Sidang peninjauan kembali terhadap kasus yang dialami oleh Darius memang tidak bisa membuat lelaki itu bebas dari hukuman sepenuhnya. Tetapi setidaknya Darius mendapatkan pengurangan masa tahanan. Biru dan Jingga senang dengan putusan Mahkamah Agung.
Sagara dan kedua orangtuanya juga, berbeda dengan Anita yang harus menelan pil pahit, Wasman, ayahnya terpaksa harus mendekam di penjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Di antara tiga orang sahabat itu semuanya bersalah, dan sekarang mereka harus memetik semua kesalahan yang mereka perbuat.
Begitu pun dengan Adrian Jatmika. Dia tidak terlibat sepenuhnya, tetapi dia bersalah karena membiarkan Wasman melakukan kejahatan itu. Dia lari dan angkat tangan karena takut terseret dan dipenjara seperti Darius.
Adrian kini menerima hukumannya, dia menderita dan harus menghabiskan masa tua dengan sakit berkepanjangan.
Biru benar-benar menunda pernikahannya sampai Ayahnya benar-benar keluar dari penjara. Toh tanpa menikah pun Sagara dan Biru sudah serumah.
"Udah belum, telat nanti," ujar Sagara. Dia melihat sang kekasih mematut diri di cermin. Mengenakan setelan jas serasi dengan Sagara. Bukaan, bukan mau menikah.
Setelah berjuang dan menjalani seluruh kesibukan kini Biru harus mendapatkan hadiah berupa kelulusan. Dia diwisuda.
Selain Jingga dan Sagara, Adrian Jatmika dan istrinya turut hadir menjadi pendamping Biru. Pengganti kedua orangtuanya yang tidak bisa. Mendampingi Biru di hari bahagianya.
"Aku mau minta hadiah," celetuk Biru.
"Lah, wisuda aja belum. Nantilah, selesai acara aku kasih hadiah."
"Males ah, paling juga nanti kamu ngasih buku lagi. Ga ada hadiah yang keren gitu, buku mah bukan hadiah jatuhnya."
Sagara senyum, lalu mengecup pipi Biru. Senang sekali mengecupi pipi Biru. Wanginya enak, pipinya juga kenyal.
Kali ini Biru membalasnya. Lalu melumat bibir merah Sagara. Menikmati manisnya bibir ranum yang selalu lembut dan kemerahan itu. Lidahnya merangsek masuk, bergelut dengan lidah kekasihnya, saling membelai, mengecap manis dengan aroma pasta gigi yang segar dan samar. Apalagi Sagara bukan perokok, rasa bibir dan mulutnya begitu manis memabukkan.
"Sagara, quickie yuk!"
"Jangan gila. Udah Serapi ini masih aja mikirin selangkangan. Ayo turun mama papa udah kelamaan nunggu."
Biru cemberut, meminta kekasihnya untuk turun lebih dulu. Sementara itu dia menunjukkan selangkangan yang sudah berdiri tegak dan sesak di balik celana yang dia kenakan.
Sampai di kampus semua sudah berkumpul di aula. Meski Biru tidak didampingi orangtua kandungnya, dia cukup senang karena diwakilkan oleh Adrian Jatmika. Meski harus dibantu dengan kursi roda. Lelaki tua itu bersikukuh ingin melihat Biru diwisuda.
Tidak ada foto studio, Biru ingin menunggu ayahnya. Mereka hanya berfoto depan aula. Difotoin sama sopir mereka. Biru, Jingga, Sagara dan kedua orangtuanya. Mereka tersenyum bahagia, melimpahkan ucapan selamat dan penghargaan untuk perjuangan Biru.
"Jangan lupa makan malam di rumah ya, semua nanti kumpul. Aksa dan istrinya, Niscala juga. Jingga ikut pulang sama mama lagi, ya," ucap Mama Sagara, kini Jingga dan Biru memanggilnya mama, tidak lagi Tante. Membuat bonding mereka semakin erat.
"Iya, Ma. Ngga, pulang aja dulu. Aku mau ketemuan sama Bunda, Sagara ikut gak?"
Sagara berpikir sejenak lalu menggeleng, "aku antar aja sampai sana, kalau udah selesai nanti jemput. Biar ada quality time sama temanmu."
"Okeeee. Eh eh Rega, tuh. Regaaaa!"
Biru berlarian, dia menubruk tubuh Rega dan keduanya berpelukan. Akhirnya perjuangan panjang mereka berakhir.
KAMU SEDANG MEMBACA
SAGARA BIRU [END]
RomanceTakdir selalu tidak terduga. Luka Sagara berganti tawa karena Biru. Takut Sagara sirna bersama Biru. Biru bukan sekadar anak mahasiswa berusia 21 tahun. Lebih dari itu, Biru adalah segalanya bagi Sagara. (21+) Semoga kalian bijak memilih bacaan.
![SAGARA BIRU [END]](https://img.wattpad.com/cover/366338007-64-k62414.jpg)