Chapter 13

2.1K 140 9
                                        

Jingga membawa kotak bekas kertas HVS ketika Biru baru saja sampai rumah. Dia simpan kotaknya di meja lalu berjalan tergesa menuju dapur untuk mengambil sebotol air dingin untuk Biru.

Pertengkaran yang terjadi kemarin seolah menguap setelah Biru mengganti kue ulangtahun ayahnya. Sayangnya Biru tidak bisa mengantarkan Jingga karena harus membantu Sagara di rumah sewa yang baru.

"Aa beli apa?" tanya Jingga.

"Beli motor," jawab Biru, dia tunjukkan kunci motor barunya, helm bawaan motor, satu helm pink yang lucu buat Jingga dan satu helm berwarna hijau army untuk Sagara.

"Yeuu, bukan, maksudnya beli apa buat makan?"

"Ah, bentar," Sagara berlari keluar rumah, mengambil bungkusan yang menggantung di motornya.

"Gepuk pak Kumis, gak apa-apa, kan?"

"Ya udah, sih," jawab Jingga. "Makan sekarang?"

"Ini buat kamu aja, Aa udah makan di rumah Sagara."

Jingga senyum, pipinya merah merona, entah kenapa rasanya senang sekali ada couple nyata di hadapannya. Dia mengangguk lalu pergi ke dapur menyimpan gepuknya.  Biar nanti Jingga makan jika benar-benar lapar.

Biru sendiri melihat kotak HVS itu sekilas, dia mengira itu buku bekas atau apalah yang akan dibuang Jingga. Dia tidak begitu peduli. Biru merebahkan tubuhnya di sofa dan memikirkan perkataan Sagara sebelum dia pulang ke rumah.

"Uangnya kamu tabung aja dulu, jangan buru-buru mikir mau buka usaha," usul Sagara ketika baru pulang membeli motor sebagai kendaraan Biru yang baru.

"Aku butuh makan, Jingga butuh uang sekolah, UKTku juga kudu dibayar. Kalau gak buka usaha darimana? Uang segini lama-lama bisa habis."

"Simpan aja dulu, nurut deh, sama orang tua. Kamu konsen aja ngadepin magang dan tugas akhir, sisa uang masih bisa dipake buat bayar UKT sama uang sekolah Jingga. Buat makan ada aku, kamu tenang aja." Sagara memang berpikir panjang, jika buka usaha, siapa yang mau mengelola sementara Biru sibuk kuliah dan Jingga sekolah. Biru yang masih muda malah menggebu ingin buka cafe ala-ala atau warmindo plus tempat nongkrong anak muda.

"Di sini udah banyak tempat begitu, Ru. Yang udah-udah juga usahanya gak sampe setahun udah tutup. Jatuhnya buang-buang uang yang dipake modal. Mending fokus beresin kuliah, abis itu cari kerja di perusahaan yang bener."

Sampai berada di rumah, Biru masih tetap memikirkan usulan Sagara ini. Meski sebenarnya Biru mengakui, dia bakalan keluar banyak uang untuk hire orang.

"A, Jingga mau ngomong," ucap Jingga, membuyarkan lamunan Biru. Buru-buru dia duduk tegak. Perihal hubungannya dengan Sagara ternyata Jingga tidak masalah. Dia bahkan sudah tahu hal seperti ini sebelumnya.

"Masalah Aa?" tanya Biru.

"Di antaranya."

"Gak ada yang perlu di bahas, sih, kamu juga udah dengar semuanya dari Sagara. Kita cuma minta dirahasiakan aja, jangan sampai orang tahu apalagi teman-teman kamu di sekolah."

Jingga mengangguk, dia duduk bersimpuh depan meja. Kotak bekas HVS itu dia turunkan dan penutup atasnya dibuka. Sudah saatnya Biru tahu rahasia yang selama ini Jingga simpan.

"Jingga tau masalah beginian tuh gara-garanya gak sengaja bawa komik  Katia ke rumah. Jingga kira komik biasa tapi ternyata yang begitu, awalnya geli, masa cowok sama cowok. Tapi lama kelamaan penasaran juga, A. Kisah cinta Yaoi ini banyak banget konfliknya, banyak gregetnya. Akhirnya nyari sendiri, gak ngomong juga ke Katia karena malu. Jingga masuk base di X. Ya gitu, deh. Sampe akhirnya ini jadi ladang bisnis aku."

Jingga mengeluarkan banyak benda dari kotak itu. Foto polaroid pasangan Gay yang entah siapa ada di sana.

"Ini apa?"

