Ketiga remaja itu kini berjalan beriringan setelah keluar dari pintu lift, dengan seragam yang masih berantakan.
"Gara-gara lo Leo kita telat sialan!!" sungut Revan seraya memasukan kemeja seragamnya.
"Lah kok gua? Tuh Alvan yang malah molor di toilet" balasnya sembari merapikan sabuknya.
"Lagian heran gua sama kalian, punya kamar masing-masing yang di sediain kamar mandi malah nungguin gua disana" balasnya dengan sedikit merapikan dasinya.
Ocehan mereka masih terus berlanjut dengan Yuan yang memperhatikan mereka di meja makan.
Sedikit menyunggingkan senyum karena sikap ketiga anaknya itu ternyata tidak ada yang berubah, setelah berita pahit yang sempat ia alami, kini bisa kembali seperti semula lagi.
Meskipun persediaan mereka yang memang sudah di lengkapi oleh Yuan, karena bagaimnapun Yuan merupakan sosok orang tua yang sangat peka atas kebutuhan anak-anaknya.
Walaupun perdebatan kecil selalu terjadi di antara ketiganya.
"Pah kita berangkat langsung yah" pamit Revan yang di hadiahi tatapan datar dari Yuan.
"Sarapan dulu"
"Ini udah mau telat pah, nanti kalo gerbangnya udh di tutup gimana?" Leo menimpali.
"Tinggal kalian tabrak saja, lagian bull doser papah ada tiga masih nganggur di kontruksi jika kalian perlu"
Mereka menatap takjub atas apa yang Yuan ucapkan "papah serius?" Leo bicara.
"Apapaun selama kalian tidak melewatkan sarapan kalian"
"kalo kami masih tetap tidak mau?" Tanya Alvan menantang.
"Kehilangan tangan atau kaki? Kalian tinggal pilih saja" jawabnya enteng.
"Ih ngeri kali lah bapak-bapak satu ini" timpal Revan yang langsung mendudukan dirinya.
"Yaya, lebih baik untuk kali ini kita menurutinya pemirsah" balas Leo sembari mendudukan dirinya di kurai
Alvan menarik kurainya seraya duduk nengikuti "sebelum peradaban ini hancur tak bersisa" lanjutnya.
"Hahhhh~ padahal niat papah baik, agar membuat kalian selalu terjaga kesehatannya, begini banget punya anak gak tau diri semua, bukannya berterimkasih malah ngeroasting" ucap Yuan sendu.
"Gak usah drama deh pah" balas Revan sembari mengambil roti dan melapisinya dengan selai coklat.
"Papah menjadi seekor korban film" timpal Leo dengan menuangkan susu di atas mangkok serealnya.
"Lo pikir papa apa? Sampe lo bilang seekor, dasar anak durhaka lo?" sungut Alvan sembari memakan sandwich nya pelan.
"Ya papa papa ajh, jadi seekor papah, apa salahnya?" sungut Leo
"Dasar anak durhaka, seekor itu untuk hewan" balas Alvan
Leo mengertnyit bingung "terus apa?"
"Apa yah.. Eumm sebuah, harusnya sebuah papah" jawab Alvan sembari megangguk angguk kepalanya.
"Bego lo semua, seekor buat hewan, sebuah untuk benda ini untuk orang, harusnya seorang papah" jelas Revan.
"Ouuhh..." Alvan hanya berohh ria dengan sedikit anggukan.
Leo hanya mengetuk dagunya seraya berpikir "bener juga"
"Dahlah malas gua ngomong sama posil" balas Revan yang kembali fokus dengan makanannya.
Sedangkan Yuan hanya menggelengkan kepalanya lelah.
"Habiskan makanan kalian, dan segeralah pergi darihadapanku" ucapnya malas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alvan's Transmigrasi [End] ✓
RomanceAlvan seorang remaja 18tahun, dengan keahliannya sebagai Hacker handal dengan setatusnya yang menyandang sebagai salah satu sniper terbaik di kalangan organisasinya. Menjelani hidup dengan penuh kekerasan, mengharuskan dia menjadi pribadi yang mandi...
![Alvan's Transmigrasi [End] ✓](https://img.wattpad.com/cover/368203447-64-k679740.jpg)