Part. 26

13.4K 728 18
                                        


Memasukan setiap sendok makan kedalam mulutnya, kini Alvan sedang menyantap makanan lembek dengan suiran ayam yang di pinggir jalan. Kalo tidak salah namanya bubur ayam.

Ia tampak begitu tenang, tidak menghiraukan ucapan orang-orang yang hanya sekedar memesan makanan. Tidak banyak, karena waktu yang masih menunjukan pukul 6.25, dia sengaja berangkat lebih pagi hanya untuk menghindari sapaan kata orang-orang yang di sebut keluarganya itu.

"Ini pak uangnya" ucap alvan mengeluarkan uang pecahan 20rb ke arah penjual, lalu berlenggang pergi menaiki motornya.

Belum sempat Alvan melajukan kendaraannya, satu kendaraan motor sport hitam, dengan pengendaranya yang menggunakan helm full face berenti tepat di depannya.

Alvan hanya menatap datar hingga orang itu datang menghampiri Alvan setelah dia membuka helmnya.

"Hay..." Sapanya yang hanya di balas ekspresi tanpa minat oleh Alvan.

"Ketemu lagi kita, gua mau ngucapin terimakasih sama lo" Alvan hanya mengangguk perlahan lalu memakai helmnya, memundurkan kendaraannya sejenak lalu meleos pergi tanpa ingin tau maksud dari orang itu apa.

Remaja itu yang tersenyum simpul, lalu menyusul Alvan dari belakang.

Sesampainya di parkiran sekolah alvan langsung turun berjalan menuju kelasnya yang masih tampak sepi, hanya segelintir orang yang sudah berada di kelas.

Menundukkan bokongnya perlahan dengan kepala yang menunduk dengan tangan sebagai tumpuan, memejamkan matanya tanpa niat untuk beraktivitas lebih.

"Gua bilang juga apa, seru kan filmnya"

"Iya anjir gak nyangka gua bakal sekocak itu"

"Rekomendasian gua gak akan pernah gagal"

"Untuk kali ini gua iyain"

"Si anjing"

Terlihat tiga orang remaja dengan balutan jaket menutupi seragam mereka, berjalan masuk saling lempar jawaban dengan ocehan-ocehan yang tak tau atas dasar apa

Deza yang tempat duduknya berada di pinggir bangku Alvan menatap heran, ketika dia melihat keberadaan Alvan yang sudah tertidur lelap.

"Berisik, Alvan tidur noh" ucap Deza

"Cape kali" timpal Wisnu dan Rio hanya mengakat kedua bahunya ke atas.

Hingga segerombol anak remaja masuk secara berutal, di iringi dengan seorang guru, berparas cantik dengan tatapan julid, memasuki area kelas dengan tanpa ada suara.

"Bangunin Alvan" ucap Wisnu.

"Lo ajh ah, gak berani gua" Rio.

"Heh Za, bangunin pelajaran udh mau mulai tuh"

"Kok gue? Kenapa gak lo ajh?"

Wisnu memutar bola matanya malas "lo yang paling deket duduknya sama dia"

"Gak berani gua nu"

"Itu yang belakang masih mau ngegibah?" Sarkas sang guru yang bergender wanita itu menatap jengah pada ketiga orang remaja yang hanya membalasnya dengan cengiran.

Sanpai atensinya mengarah kepada Alvan "itu temannya di bangunkan"

Mau tak mau Deza menggoyangkan tangan Alvan membuat sang empu menatap malas ke arahnya "maaf, di suruh bu guru" ucapnya.

Alvan menatap ke arah depan dengan datar, bisa ia lihat bu guru itu menatapnya dengan intens "perhatikan, kita akan memulai pelajarannya"

Alvan hanya mengangguk dan mulai mengeluarkan bukunya ke atas meja.

Alvan's Transmigrasi [End] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang