"Biru, Astaga Biru. Bangun!" Sagara mengangkat tubuh Biru membaringkannya di sofa.
"Om, denger ya, apa pun yang terjadi saya tidak akan pernah melanjutkan perjodohan dengan Anita." Sagara menegaskan, tangannya berusaha mengelus kepala Biru, lelaki itu antara sadar tidak sadar, ada air mata yang jatuh satu-satu.
"Kalau gitu saya juga akan melawan di pengadilan nanti, buat apa? Saya harus tinggalkan Anita?"
"Om mikir gak sih Om Darius ninggalin anak kecil-kecil pas dipenjara. Bahkan sampai sekarang anak bungsunya masih SMA. Lihat Biru, dia harus kerja, harus kuliah harus ngurus adiknya seorang diri. Umurnya beda jauh sama Anita. Posisi Biru sama Jingga pun tidak punya tempat tinggal karena disita. Mereka buntu mau ngapain. Sedangkan Anita itu udah punya kerjaan tetap, dua pekerjaan, usianya tak lagi muda. Om mau lawan, lawan saja. Silakan saya tidak takut."
"Udah Saga, udah, kamu bawa Biru saja ke kamar. Kasihan dia butuh istirahat."
"Tidak, saya tidak mau ke mana-mana saya tidak percaya pada siapa-siapa. Dengar kalau pun harus menikah saya hanya akan menikah dengan anaknya Om Darius."
Wasman tertawa, "jangan gila, anaknya Darius masih SMA, murid kamu pula!"
"Siapa bilang yang akan menikahi Jingga. Asal Om tahu, saya tidak menyukai perempuan, saya hanya menyukai laki-laki dan saya akan menikahi Biru."
"Kamu homo?" tanya Wasman meyakinkan.
"Bukannya sudah jelas?"
"Siapkan aja segalanya Pa, saya mau kasus ini selesai dan om Darius dapat keadilan. Kalau Papa tidak mau menuruti apa perkataan Saga, jangan harap papa bisa melihat Saga lagi di sisa umur papa ini."
Saga meraih tubuh Biru, memapahnya menuju kamar. Biru yang setengah sadar langsung dibaringkan, dikecup keningnya lalu dia peluk. Biru yang ceria, kuat dan sehat kini menjadi sosok ringkih.
"Mau pipis," ucap Biru, wajahnya mengernyit, ketakutan. Biru trauma melihat darah keluar dari urinnya.
"Bisa jalan? Mau gendong? Tapi kamu berat deh, kaya kerbau." Sagara berusaha menggoda Biru.
"Jahat, pacarnya dikatain kerbau. Jalan tapi dibantu ya, ini agak pusing kunang-kunang gitu."
Sagara mengangguk meraih tangan Biru lalu dia bimbing ke kamar mandi. Biru berdiri kaku di toilet menunggu Sagara untuk segera pergi meninggalkan dia.
"Ngapain masih di sini, keluar aku malu," usir Biru.
Bukannya nurut, Sagara malah berlutut di hadapan Biru, melepas bagian depan resleting celana kekasihnya lalu membuka dan mengeluarkan adik kecil Biru yang ukurannya luar biasa. Pemiliknya hanya tersipu malu-malu.
"Gak usah malu, saya kan sering liat dia."
Saga memegangnya dan membiarkan Biru melepas hajatnya. Dilihatnya wajah Biru yang meringis kesakitan. Tapi setidaknya sudah lega karena yang keluar bukan darah melainkan air seni yang warnanya pink. Ya masih bercampur darah sih, tapi tidak sepekat waktu di rumah sakit.
Tidak hanya itu Sagara juga mengurus Biru dengan baik di rumah orang tuanya ini. Membiarkan kekasihnya beristirahat.
Keesokan harinya, Biru terbangun dengan wajah lebih segar. Dia mengerjap-ngerjap karena sadar bukan di kamarnya. Lantas Biru turun dari tempat tidurnya.
"Sini Biru, ngapain berdiri di sana?" ajak perempuan paru baya, Mamanya Sagara.
Sadar anak menantunya itu celingukan wanita itu berjalan menghampiri dan menuntun Biru sampai di meja makan. Di sana sudah ada Adrian Jatmika, yang duduk sambil membaca jurnal pada tab nya.
"Pagi, papa."
"Pagi Biru, yuk duduk sarapan."
Biru mengangguk, "Saga- ehm Pak Saga kemana?"