"Ini couple-couple yang banyak disukai para Fujo, A. Nah, aku punya teman yang suka ngasih link foto-foto langka gitu. Link jastip murah juga, trus aku jualin lagi. Sama cetak-cetak polaroid gini sih aku ambil foto dari sosmed mereka." Jingga menjelaskan satu per satu. Mulai dari foto, totebag dengan foto couple gay. Biru tak habis pikir, orang gila mana yang rela pakai Tote bag couple gay?

"Ini ada yang beli?"

Jingga tidak menjawab, dia malah menyodorkan buku tabungan yang sudah di print out. Jumlahnya banyak, bahkan bisa menutupi biaya sekolah Jingga yang kemarin nunggak.

"Ini?"

"Iya, itu masih campur sama modal, A. Ada DP punya orang juga yang buat PO foto terbaru couple ini."

"Kamu punya uang sebanyak ini dan gak bilang-bilang? Kamu?" Biru tidak melanjutkan ucapannya, dia sibuk menggaruk kepala yang sama sekali tidak gatal.

"Aku bilang kerja waktu itu sebenarnya bohong, mana ada yang mau pekerjakan anak SMA kaya aku. Ya dari sini, tapi gak bisa banyak banyak karena takut Aa curiga. Masa aku bilang hasil jual foto-foto couple gay, bisa bisa Aa marah."

Biru diam saja. Dia tidak bisa proses semuanya sekaligus. Awalnya rasa yang dia beri kepada Sagara pun dianggap hanya baper saja. Sebagai ungkapan terima kasih atau justru rasa kasihan karena setiap bertemu Sagara justru ketika dirinya sedang terlibat dalam masalah.

Ada keinginan yang kuat untuk melindungi Sagara dari setiap masalah yang menyiksanya. Di samping itu, Biru seperti menemukan sosok ayah yang mana sejak kecil dia memang haus akan kasih sayang ayah.

"Jadi," ucap Jingga membuat Biru berpaling.

"Apa?"

"Sejak kapan?"

"Sama Sagara?"

Jingga mengangguk. Biru tidak tahu harus menjawab apa, malu-maluin gak sih? Dia malah deg-degan takut diledek sama Jingga.

"Belum lama," jawabnya singkat. Berharap Jingga tidak memperpanjang pembahasan ini lagi, nyatanya dugaan Biru salah.

"Jadi siapa Top? Siapa Bot? Ah jelas sih, Aa Top ya?"

"Hah?"

"Alah, jangan pura-pura, deh, masa gak ngerti."

Biru menggeleng, daripada malu menghadapi Jingga, dia merogoh kantong celananya dan buka si pintar yang serba tau alias Mbak Google. Gak nyangka yang begini ada namanya juga.

Matanya membulat kala melihat apa artinya, Biru melihat Jingga cekikikan sambil merapikan barang-barang jualannya.

"Kamu tau sejauh mana, sih, Ngga? Jangan-jangan sampe ke bagian anu?"

"Hahahaha anjir Aa. Kalau baca iya, nonton BL pun iya ada adegan ranjangnya, tapi bukan bokep ya, gini gini aku masih punya adab. Lagian kalo di komik kan cuma gambar, kalo gak percaya nanti baca aja di kamar aku ada."

Biru harus apa, marah? Mungkin jika Biru tidak sedang menjalin hubungan dengan sesama Pria dia bakalan marah dengan apa yang dilakukan Jingga. Tapi mau marah sekarang pun nantinya jadi Boomerang.

"Tapi kamu enggak, kan?"

"Enggak apa? Suka cewek lagi? Enggak, lah, aku masih suka cowok ganteng. Cuma ya suka ganda putra aja."

Biru mengangguk lega. Setidaknya jika dia pada akhirnya tidak bisa bersama perempuan, ada Jingga yang masih bisa memberikan keturunan dan meneruskan keluarga mereka.

"Jingga, cetak foto biasanya di mana?" tanya Biru.

Tiba-tiba terlintas ide di kepala Biru untuk memberikan modal untuk mencetak foto dengan hasil yang bagus tanpa harus keluar rumah.  Usaha jingga lebih masuk akal dan terlihat progresnya dibandingkan Warmindo ala-ala yang belum tentu laku di tengah banyaknya Warmindo di sana.

"Oh, ada dekat sekolah. Tapi agak mahal sih, yang murah jauh. Pake ongkos, ya sama-sama aja jatuhnya."

"Minggu nanti kita beli laptop sama printer biar kamu bisa cetak foto di rumah."

"Ih ... Gak bohong, kan, A?"

"Asalkan sekolah tetap nomor 1, jangan memaksakan diri, kalau butuh bantuan bilang sama aa."

Jingga bangkit dari duduknya, dia memutari meja dan memeluk Biru dengan erat.

SAGARA BIRU [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang