Part. 29

13.2K 693 6
                                        


Tiga remaja itu dengan salah satunya terlihat lebih muda di antara keduanya duduk di ruang keluarga dengan TV yang menyala, bukan mereka yang menonton acara TV melainkan TV lah yang menonton mereka.

Bergelayut menjeh memeluk perut Alvan kini Leo seakan enggan hanya untuk melepaskan pelukannya ketika nangis bombay yang ia curahkan sudah terselesaikan.

Revan menatap jengah ke arah Leo "mau sampai kapan lo peluk dia?" Leo balik menatap sengit "sirik ajh lo, iri ya?"

"Dia bisa mati kurang nafas gara-gara lo" geram Revan, hingga saat itu juga Leo mendongakan kepalanya menatap Alvan "Alvan sesak Leo peluk kaya gini?"

Alvan tersenyum sesaat mengusap lembut surai rambut Leo "emang Leo udah mau lepasin pelukannya?" Leo menggeleng cepat sebagi jawaban.

"Lakukan lah sampai Leo merasa puas" Leo mengangguk dengan senyum yang terpatri sedangkan di sisi lain Revan memutar bola matanya malas "terserahlah"

"Oh dan ia Leo kok bisa lo ngenalin gitu ajh tanpa pikir panjang bahwa itu Alvan?" Tanya Revan dengan sedikit menyeruput minumannya.

Leo memicingkan matanya ke arah Revan "emang lo gak bisa ngerasain?"

"Yahh meski awalnya gua ngerasa itu Alvan tapi gua gak bisa seyakin lo kaya sekarang"

"Ya ya ya, si paling intuisi" Revan menatap tak suka "heh bukan intusi tapi waspada"

"Alasan"

"Tinggal jelasin ajh kenapa sih?!" Geram Revan

Leo berpikir sejenak "dari aura yang Alvan pancarkan, tutur kata yang ia lontarkan, serta tata bahasa yang Alvan gunakan, dan itu ngebuat insting gua mengatakan itu adalah Alvan karena cuman dia yang memperlakukan gua kaya gitu"

"Cuman karena itu doang? Dan alasan insting murahan lo itu?"

"Lo kira insting gua cuman bualan hah? Gua gak bakal jadi seorang mata-mata juga kalo insting gua cuman sebatas biasa"

Revan mengangguk jengah "ya ya si paling insting"

"Ngajak gelut lo? Ayo"

Revan tersenyum sesaat lalu mengusak surai rambut Leo "engga. Terus lah seperti ini karena ini lebih baik"

"Asalkan ada Alvan" jawab Leo yang tampak sedikit sendu.

Alvan menatap heran "Gua kan sekarang disini Leo"

Leo mengangguk cepat "jangan pergi lagi" cicitnya dan Alvan hanya mengangguk mengerti dengan senyuman yang terpatri di sudut bibirnya "Tidak akan"

Revan kembali ke mode seriusnya setelah kilasan beberapa lontar kata drama mereka utarakan. Menatap ke arah Alvan intens "Lo ada tujuan berada di tubuh ini Alvan?"

Alvan menganguk sekilas "memberikan kebahagiaan untuk pemilik tubuh ini karena selalu mengalami penyiksaan atas tuduhan yang buka ia lakukan"

Revan menaikan sebelah alisnya heran "Apa yang udah mereka lakuin?"

Alvan mengusap surai rambut Leo "lepas dulu yah, gua mau nunjukin sesuatiu sama kalian"

Setelah pelukan Leo lepas Alvan beranjak dari duduknya dan langsung melepas baju yang sedang ia kenakan hingga setengah telanjang.

Leo menatap marah saat itu juga kilatan penuh dendam turut ia pancarkan sedangkan Revan sudah mengapalkan tangannya erat "terlihat masih baru?"

Alvan menganguk "satu minggu yang lalu Dengan beberapa cambukan serta pukulan"

Brak.!!

Leo beranjak marah dengan geprakan meja yanh begitu kentara "lo yang ngerasain sakitnya Alvan?!" Tekan Leo.

Alvan's Transmigrasi [End] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang