya itu?"

Reksa menggeleng "tolong Al, pulanglah. Kita perbaiki semuanya dari awal, kita kembali menjadi keluarga yang seharusnya, izinin gua menebus apa yang sudah sempat hilang, meski gua tau kata maaf gak bisa menghilangkan luka lo sepenuhnya tapi kita bisa menata ulang kembali semuanya dari awal" jedanya.

"Lo pikir semudah itu untuk kembali ke rumah busuk yang lo maksud?"

"Jika lo gak mau buka maaf lo buat gua sekarang, tolong Al, untuk kali ini temui Daddy, dia butuh lo saat ini" ucapnya sendu

Alvan menaikan sebelah alisnya "Kenapa harus?"

"Daddy butuh lo Al, dia selalu meracau atas keselahan dia sama lo, setidaknya temui Daddy sebentar saja. Jujur gua gak bisa liat Daddy kaya gini, dia benar-benar terpuruk sekarang, karena penyeselan dia terhadap lo" lirihnya.

Alvan's Transmigrasi [End] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang