Di bawah pohon rindang, dengan beraalasan rerumputan hijau, dua remaja itu kini duduk terdiam menatap ke depan, tanpa ada yang mau memulai pembicaraan.
Suasana yang hening, karena jam pelajaran telah di mulai kembali, namun entah kenapa dua remaja itu kini malah memilih untuk membolos.
"Lo gak ada mau jelasin apapun?" Tanya Revan memulai pembicaraan, karena dia yang sudah tampak penasaran atas keberadaannya.
Hahhh...
Alvan menghela nafas sesaat "gua gak tau harus ngejelasin apa sama lo, tapi yang jelas kini jiwa gua pindah ke raga ini"
"Sebenernya logika gua menyuruh gua buat gak percaya, tapi hati dan perasaan gua mengatakan kalo ini emang lo, meskipun terdengar aneh"
"Entahlah, gua juga gak tau harus ngejelasin dengan kosa kata apa kalo emang harus pake logika" ucap Alvan lalu menatap ke arah Revan "eh gimana dengan tubuh gua?"
"Tubuh lo dah jadi ubi"
"Padahal cuman jatuh dari tangga doang"
Revan tersenyum getir ketika mengingat kejadian itu, rasanya pilu, seakan separuh dunianya hancur saat itu juga.
"Dengan leher yang mendarat tepat ke ujung besi? Lo kira gak bakal mati?"
Alvan menatap tak percaya "gak elit banget mati gua anjing"
"Hahaha..!! Memang, sayangnya itu kenyataannya, mungkin udah garis takdir lo"
Alvan hanya mengangguk sekilas "lalu gimana kabar Leo?" Tanya Alvan yang seketika teringat remaja satu itu karena bagaimana pun juga Leo yang lebih dekat dengan Alvan dari pada Revan.
"Dia kacau Van" Revan menjeda ucapannya "semenjak kepergian lo, dia menjadi lebih dingin kepada orang lain, bahkan sikap cerianya itu bagaikan ilusi, senyumannya seolah redup dan dia lebih memilih membangun tembok pada dirinya sendiri"
Alvan menatap terkejut "lo serius?"
Hanya anggukan yang dapat Revan berikan, karena kematian Alvan waktu itu sungguh membuat rotasi mereka berubah, Revan yang selalu membatasi diri dan Leo yang mengisolasi diri.
"Lo tau, bahkan dia sempat mau melakukan bunuh diri dengan alasan mau nyusul lo, mau nemenin lo, karena dia takut lo kesepian dan dia gak mau kalo dia disini sendirian" jelasnya ketika mengingat setelah tubuh Alvan di kebumikan Leo menjadi histeris tak karuan.
Plak.!!
Alvan langsung menggeplak kepala Revan "kenapa bisa sampai kaya gitu? Lo acuhin dia ya?!" Hardik Alvan.
"Sakit anjing" racaunya lalu mengusap kepalanya pelan "bukan gua yang ngacuhin dia, tapi lo tau sendiri kan gua gimana?"
Alvan menggelengkan kepalanya pelan "negosiasi sama orang lain ajh lo ahli, tapi masa iya buat nego ke dia ajh sulit? Supaya dia gak kepikiran buat bundir doang gitu?"
"Nego-nego lo pikir dia barang?"
"Ya sama ajh, Cuman bedanya dia punya otak sedangkan lo engga"
Revan merenggut kesal ke arah Alvan "sialan lo"
Alvan lebih memilih acuh dan tak menghiraukan umpatan Revan "Terus sekarang?"
Revan terdiam sejenak, menatap ke arah langit meskipun tidak ada atensi yang membuatnya tertarik "gua berhasil bujuk dia kok, buat dia gak bunuh diri, meski gua gak bisa buat dia menjadi ceria lagi. Lo tau sendiri dia lebih bisa terbuka sama lo di banding gua"
"Ya itu karena lo terlalu kaku Revan" dia mengakui hal itu, karena dia sadar juga cuman dengan Alvan dia bisa bersikap sesantai ini. Untuk alasannya? Entahlah dia juga gak tau, baginya disisi Alvan lebih bisa membuat dirinya terasa nyaman.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alvan's Transmigrasi [End] ✓
RomanceAlvan seorang remaja 18tahun, dengan keahliannya sebagai Hacker handal dengan setatusnya yang menyandang sebagai salah satu sniper terbaik di kalangan organisasinya. Menjelani hidup dengan penuh kekerasan, mengharuskan dia menjadi pribadi yang mandi...
![Alvan's Transmigrasi [End] ✓](https://img.wattpad.com/cover/368203447-64-k679740.jpg)