Sagara tiba di sekolah seperti biasanya, seperti yang sudah dia duga sebelumnya, Sagara bakalan langsung disidang oleh kepala sekolah dan komite selaku perwakilan dari orang tua siswa SMA Arcadia Internasional School.
Kepala sekolah, dua guru BK, komite sekolah selaku perwakilan dari orang tua siswa semua sudah berkumpul di ruangan kepala sekolah. Sagara dengan berani menghadapi panggilan itu.
"Pak Saga, Saya harap apa yang ada pada thread di x ini hanyalah informasi hoax, untuk menjatuhkan Pak Sagara saja. Sebelum saya memberikan tindakan lebih lanjut Saya ingin memastikan apakah berita ini benar atau tidak. Jangan sampai pihak sekolah mengambil keputusan yang merugikan salah satu pihak."
Sagara sudah lelah, tidak ada yang bisa dia lakukan selain mengakui apa yang tertera pada berita yang sudah terlanjur viral itu. Sedih sih sebenarnya, sudah merasa dekat dengan anak-anak, sudah merasa bahwa dunia pendidikan ini adalah dunianya. Nyatanya memang orang-orang seperti Sagara yang memiliki orientasi seksual yang berbeda memang tidak diterima terutama di dunia pendidikan.
"Semua foto-foto yang tertera di sana adalah benar foto saya. Namun saya tidak membenarkan berita di dalamnya. Terlebih setelah melihat beberapa foto yang baru saja diunggah kemarin-kemarin. Semua tidak benar karena itu adalah murid-murid yang saya ajari secara private tentunya dengan pengawasan orang tua. Sedangkan untuk foto yang ini, ini adalah sopir taksi online yang membantu saya memindahkan seluruh barang-barang yang ada di kontrakan lama ke kontrakan baru. Lagi pula, fotonya hanya foto saya dan teman-teman sewaktu kuliah, tidak ada foto yang vulgar dan tidak bermoral."
"Tapi meskipun begitu, tetap aja salah, apalagi foto yang ini," tunjuk salah seorang komite sekolah pada satu foto di restoran saat mantannya Sagara membelai kepalanya. "Kami tetap tidak bisa mempertahankan Pak Saga untuk mengajar di sini karena kami seperti membenarkan tindakan bapak."
"Tidak apa-apa Pak, silakan berasumsi sesuka Bapak. Sebelum pihak sekolah mengambil keputusan untuk mengeluarkan saya dari sekolah ini. Saya terlebih dahulu yang akan memberikan surat pengunduran diri. Saya dan keluarga saya tidak segan menuntut orang-orang yang sudah merugikan nama baik saya dengan menyebarkan sesuatu yang bersifat pribadi dan belum tentu benar."
Sagara memberikan amplop cokelat berisi surat pengunduran dirinya. Semalam, setelah pulang dari rumah Baskara, Sagara dan Aksa berembuk untuk mengambil keputusan ini. Keputusan ini diambil karena orang yang menyebarkan berita itu sudah mencemarkan nama baik Sagara.
"Kalau tidak salah, mengapa mengundurkan diri?" Tanya salah seorang guru BK.
"Saya dan keluarga sedang merencanakan sesuatu. Surat pengunduran diri ini rencananya akan saya berikan bulan depan. Tapi adanya kejadian ini membuat saya harus mempercepat proses pengunduran diri ini. Benar tidaknya berita ini pasti akan mencoreng nama baik Arcadia Internasional School yang sudah seperti rumah bagi saya."
"Tapi meski begitu Pak Saga, pihak sekolah tidak tahu menahu tentang orang yang menyebarkan berita ini. Jadi kami mohon Pak Saga untuk tidak membawa-bawa pihak sekolah ke ranah hukum apabila Bapak sudah menemukan siapa pelaku yang menyebarkan thread tersebut."
"Tergantung, Pak. Kita lihat saja nanti, apabila yang menyebarkan thread ini salah satu dari bagian di sekolah ini saya akan tetap membawanya ke jalur hukum. Saya permisi, saya minta izin untuk pamit sama anak-anak sebelum saya meninggalkan sekolah ini."
Tidak disangka ternyata dukungan untuk Sagara sangatlah banyak. Begitu keluar dari ruangan kepala sekolah anak-anak sudah menunggu di sepanjang koridor. Mereka tidak rela jika nantinya Sagara harus dikeluarkan gara-gara berita murahan yang tersebar di sana.
"Pak Saga, kami tahu beritanya gak benar, Pak Saga kami siap nyari siapa pelakunya, Pak. Kami siap memberikan keadilan buat bapak, dengan kekuatan Netizen yang ajaib."
