"Tuan mereka berhasil selamat" lapor salah satu pria berjas hitam sedikit menundukan tubuhnya.
"Bagaimana bisa? Apa kemampuan bawahanmu serendah itu hanya membuat mereka mati saja tidak bisa?" hardiknya menatap nyalang.
"Dengan segala hormat, saya meminta maaf. Karena mereka yang mendapat bantuan dari jarak jauh tuan, dapat di pastikan yang membantu mereka adalah beberapa sniper"
Mengepalkan tangannya erat pria baya itu Reynald beranjak berdiri "kumpulkan semua pasukan, termasuk para pembunuh bayaran itu" printahnya pada pria yang menjabat sebagai asissten pribadinya.
Mengangguk hormat "Atas printah anda tuan" jawabnya dan berlenggang pergi.
"Kalian benar-benar membuatku muak" geramnya marah, menatap nyalang ke depan "tunggu saja, tepat hari ini kalian akan saya musnahkan" cam nya lalu berjalan keluar.
Langkah berat penuh penekanan, Reynald berjalan menuju aula yang terdapat podium. Hingga terlihat orang-orang yang sudah berbaris seolah tengah menunggu.
Di atas podium itu Reynald menyapu penglihatannya pada seluruh pasukan yang sudah ia kumpulkan "saya membayar kalian untuk hari ini, maka hancurkanlah apa yang bisa kalian hancurkan" ucapnya dengan suara yang menggema.
"Pertaruhkan semuanya untuk kemenangan saya, meskipun nyawa kalian yang menjadi taruhannya" lanjutnya lalu menatap pria yang menjadi asisstennya tersebut.
Seolah mengerti, ia mengangguk "kita bergerak sekarang" printahnya.
Hingga pasukan yang hampir mencapai 500 orang itu berlalu pergi sesuai dengan arahan yang sudah di tentukan pada mereka.
Reynald berjalan perlahan, di ikuti oleh Asistennya dari belakang, di susul oleh lima pengawal inti pilihannya sendiri.
Aditya, asissten dari Reynald tersebut membukakan pintu mobil Rolls Royce Spectre miliknya, setelah di pastikan Reynald masuk, dia berlari menuju kursi pengemudi.
Malajukan kendaraannya perlahan dengan di ikuti oleh beberapa mobil di belakangnya.
••••••
Sedangkan di sisi lain, kedua remaja yang tak lain adalah Leo dan Revan sedang duduk dengan gusar menatap kosong ke arah depan, mendengarkan setiap laporan dari bawahannya dari earphone yang mereka gunakan.
Di meja itu, dengan laptop yang masih menyala, topeng yang sempat mereka gunakan terletak tak beraturan seolah tak lagi mereka butuhkan.
Sampai Leo beranjak dari duduknya "Gua gak bisa diem ajh kaya gini Re" Revan menukikan sebelah alisnya "Terus lo mau apa? Ikut datang mendampingi Alvan?"
Leo berbalik menampilkan deretan gigi nya "ide bagus"
Menghela nafasnya sesaat "kalo Alvan tau dia bakal marah sama lo Leo" jawab Revan yang seakan malas.
"Bego! Ya jangan sampai ketahuan lah goblog" Revan masih menatapnya dengan tanya.
"Kita pantau secara jauh, siapa tau di pertengahan jalan dia butuh bantuan kita. Iya kan?"
Revan mengangguk mengerti "kalo gitu gua ikut"
Tersenyum senang Leo mengambil topengnya "come on" serunya seraya pergi, sembari mengenakan topeng miliknya.
Setelah di garasi, Revan mengeluarkan motor sportnya, di susul Leo yang naik di kursi penumpang, lalu mulai melajukan motornya meninggalkan pengarangan rumah membelah jalanan.
Sampai dia tiba di perkebunan belakang yang masih terlihat jauh menuju mansion Gevano. Pepohonan yang masih berjajar rapih, karna posisi mansion yang cukup jauh dari pemukiman warga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alvan's Transmigrasi [End] ✓
DragosteAlvan seorang remaja 18tahun, dengan keahliannya sebagai Hacker handal dengan setatusnya yang menyandang sebagai salah satu sniper terbaik di kalangan organisasinya. Menjelani hidup dengan penuh kekerasan, mengharuskan dia menjadi pribadi yang mandi...
![Alvan's Transmigrasi [End] ✓](https://img.wattpad.com/cover/368203447-64-k679740.jpg)