Setelah melihat senyum Sagara sebelum lelaki itu masuk ke dalam taksi daring, Biru tidak bisa tidur. Makan pun rasanya gak enak, semalaman terbayang bagaimana Sagara bicara, bagaimana Sagara merintih kesakitan waktu dicekik mantan pacarnya, terbayang juga Sagara dengan santainya menyesap kopi lalu memperbaiki letak kacamata. Pikirannya penuh dengan Sagara.
Masa gue jadi gay?
Lelaki itu berjalan tergesa, buru-buru ingin menemui sahabatnya. Dilihat, tidak hanya Kastara yang menunggu, ada Rega juga.
"Kok ada dia," protes Biru.
"Njing, kalian main rahasia rahasiaan ya?" Rega protes, terlebih saat Biru bertanya mengapa dirinya ikut. Rega sebenarnya gak ada masalah, dia mau pulang, tapi tiba-tiba Kastara aneh, mencurigakan dan tidak mau diikuti Rega setelah didesak ternyata Kastara diminta Biru untuk datang ke Kopi Lumbung. Cafe dekat kampus.
"Enggak, Ga, bukan gitu maksud gue. Tapi ...."
"Udah gak mau nganggap gue temen?" Sambar Rega.
"Sumpah ya, Ga, bukan gitu. Ya oke, Lo boleh di sini, boleh denger apa yang mau gue tanyakan sama Kastara tapi gue mohon jangan ketawa. Gue gak ngajak Lo karena malu, gue takut Lo ketawa terus ngejekin gue."
"Gue ada tampang pembuli emang?" tanya Rega.
Kastara menengahi, untung juga pramusaji membawa pesanan mereka. Seperti biasa makanan ringan, waffle, cake, dan kentang goreng. Minumannya pun minuman yang cukup mahal. Biru tahu, siapa yang memesan.
"Iya sory," ucap Biru. Wajahnya memerah, panas sih, tapi bukan karena cuacanya yang gerah. Sampai umur 21 sekarang , sampai kuliah semester 6 dan hampir lulus Biru sama sekali belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Biru gak berani bilang ini jatuh cinta atau bukan, yang pasti kata tok Dalang pas Rembo gak pulang-pulang gejala jatuh cinta ya sama persis. Makan tak enak, tidur tak pulas.
"Mau minjem duit?" tanya Rega.
"Bukan," bisik Biru. Dia merasa seperti sedang disidang ayahnya sendiri.
"Mau ngomongin masalah Magang di kantor cowok gue?" tanya Kastara.
"Njir bukan! Gini kalian jangan ketawa, ya?"
"Kalau ada yang lucu ya ketawa, lah, gila aja dilarang ketawa."
Biru berdebar, kalau jatuh cinta sama adik tingkat atau cewek jurusan lain sih dia gak perlu bilang sampai setakut ini. Tapi ini ...
"Ru, Lo mau ngomong atau enggak?"
"Oke, gini, Kas, pas Lo jatuh cinta Lo gimana rasanya?"
"Gak nyadar sih, tau tau rasanya kaya kehilangan aja gitu pas dia gak ada. Lo jatuh cinta?"
Biru gak bisa memastikan itu jatuh cinta atau bukan. Dia lalu cerita semuanya pada dua sahabat di depannya. Tidak ada yang dia sembunyikan termasuk identitas orang itu. Rega mengerti mengapa Biru berkali-kali bilang jangan ketawa, dia ngerti, jatuh cinta pada sesama lelaki merupakan hal yang tak biasa.
"Mungkin Lo seneng karena Pak Saga bantu bayar tagihan. Bukan jatuh cinta, seneng lebih ke apa ya pokoknya Lo ngerasa ada utang Budi gitu." Kastara masuk akal juga sih, membuat Biru termenung.
"Gini aja, kalau posisinya Pak Saga bukan Gay, lo gak bakalan kaya gini, jadi lebih ke, Lo udah tau dia gay, Lo ada utang Budi, Lo kepikiran trus nyimpulin kalau Lo jatuh cinta. Cinta enggak sesederhana itu, Bro." Kali ini Rega yang bicara. Biru hanya bisa pasrah lagi-lagi semuanya dipatahkan oleh kedua sahabatnya.
"Gue kebayang terus senyum Pak Saga," keluh Biru. Memang iya, apalagi pas Sagara manggil nama Biru tanpa embel-embel Mas atau Dek. Biru serasa nama yang pas di bibir Sagara.
KAMU SEDANG MEMBACA
SAGARA BIRU [END]
RomansaTakdir selalu tidak terduga. Luka Sagara berganti tawa karena Biru. Takut Sagara sirna bersama Biru. Biru bukan sekadar anak mahasiswa berusia 21 tahun. Lebih dari itu, Biru adalah segalanya bagi Sagara. (21+) Semoga kalian bijak memilih bacaan.
![SAGARA BIRU [END]](https://img.wattpad.com/cover/366338007-64-k62414.jpg)