"Kamu sekolah aja yang benar. Bapak nggak apa-apa, maaf kalau selama Bapak mengajar Bapak ada salah sama kalian.
"Pak," ucap Jingga dan beberapa temannya. Sagara senyum, meyakinkan Jingga kalau semuanya akan baik-baik saja.
Beberapa Guru pun menyalami Sagara, mereka percaya bahwa Sagara tidak bersalah. Satu sisi Sagara merasa sangat berdosa sama mereka, di sisi lain, dia marah kepada orang yang menyebarkan berita yang tidak benar ini.
"Mas," panggil Anita.
"Iya Bu. Maaf jika selama jadi rekan mengajar saya banyak salah."
"Mas, saya bisa bantu Mas untuk menyelesaikan masalah ini. Nanti saya bilang papa biar Mas gak usah dikeluarkan dari sini, Mas." Anita mengikuti Sagara sampai ruangannya.
"Saya tidak dikeluarkan, Bu. Gak usah khawatir."
Anita tampak tidak percaya. Dia mengekori Sagara yang kini mengambil kotak kosong lalu diisi dengan barang-barang yang ada di mejanya. Tidak banyak, sebagian hanya atk dan juga buku-buku.
"Lalu kenapa berkemas?"
"Karena saya mengundurkan diri, Bu."
"Mas, ayo berjuang buat hapus postingannya, saya ada kenalan orang IT yang bisa membantu melenyapkan jejak digital itu. Saya siap, Bantu, Mas."
Anita memohon.
"Tidak perlu, Bu. Kasihan yang bikin postingan itu udah capek-capek fitnah sama nguntit saya tapi postingannya dihapus."
"Mas," ujar Anita. Suaranya lemah putus asa.
"Jangan panggil saya Mas, saya gak suka dan gak pernah suka."
"Kapan sih kamu mau lihat kalau aku ini ada, Mas? Kedua orang tua kita udah setuju tentang pernikahan kita. Apalagi, Mas?"
"Saya tidak mencintai kamu, Nit. Tidak sedikit pun. Dan asal kamu tahu orang tua saya sudah setuju untuk tidak melanjutkan perjodohan konyol ini. Camkan itu."
"Harus dengan cara apalagi agar kamu mau sama aku, Mas?"
"Yang pasti bukan cara licik dengan melakukan hal-hal kotor seperti yang sudah kamu lakukan, Nit. Saya tunggu di pengadilan."
Sagara menutup kotaknya, lalu dia pergi meninggalkan ruangan itu. Anita terlihat kaget, dia lari mengejar Sagara.
"Kamu nuduh aku?"
"Cukup satu kali saya nuduh orang tanpa bukti. Cukup satu kali saya menyalahkan semuanya pada orang yang enggak salah sama sekali. Saya tidak akan nuduh siapa pun tanpa bukti, dan saya udah pegang semua bukti tentang pelaku yang menyebarkan thread itu. Saya juga punya bukti orang yang tega membuat nama baik saya tercemar dengan tuduhan dan penyebaran berita yang membuat saya terusir dari kontrakan saya. Siapkan diri kamu, Nit."
Tidak hanya Anita, beberapa siswa termasuk Jingga mendengarkan perdebatan itu. Anita hanya mematung, bagaimana bisa cara licik yang sudah dia atur dengan rapi itu kini bisa terbongkar langsung oleh Sagara.
Dia sudah kalah, Anita geram. Jika dia tidak bisa dapetin Sagara, maka orang lain pun tidak boleh. Gelap mata, Anita meraih pot bunga yang terbuat dari semen. Dia berlari dan hendak membentur kepala Sagara dengan pot itu.
Melihat hal itu, Jingga berlari, dia menghalangi Anita sampai dirinya jatuh berguling tertimpa tubuh Anita yang lebih besar dari Jingga.
"Ibu jangan jahat jadi orang," ujar Jingga sebelum kesadaran merenggutnya.
Sagara yang melihat itu buru-buru menyingkirkan Anita yang menimpa tubuh Jingga, menggendong Jingga untuk membawanya ke rumah sakit.
KAMU SEDANG MEMBACA
SAGARA BIRU [END]
RomanceTakdir selalu tidak terduga. Luka Sagara berganti tawa karena Biru. Takut Sagara sirna bersama Biru. Biru bukan sekadar anak mahasiswa berusia 21 tahun. Lebih dari itu, Biru adalah segalanya bagi Sagara. (21+) Semoga kalian bijak memilih bacaan.
![SAGARA BIRU [END]](https://img.wattpad.com/cover/366338007-64-k62414.jpg)