Chapter 32

1.7K 118 15
                                        

Biru pernah mendengar dari seseorang, satu-satunya cara untuk menghilangkan rasa sakit hati adalah tidur 24 jam atau bekerja 24 jam. Jangan berikan celah kepada hati untuk meratapi.

Dan lelaki itu memilih opsi kedua. Tidur hanya membuka celah untuk melamun, meratapi dan menyakiti hati. Maka bekerja adalah salah satu cara yang bisa dia lakukan. Bukan bekerja mencari uang melainkan menggarap skripsi.

Siang bimbingan, malam ngetik. Melakukan penelitian dan terus dia kerjakan tanpa henti. Jika jenuh dia akan bersihkan rumah, mencuci motor apa saja dia lakukan selama badannya terus bergerak.

Sampai pada suatu malam, saat dia sedang merampungkan skripsinya, tubuhnya kembali protes. Ada alarm yang menyatakan bahwa Biru terlalu keras bekerja.

Tidak ada waktu untuk sakit, Biru meminum obat tidur agar tidak ada kesempatan melamun sebelum tidur. Dia tidur semalaman lalu bangun dan terus bekerja.

Menjelang sidang skripsi, Biru nyaris tidak bisa bangun dari tempat tidur. Perutnya sakit, bukan hanya perut, tapi menjalar ke saluran kencingnya.

"Aa, ke kampus kan?"

Jingga mendekati Biru yang tidur di lantai. Iya kalian tidak salah baca, Biru tidak sekali pun tidur di kamar, Biru tidak sanggup membayangkan kenangan bersama Sagara di kamar itu. Kalaupun harus tidur di sana ya sama Sagara.

Kalaupun hubungannya tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi, ya selamanya Biru akan tidur di depan tv. Tidak apa-apa tidak punya kamar.

"Iya jadwal sidangnya jam 9an. Ngga, masakin air dong, Aa agak meriang kalau mandi pake air dingin."

"Udah, kok, soalnya tadi subuh Aa menggigil. Jadi aku inisiatif masak air sama udah siapin susu jahe juga biar perutnya hangat. Aa gugup ya mau sidang?"

"Banget. Gak sabar juga ini pengen beneran lulus."

"Aa mau aku datang terus ngasih bunga kaya orang-orang?" tanya Bungsu.

"Gabut amat, gak usahlah. Kamu sekolah aja yang bener. Gak boleh bolos."

Biru bangun, melipat selimutnya merapikan bantal dan kasur tipis yang dia beli di car free day. Masuk kamar mandi, perasaan dingin dengan suasana seperti saat sakit kemarin dia rasakan kembali. Bedanya, Biru tidak lemas atau pusing. Hanya dingin dan sakit di perut bawah.

Rasa sakit pada perutnya semakin menjadi saat dia buang air Kecil. Disertai sakit pada ujung kemaluan, lalu pada tetesan terakhir air pipisnya berubah warna menjadi pink, lalu darah segar keluar dari kemaluannya. Biru shock.

"Anjing, kok berdarah, masa iya gue haid." Biru mengumpat melihat lubang kloset yang berubah merah dengan darahnya.

Buru-buru Biru menekan tombol flush dan mandi. Berusaha mengabaikan ketakutannya.

Di kampus, Biru lebih banyak diam. Tidak ada yang bertanya toh semuanya pun sama tegangnya dengan Biru. Rega dan Kastara yang sudah duluan sidang dan sedang menunggu proses Yudisium kini datang mendukung Biru.

"Pucet amat, Ru. Enggak sakit, kan?" Rega yang duluan sadar dengan keadaan Biru.

"Grogi anjir, kemarin pas kalian sidang gini juga gak sih?"

"Ya semua orang sama, lihat tuh si Yose," tunjuk Kastara pada cowok berkulit putih yang terlihat semakin putih persis mayat.

"Gue takut gak lulus," ungkap Biru.

"Palingan suruh revisi dikit, atau malah lolos. Lo kerjainnya juga udah kaya robot buatan Jepang aja."

"Habis gue sidang, antar ke toilet ya. Ada yang mau gue tunjukin."

SAGARA BIRU [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang