Pria bertopeng dengan tali sedikit menjuntai kebawah itu berjalan seolah tanpa suara, setiap pijakan dan hawa keberadaanya seakan sirna dan tidak dapat di rasakan maupun di sadari oleh seseorang yang kini berjalan terburu-buru tepat di depannya.
Riyu orang yang kini tengah membuntuti pergerakan seseorang yang tak lain adalah Reynald, perlahan memasangkan sarung tangan ketat nya.
Reynald membuka pintu ruangan dengan fasilitas yang sudah memadai, karena ruangan tersebut yang sudah di claim sebagai miliknya.
Ia masuk ke dalam tanpa menyadari pijakan yang seirama dengannya itu turut masuk ke dalam bersamanya menuju ruangan yang minim dengan cahaya.
Memposisikan dirinya dengan tepat, setelah ia memasangkan perekam suara di kerah bajunya, lalu menekan tombol kecil pada bagian sarung tangannya hingga memperlihatkan seperti pengait jarum-jarum halus yang keluar dari sana, menempelkannya di dinding Riyu berjalan searah ke atas.
"Siapkan pasukan dengan segera, besok kita serang Gevano" ucap Reynald di sebrang telpon "kita tidak punya banyak waktu karena setelahnya kita akan berurusan dengan Shikigami Chameleon" lanjutnya lalu mematikan telponnya dengan sepihak.
Riyu yang berada tepat di atasnya hanya tersenyum miring, tidak tahukah dia, jika dia ingin membunuhnya hari ini juga maka dapat ia lakukan dengan segera.
Namun Riyu harus bisa menahan hasrat itu karena ini demi rencana Alvan yang sudah ia susun, ia tak ingin mengacaukan apa yang seharusnya Alvan selesaikan.
••••••
Di ruangan bernuansa gelap, dengan cahaya terang yang menerangi sekelilinganya, pria yang masih memakai topeng putih polos itu duduk dengan tenang di sofa seingle dengan menumpukan sebelah kakinya, seolah sedang menunggu seseorang yang akan datang menghampirinya.
Ceklek.
Pintu perlahan terbuka, melihat kedatangan pria dengan wajah tegap, pandangan tajam lurus ke depan datang menghampirinya, di susul oleh dua pria lainnya dari belakang.
"Silahkan duduk" ucapnya dengan tenang.
Mereka yang tak lain adalah Kanala, Raka dan Reksa duduk berhadapan dengan pria bertopeng putih polos itu.
"Apa yang akan anda bicarakan dengan kami?" Kana bertanya mengawali.
"Tinggalkan mansion itu malam ini juga" Ars menjawab namun malah mengundang tatapan penuh tanya dari mereka.
"Maksud anda apa berbicara seperti itu? Anda berniat mengusir kami dari kediaman kami sendiri?" sarkas Reksa dengan tatapan penuh amarah ke arahnya.
"Saya hanya memperingatkan kalian, jika kalian masih ingin hidup"
"Apa anda pikir saya takut? Anda mengancam kami seolah-olah kami tak bisa menangani apapun?" Reksa kembali menimpali, menatap nyalang ke arah Ars "jangan pernah meremehkan kami. Sialan!!"
Ars menatap tanpa minat, ini yang membuat dia malas, perdebatan yang tak berguna baginya.
"Saya tidak meragukan kemampuan anda, jika itu untuk kemenangan anda sendiri" jawabnya "tapi apa anda mampu melindungi seluruh keluarga anda?" lanjutnya dengan intonasi tenang namun penuh penekanan.
"Maksud anda tuan Ars?" Kini Raka yang bertanya.
"Saya hanya memperingatkan, jika kalian tidak menyuruh keluarga kalian meninggalkan mansion itu dengan segera, saya pastikan seluruh penghuni disana akan mati"
Brak!!
Gebrakan meja terdengar nyaring, kala Reksa menatap penuh permusuhan ke arahnya, dengan jari telunjuk yang ia arahkan ke arahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alvan's Transmigrasi [End] ✓
RomanceAlvan seorang remaja 18tahun, dengan keahliannya sebagai Hacker handal dengan setatusnya yang menyandang sebagai salah satu sniper terbaik di kalangan organisasinya. Menjelani hidup dengan penuh kekerasan, mengharuskan dia menjadi pribadi yang mandi...
![Alvan's Transmigrasi [End] ✓](https://img.wattpad.com/cover/368203447-64-k679740.jpg)