Part. 70

2.7K 156 11
                                        

Noted : Anyingaseo barudak.. Enjoy reading!!

•••••••

Mobil Lamborgini terparkir tepat di halaman mansion dimana kediaman Bagaskara berada, seorang remaja turun perlahan lalu menutup pintunya segera.

Berjalan lurus menuju pintu utama, Revan remaja itu berjalan tanpa memperdulikan bodyguard yang berjaga di pintu masuk membungkukan tubuhnya hormat.

Wajah datar dengan tubuh tegap, masih berjalan dengan tatapan tajam ke depan.

Sampai ia berada di ruang tamu, melihat keberadaan papa nya yang sedang duduk dengan kaki menyilang, membuka lembaran koran dengan secangkir kopi tepat tersimpan di meja di depannya.

"Papa" mendengar panggilan itu Yuan melipat korannya dan menyimpannya di meja, lalu menoleh menatap putra bungsunya.

Branjak berdiri "kamu gagal Revan?" pernyataan itu mampu membuat Revan bungkam, aura sang papa begitu mengguar membuat dia tertunduk terasa sulit untuk melihat netra sang papa.

"Tatap lawan bicaramu Revan, papa tidak mengajarkan mu untuk menjadi seorang pengecut" Hardiknya.

Revan mengangkat kepalanya, menatap Yuan tenang, ada rasa khawatir di pelupuk matanya, gusar yang berkecamuk dengan pikiran-pikiran ketakutan.

"Maaf pa" hanya kata itu yang mampu Revan ucapkan.

"Bagaimana hasilnya?"

"Alvan koma pa"

Plak!

Satu tamparan mendarat tepat mengenai pipi kiri Revan hingga membuat dia menoleh, bahkan sudut bibirnya sudah mengeluarkan bercak darah akibat tamparan yang begitu kuat.

"Itu hukuman untuk kegagalan mu dalam menjaga dia, bagaimana pun kamu tau begitu arogan dan keras kepalanya dia"

Revan kembali menunduk, kini setetes air mata terjun begitu saja tanpa di minta. Bukan, bukan karena tamparan dari Yuan, dia begitu hafal rasa sakit fisik yang melebihi sebuah tamparan.

Tapi ini tentang Alvan, dia yang menjadi alasan air mata itu jatuh, dia bisa berusaha kuat di depan Leo, tapi tidak di hadapan papanya.

Dia yang merasa paling dewasa di antara mereka bertiga, menuntut dirinya sendiri untuk bisa menangani keras kepala Alvan dan mampu menangani kekanakan Leo.

Tapi kali ini, dia merasa gagal. Gagal dalam menjaga salah satu adik tersayangnya.

"Maaf pa, maaf, maafin Revan, Revan minta maaf" racaunya yang terus berulang kali mengutarakan kata maaf dengan air mata yang meluncur keluar membasahi pipinya.

Ia tahu Alvan terbaring karena dirinya dan ia sadar bahwa kini Alvan kembali berada di ambang kematiaan karena ulahnya. Jika saja, jika saja dia mampu bersikap lebih tegas, mungkin Alvan masih berada di sisinya.

Grep!

Pelukan itu langsung Yuan berikan, bukan semata-mata untuk apa, tapi ia tahu serapuh apa anaknya sekarang.

Anak bungsu yang ia besarkan tanpa kekurangan kasih sayang darinya. Meski di balik sikapnya yang begitu tegas, abai dalam hal apapun, hingga tak segan melenyapkan siapapun yang mengusiknya. Revan memiliki sifat manja, penuh tanggung jawab, bahkan akan menuruti apapun yang di minta oleh orang terkasihnya.

Mengelus pundaknya pelan, Yuan membiarkan Revan menangis dalam pelukannya, meski sang empu terus meracau mengutarakan kekesalannya.

"Harusnya aku lebih tegas untuk melarangnya pa, harusnya aku bisa mengontrol keras kepalanya, harusnya aku tak membiarkannya, maka, maka-"

Alvan's Transmigrasi [End] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang