Terdiam sesaat mendengar panggilan dari Gino, namun setelahnya dia mengabaikan hal itu, dan membiarkan Gino berspekulasi sendiri.
Kembali melangkahkan kakinya, membantu Arkan yang sedang terpojok.
Srett!!
Duaght!!
Brakht!!
Satu tebasan tepat mengenai punggung musuh, di akhir dengan tendangan menyamping, hingga membuat musuhnya ambrug tak sadarkan diri.
"Terimakasih" Ars hanya mengacuhkan kata itu dan lebih memilih mengabaikannya.
Menoleh pada pertarungan Renhard, yang masih terlihat seimbang, lalu ke arah Kana yang mulai dalam tahap unggul, lalu melirik ke arah Reksa yang sudah hampir menyelsaikannya juga.
Ini sesuai perkiraannya, dimana kehadirannya dapat membuat Gevano unggul, dengan musuh yang hanya tinggal beberapa.
Kilatan tajam itu langsung tertuju pada Renhard, tanpa menunggu lama dia berlari ke arah Renhard dan langsung menyeret kerah bajunya
Hap!!
Sret!
Dor!!
Trang!!
Tepat. Tembakan itu dapat di hindari dan mengenai lantai.
Uhuk!! Uhuk!!
Suara batuk terdengar kentara, Renhard mengusap pelan lehernya karena merasa tercekik "tidak bisakah kamu menarik saya dengan lebih lembut?"
"Itu lebih baik, daripada mati konyol" sarkasnya.
Menghela nafas sesaat, hingga ia merasakan hawa kebaradaan yang tak asing darinya, dan membuat dia menatap lekat ke arah Ars.
"Pesona ku memang tinggi, dan aku tak berselera dengan pria tua bau tanah" sarkasnya dan itu perlahan membuat Renhard sedikit menjauh.
"Kamu tidak membawa cucuku dalam pertempuran kan?" tanyanya.
"Aku tak segila itu untuk membiarkan adikku berada di tempat menjijikan seperti ini"
Merasa sedikit lega, Renhard kembali menatap ke depan mengenyahkan perasaan samar miliknya "Tolong jaga cucuku dengan baik"
"Apa itu permintaan terakhir?"
"Kamu seperti tidak akan mati saja" mendengar hal itu Ars tersenyum miring "Aku tak selemah dirimu" balasnya datar.
"Kau memang seperti yang di rumorkan" ucapnya dengan jeda "begitu arogan"
"Sekedar menyingkirkan hama apa sulitnya?" Renhard kembali menoleh ke arah Ars hingga mata mereka saling bertemu "jangan biarkan ke angkuhan mu itu malah menjadi jalan tercepatmu menuju akhirat"
Ars tersenyum kecil "aku tidak takut kematian, karena aku pernah merasakannya juga" ucapnya yang malah membuat Renhard mengerutkan alisnya bingung.
"Dan untuk itu, saudaraku pernah bilang, bahwa setiap jawaban tentang kehidupan itu hanyalah takdir" seulas senyum terbit dari belahan bibirnya, dia mengingat terakhir kali perdebatan mereka di kelas.
Dan itu malah menjadi percakapan terakhir dia bersama kedua saudaranya dengan raganya sendiri "bahkan mereka mengklaim, bahwa setiap persoalan akan lebih mudah jika di berikan jawaban takdir. Konyol bukan? Tapi sampai sekarang saya mempercayai hal itu" lanjutnya.
Hingga tatapannya mengarah pada pojok sudut mansion dengan cahaya remang, hingga seulas senyum ia pancarkan, seakan tau disana ada siapa.
Namun nyatanya seseorang yang bertumpu di atas pojok sudut mansion itu membalas senyumannya "lo masih mengingatnya ya, dan bahkan menjadikannya filosopi hidup lo sekarang?" racaunya "kenapa perdabatan konyol kita selalu menjadikannya bermakna?" lanjutnya kala ia mengingat kembali bagaimana pertemuan pertama mereka bisa terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alvan's Transmigrasi [End] ✓
RomansAlvan seorang remaja 18tahun, dengan keahliannya sebagai Hacker handal dengan setatusnya yang menyandang sebagai salah satu sniper terbaik di kalangan organisasinya. Menjelani hidup dengan penuh kekerasan, mengharuskan dia menjadi pribadi yang mandi...
![Alvan's Transmigrasi [End] ✓](https://img.wattpad.com/cover/368203447-64-k679740.jpg)