Part. 51

6.1K 319 5
                                        

Anyingaseo barudak....
Enjoy reading^^


"Bagaimana menurut kalian? Apa kita perlu menyelamatkan dia sekarang?" Tanya Alvan memperlihatkan hasil retasannya yang terdapat rekaman dasar dari kediaman Rahardian.

Menampilkan seorang remaja yang sudah tak berdaya dengan luka yang tak lagi di sebut sedikit, ketika wajah mulus dengan senyuman manis itu di gantikan dengan luka lebam serta darah yang sudah bercucuran.

Alvan dengan wajahnya yang di beberapa titik di berikan plester serta perban di beberpa bagian tubuhnya, dengan raut wajah penuh serius menatap layar monitor laptopnya menunggu pendapat Leo dan Revan yang sekarang berada di kedua sisinya.

"Apapun keputusan lo Van" jawab Revan yang diangguki setuju oleh Leo "dan gua ngikut apapun keputusan kalian" sambung Leo.

Alvan terdiam sejenak, lalu menghadap menatap Leo serius "malam ini bawa dia kehadapan gua, dengan bukan lo yang turun tangan"

Leo mengerutkan dahinya "kenapa engga?"

"Gua tau lo Leo"

Leo menghela nafas sesaat "padahal tinggal buat mereka punah ajh kan sekalian" ucapnya lalu menyenderkan punggungnya di sofa.

"Bukan tugas kita yang harus menyingkirkan mereka, kita hanya perlu memberinya jalan"

"Lo beneran mau buat dia gabung sama kita?" Tanya Revan sesaat.

"Dia punya kemampuan, lumayan kan kalo gua punya asisten?" Jawabnya "gua bukan kalian yang suka mengotori tangan gua sendiri"  lanjutnya santai.

"Tapi sensasinya beda Alvan, kalo dengan tangan lo sendiri" tukas Leo

"Gua bukan pembunuh yah" sarkas Alvan.

"Tapi yang lo lakuin lebih parah dari membunuh" sanggah Leo.

"Tetep ajh gua bukan pembunuh"

"Tcih. Pshico"

"Yang pshico tuh lo Leo, mana ada manusia normal yang suka misahin tubuh orang!!"

"Memang bener yang normal cuman gua disini"

"Lo diam!!" Sarkas Leo dan Alvan bersamaan menatap tajam ke arah Revan yang baru saja mengklaim dirinya normal.

"kompak banget lo pada"

"Ya lo nya tolol, bahkan kita tau siapa yang lebih kaya setan disini" jawab Leo dengan Alvan yang menatap jengah ke arah Revan.

"Kenapa kalian gak terima? Kerjaan gua gak sekotor kalian"

"Tapi dengan bacotan lo bisa bikin mereka bangkrut dan berakhir mati" sanggah Leo.

"Lah lo kan yang bagian ngebunuhnya bukan gua, kecuali kalo ada hama yang kelewat sama lo, baru gua bersihin"

"Tcih!! Picik"

Revan cuman mengangkat kedua bahunya seraya menyenderkan punggungnya dengan sesekali meneguk minumannya dengan hidmat.

Sesaat Revan menatap ke arah Alvan yang kini beralih mengotak-atik laptopnya "Alvan tentang Gevano, apa masih ada rasa iba di hati lo?"

Menghirup napas dalam Alvan mengerti dengan apa yang di tanyakan Revan "lo tau itu bukan gua"

Leo mengangkat alisnya heran "Pemilik tubuh asli berontak?"

"Entahlah, tapi yang gua rasain sesak dan terasa sakit secara bersamaan hingga buat gua gak bisa ngabisin dia"

"Maksud lo?"

Alvan termenung sesaat, hingga pikiran berkecamuk pada saat dia ingin menghabisi kepala keluarga Gevano tersebut.

Alvan's Transmigrasi [End] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang