Di pagi ini Alvan ikut sarapan bersama mereka, atas paksaan Lista yang membuatnya tidak tega jika harus menolak, apalagi ketika melihat wajah sang Bunda yang begitu antusias mengharapakan kehadiran Alvan untuk ikut serta.
Karena bagaimanapun di ingatan Alvan, Lista adalah sosok yang begitu baik dan selalu menjadi ibu bagi Alvan untuk sekedar melepas rasa rindunya.
"Bang Raka" panggil Alvan sesaat membuat Raka yang berada di sampingnya pun menoleh dengan raut tanya "hm kenapa?"
"Bisa abang yang mengantarku kesekolah?" Ucapnya yang sontak perkataan Alvan itu membuat seisi meja terdiam hingga semua mata tertuju pada kaduanya.
Di karenakan ini adalah untuk kali pertamanya Alvan meminta Raka untuk mengantarnya kesekolah.
Meskipun ada terbesit rasa iri dari salah satu penghuni meja makan tersebut, bahkan pandangannya tak luput dari interaksi Alvan dan Raka sedari tadi.
"Tentu" jawabnya cepat. Meskipun dalam benaknya ingin menanyakan, kenapa? Dan apa ada masalah dengan kendaraannya? Tapi urung untuk ia tanyakan, mengiyakan permintaan Alvan jauh lebih penting karena takutnya ia bisa berunah pikiran. Begitulah pikir Raka.
"Apa aku juga boleh ikut dengan bang Raka?" Kini Eri ikut bicara.
Raka yang seakan tuli, lebih memilih diam dan kembali menyantap makanannya dengan hidmat.
"Bang Raka apa boleh Eri ikut juga?" Tanyanya lagi.
Namun bukannya menggubris ucapannya, Raka lebih memilih untuk tidak menghiraukannya.
"Bang ish... Kok malah di cuekin sih?!" Rengek Eri hingga membuat beberapa pasang mata tertuju pada Raka.
"Abang Erii may ikut abang juga iihhh" rengeknya lagi, namun hanya keheningan yang mereka dapat.
"Raka, apa kamu tuli?" Tanya Gino dengan sedikit penekanan, karena ia yang sudah merasa geram atas sikap Raka kepada Eri yang sudah ia anggap bungsunya sendiri.
Raka menatap tajam ke arah Gino "jangan mengaturku" jawabnya lalu berbalik menatap Alvan "apa sudah selasai Al?" Alvan hanya menjawab dengan sedikit anggukan.
Beranjak dari duduknya "Al kita berangkat sekarang" ucap Raka dan berlalu pergi di susul oleh Alvan dari belakang.
Gino yang merasa di abaikan menatap tak suka ke arah Raka yang sudah pergi menjauh.
"Anak itu.!!" Geram Gino
"Sudahlah, seperti kau tidak saja" ucap Arka dengan santainya.
Gino menatap sinis ke arah Arka "Apa maksud abang?"
Dan yang di tanya malah lebih memilih mengabaikan lalu kembali menatap anak-anaknya "cepat selesaikan sarapan kalian sebelum kalian kesiangan" perintahnya yang membuat beberapa dari mereka mengangguk mengerti.
Namun berbeda dengan Eri yang kini malah terlihat murung "Apa bang Raka membenci Eri?" Tanya Eri sendu sembari memainkan makanannya.
"Sudahlah tidak apa, bang Raka kan memang seperti itu, bahkan dengan yang lain pun bang Raka sering mengabaikannya kan?" ucap Laksa menenangkan.
"Tapi lihat dengan bang Alvan, bang Raka bersikap baik dengan dia tapi kenapa dengan Eri tidak" jawabnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Sudah-sudah mungkin bang Raka sudah terhasut dengan anak sialan itu, jadi kalo sampai suatu saat nanti dia mendapatkan kesialan dari anak itu dia tidak akan bisa menyalahkan kita, karena kita sudah berusaha mengingatkan nya" jelas Reksa dengan tatapan senis ketika dia menyebutkan nama Alvan.
"Jaga bicara abang" ucap Dion yang merasa tak suka dengan penjelasan Reksa.
"Apa maksud kamu?!"
"Jaga bucara abang tentang Alvan, dia bukanlah pembawa sial.!!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Alvan's Transmigrasi [End] ✓
RomanceAlvan seorang remaja 18tahun, dengan keahliannya sebagai Hacker handal dengan setatusnya yang menyandang sebagai salah satu sniper terbaik di kalangan organisasinya. Menjelani hidup dengan penuh kekerasan, mengharuskan dia menjadi pribadi yang mandi...
![Alvan's Transmigrasi [End] ✓](https://img.wattpad.com/cover/368203447-64-k679740.jpg)