"Pagi-pagi sekali ada janji sama pengacara, trus mau lanjut ke yayasan sebentar habis itu mau ngurus-ngurus buat pernikahan. Kamu disuruh makan aja dulu, yuk sini makan yang banyak."
Pernikahan? Sagara jadi nikah sama Anita?
"Mau nelepon Jingga dulu, boleh tante?" Biru berkilah, sebenarnya dia hanya ingin menenangkan hatinya.
"Oh, Jingga tadi ke sini, dijemput Saga, trus ke sekolah bareng. Nanti Jingga pulang sekolah ke sini juga kok. Hari ini kamu jangan kuliah dulu, ya. Di rumah aja."
"Gak ada kuliah Kok, kan udah selesai kemarin udah sidang skripsi juga."
Biru menerima satu piring berisi lontong kari ayam.
Dia ambil kerupuk dan mulai memakannya. Sebelum makan Mamanya Sagara menyerahkan Tumbler berisi satu liter air.
"Kata Saga ini harus dihabiskan sebelum jam 10. Bisa ya?"
Biru mengangguk, memang setelah sakit yang ini dia harus menghabiskan lebih dari tiga liter air sehari. Kembung sih karena gak biasa.
Biru kembali merenungi kata-kata mama Sagara tentang pernikahan tadi. Ya, pernikahan. Biru harus melepas Sagara demi ayahnya? Biru membiarkan Sagara di sisinya maka sang Ayah akan menghabiskan sisa umurnya di penjara. Apabila Biru merelakan Sagara menikahi orang lain maka ayahnya akan keluar dari penjara, Jingga akan bahagia.
"Ayo di makan, malah diam saja."
Biru mengangguk dan berusaha menghabiskan makanan itu. Meski rasanya untuk menelan pun susah sekali. Biru baru kembali lagi bersama Sagara masa harus berpisah lagi?
Biru mengambil ponselnya lalu menghubungi Rega. Dia tidak sanggup lagi mendengar mama Sagara terus-terusan membahas tentang pernikahan. Tentang sidang, dan semua yang membuat kepalanya penuh.
"Gue ke rumah tapi kosong, ke rumah sakit katanya udah pulang. Dibawa ke mana Lo sama pake guru?" tanya Rega ketika sambungan teleponnya terhubung.
"Jemput gue, Ga. Gue sumpek pengen keluar."
"Di mana?"
"Gue share lokasi, ya."
Setelah itu Biru menutup teleponnya dia lalu pamit pada kedua orang tua Sagara untuk mandi dan ganti baju.
Tiga puluh menit kemudian, Rega sudah tiba, menunggu di gerbang rumah Sagara.
"Tante, Papa, ternyata aku harus ke kampus."
"Loh, katanya gak ada kegiatan lagi di kampus?"
"Barusan ditelepon temen, katanya dosen pembimbingnya mau ketemu sekarang mau bahas masalah revisi."
Biru berbohong, mana ada dosen menghubungi Biru untuk melakukan itu. Lagipula untuk revisian, Biru tidak banyak hanya ada beberapa kesalahan penulisan dan juga kelengkapan daftar pustaka.
"Diantar sopir ya? Atau mau ditelponin Saga?"
"Gak usah, Tan. Temen udah sampai di gerbang depan. Biru pamit, ya."
Setelah menyalami kedua orang tua Sagara Biru melenggang pergi. Disambut Rega yang ternyata tidak datang sendiri. Ada Kastara dan Bimasena juga di sana.
Biru senyum cerah, setidaknya bersama teman-temannya Biru bisa sejenak melupakan kalau Sagara ke depannya bakalan menjadi orang lain baginya. Mungkin hanya kerabat, atau anak dari sahabat ayahnya.
Biru siap? Tentu saja tidak, tapi buat move on, Biru memutuskan untuk melamar ke luar kota, ke mana saja yang penting jauh dari Sagara dan keluarga barunya. Karena Biru tidak bisa membayangkan betapa tidak sanggupnya hati mungil Biru melihat Sagara bersanding dengan orang lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
SAGARA BIRU [END]
RomanceTakdir selalu tidak terduga. Luka Sagara berganti tawa karena Biru. Takut Sagara sirna bersama Biru. Biru bukan sekadar anak mahasiswa berusia 21 tahun. Lebih dari itu, Biru adalah segalanya bagi Sagara. (21+) Semoga kalian bijak memilih bacaan.
![SAGARA BIRU [END]](https://img.wattpad.com/cover/366338007-64-k62414.jpg)