Part. 43

9.8K 571 18
                                        


Satu mobil mewah berwarna silver baru saja berhenti tepat di depan rumah dua tingkat, hingga salah satu pria keluar dari pintu pengemudi dengan sedikit berlari ia membukakan pintu mobil belakang yang nampak seorang pria paruh baya dengan stelan jas hitam rapih.

Terlihat kesan tegas penuh wibawa yang begitu berkharisma keluar dengan sedikit merapihkan jasnya.

Berjalan masuk ke arah pintu tersebut tanpa membirakan salam atau pun sapa terlebih dulu.

Di dampingi dua bodyguard dan satu yang terlihat seperti asistennya. Memandang lurus hingga langkahnya terhenti kala ketiga remaja yang sedang bercengkrama dengan beberpa botol soda bersitatap dengannya.

Ketiga remaja itu yang tak lain adalah Revan, Alvan dan Leo, mereka beranjak menatap terkejut ke arah pria paruh baya tersebut.

"Papa" ucap Revan namun di hiraukan oleh orang yang di sebut papa itu yang tak lain adalah kepala keluarga Bagaskara.

Dengan nama Yuandino Bagaskara, yang memimpin dunia bawah atau yang bisa di sebut dengan 'mafia', serta orang yang tidak ingin menduduki menjadi orang nomor satu, karena baginya ia hanya menjalani hidup sebagai mana mestinya.

Tidak ingin menuntut atau apapun yang bisa merepotkan dirinya sendiri yang penting baginya ia merasa nyaman dan bahagia dengan apa yang ia jalani saat ini.

Meski begitu tak di pungkiri ia merupakan orang yang paling berpengaruh, dimana dan siapa yang berani melawannya maka ia akan mendapati sesuatu yang menurutnya stimpal, dimana ia menyebutnya dengan 'hadiah'

Atmosfer di dalam ruangan itu menjadi dingin, dengan aura mendominasi yang ia pancarkan, membuat ketiga remaja itu menatap segan.

Yuan berjalan ke arah Alvan dengan tatapan tajamnya "siapa?"

"Dia-" namun ucapan Leo terhenti kala Yuan menatapnya dengan tajam yang mengisyaratkan dia untuk diam.

Yuan kembali menatap Alvan dengan dingin "siapa?"

"Alvandy Arrsyan" jawabnya dengan tegas bahkan tak ada keraguan dalam intonasi nya.

"Siapa yang mengijinkan mu menggantikan posisi anakku?"

"Aku tidak mengantikan posisi siapapun yang memang hanya aku pemiliknya"

Grep.!!

Yuan mencengkram leher Alvan erat, namun tak membuat Alvan gentar, ia masih menatapnya dengan arogan.

"Lancang, kamu tau apa yang kamu ucapkan?"

"Y-ya a-aku tau" jawab Alvan terbata-bata karena menahan sesak yang mulai ia rasakan karena tekanan Yuan yang tak main-main.

"Berani kami memainkan saya?"

"Pa. Ta-tapi api aku Alvan"

Brakk.!!

Tubuh Alvan terhempas ketika Yuan mendorongnya dengan keras membuat dia terpental membentur tembok.

Namun itu tidak membuat Alvan takut, dia malah lebih menampilkan tatapan arogannya, bahkan terlihat tatapan tak mau kalah itu terlihat disana.

"Jangan berkata seolah kamu adalah putra saya, karena saya sendiri yang masuk untuk menguburkan jasadnya, dan kamu berani mengatas namakan putra saya?" Ucapnya dengan jeda lalu kembali mencengkram rahang Alvan dengan kuat "ingin mati?"

"Pah tapi dia beneran Alvan" sela Revan dan itu membuat Yuan melepaskan cengkeramannya lalu berbalik arah menatap Revan.

Berjalan ke arahnya dengan tajam hingga

Alvan's Transmigrasi [End] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang