Part. 32

12K 688 9
                                        


Alvan menatap layar laptopnya dengan fokus, membaca setiap bait data keterangan yang tertera di layar monitornya, sampai sebelah alisnya terangkat merasa heran dengan informasi yang kini ia dapatkan.

Mengambil benda pipih panjangnya lalu mencari kontak yang akan ia hubungi.

"Cari tau tentang Reynald Kavelo, dia ada hubungannya dengan Ashlan" ucapnya lalau kembali mematikan sambungan telponnya.

Krekk.!!

Jleb.!!

Seketika orang itu terdiam kaku di ambang pintu, kala baru saja ia membuka pintu satu pisau melayang yang kini sudah menancab tepat di samping kepalanya, jika tadi ia salah langkah maka pisau itu yang akan menancab di dahinya.

"Keluar" perintah Alvan yang membuatnya tersadar dari keterdiamannya.

"Kamu membuat abang kaget saja"

Alvan hanya menatap malas ke arah seorang pemuda itu yang kini berjalan ke arah Alvan.

"Siapa lo?!"

Pemuda itu menatap tak percaya "kamu tidak mengenali abang Alvan?" Alvan hanya menaikam sebelah alisnya.

"Aku abang sepupumu Virly, ingat?"

Alvan hanya menganggukan kepalanya sesaat lalu kembali menatap layar laptopnya "jika tidak ada urusan lain keluarlah"

Virly tersenyum sekilas, ternyata apa yang di katakan Laksa itu benar adanya, Alvan benar-benar berubah. Bahkan sikap arogannya terlihat begitu kentara.

"Kamu tidak merindukan Abang Alvan?"

Alvan hanya terdiam bahkan dia lebih memilih fokus pada laptopnya di banding menggubris orang yang menurutnya tidaklah penting.

Virly mencabut pisau itu, berjalan perlahan sembari memainkan pisau itu perlahan lalu duduk di atas kasur menatap Alvan yang masih berkutat dengan laptopnya "Alvan apa kamu benar-benar tidak merindukan abang? Jika ia sungguh hati ini terasa potek alvan" ucapnya dramatis.

Alvan menutup laptopnya lalu berbalik menatap Virly sengit "keluar lo"

Seakan terkejut Virly membungkam mulutnya dengan lima jarinya menatap tak percaya ke pada Alvan "kamu mengusir abang Alvan? Kamu benar-benar tidak merindukan abang? Abang sungguh sakit hati Alvan, hati ini sangatlah teramat sakit" ucapnya sembari mengusap sudut matanya "kamu jahat sama abang Alvan"

Alvan memutar bola matanya malas, lalu mengambil pisau itu secara cepat yang berada di tangan Virly.

Sret.!!

Sampai mata pisau Alvan arahkan ke leher Virly, dengan mata yang menatapnya tajam "diam atau keluar"

Menampilkan deretan giginya Virly mengangkat kedua tangannya ke atas "maaf abang akan diam"

Alvan memasukannya kembali ke laci, merasa pekerjaannya pun tidak terlalu penting dia kembali menatap Virly.

"Jadi ada perlu apa lo kesini?"

"Abang Alvan, kenapa kamu jadi gak sopan kaya gitu sama Abang? Kemana perginya adek abang yang manis dulu"

Alvan menatap intens ke arah Virly "mati"

Virly tersenyum sesaat "kamu benar-benar sudah berubah Alvan"

"Tidak terima?"

"Jika iya apa kamu akan peduli?"

"Tidak"

"Itu dia, itu yang abang suka, terus lakukan seperti ini, abang akan mendukungmu"

Alvan menaikan sebelah alisnya heran, aneh rasanya melihat sikap kakak sepupunya itu, yang terlihat seperti orang gila?

Alvan's Transmigrasi [End] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang