Warning, berisi adegan dewasa. Mohon untuk bijak.
Perasaan pertama yang Sagara rasakan setelah turun dari ojek daring adalah nelangsa. Gimana tidak, pria yang usianya cukup jauh dengan dirinya itu sedang menangis Di pelataran parkir Lapas Sukamiskin. Jika dilihat sekilas, orang-orang pasti menyangka kalau Biru sedang memperbaiki bagian bawah motor. Kepalanya dia sandarkan pada jok sedangkan wajahnya menghadap tanah. Sagara bisa melihat dengan jelas bahu lelaki itu bergetar.
Biru mengangkat wajahnya ketika tangan Sagara menepuk pundaknya. Dia kira itu petugas sipir atau pengunjung lain yang penasaran dengan keadaan Biru. Begitu melihat orang yang ada di hadapannya adalah Sagara, Biru langsung berdiri dan menghambur memeluk Sagara.
"Barusan aku habis nyakitin ayah, aku nggak mau begitu sebenarnya, tapi aku merasa semuanya nggak adil."
Sagara tidak menanggapi, dia tahu, Biru tidak butuh wejangan atau apapun. Yang dia butuhkan saat ini adalah didengarkan, Biru terus mengoceh. Orang-orang yang melihat pemandangan ini menyanggah bahwa, keduanya merupakan adik dan kakak. Mengingat dari tampilan mereka berdua sudah terlihat jelas bahwa umurnya berbeda jauh.
"Kalau udah puas nangisnya bilang ya, atau kalau mau dilanjut di rumah boleh." Sagara berbisik di telinga Biru, lelaki itu lantas mengurai pelukannya dan melihat sekitar. Air mata membasahi wajahnya. Tangan Sagara terangkat lalu menghapus jejak-jejak air mata itu sampai benar-benar mengering.
"Saya nggak bisa menghapus luka kamu, tapi setidaknya saya di sini izinkan untuk selalu menghapus air mata kamu. Gimana mau lanjut di sini apa di rumah nangisnya?" Tanya Sagara, wajahnya sedikit senyum menggoda.
"Pulang aja, tapi aku nggak sanggup bawa motor kamu bisa?"
"Bisalah, jangan mentang-mentang sekarang saya nggak punya motor terus nggak bisa. Bahkan SIM C saya masih berlaku."
Biru merogoh kantong celananya, lalu dia serahkan kunci motor itu pada Sagara. Sejujurnya Sagara juga sedikit takut karena sudah lama sekali tidak bawa motor. Dulu ketika masih tinggal di rumah dia selalu mengendarai mobil kemanapun dia mau. Motor sih sesekali aja kalau mau ke minimarket. Namun setelah Dia memutuskan untuk tinggal sendiri, maka Sagara pun melepas semuanya. Karena dia tahu semua itu dibeli menggunakan uang ayahnya.
Sebenarnya saat ini uang Sagara bukan tidak cukup untuk dibelikan kendaraan. Minimalnya motor dia masih bisa beli, sayangnya Sagara terlalu nyaman menggunakan transportasi umum. Masalahnya pekerjaannya menguras tenaga, menguras pikiran sehingga selalu membuat dia kelelahan. Ketika dalam perjalanan pulang dengan menggunakan kendaraan umum, maka di sinilah kesempatan Sagara untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
Jika pakai ojek daring, dia menikmati pemandangan dan angin yang bertiup dan membelai wajahnya. Jika menggunakan taksi daring, Sagara akan tertidur 5 atau 10 menit selama di perjalanan itu lumayan bisa mengobati sedikit rasa lelahnya.
"Kamu udah makan, Biru?" Tanya Sagara, Dia sedikit menoleh dan berteriak khawatir suaranya tidak bisa terdengar oleh Biru.
"Pengen HokBen," kata Biru.
"Tapi nangisnya mau dilanjut apa enggak? Nanti jangan-jangan kamu bakalan nangis di sana kan saya jadi malu."
"Anjir Sagara, jangan ngeledek gitu ah. Kalau kamu nggak mau bawa aku ke sana Ya udah pulang aja."
KAMU SEDANG MEMBACA
SAGARA BIRU [END]
RomanceTakdir selalu tidak terduga. Luka Sagara berganti tawa karena Biru. Takut Sagara sirna bersama Biru. Biru bukan sekadar anak mahasiswa berusia 21 tahun. Lebih dari itu, Biru adalah segalanya bagi Sagara. (21+) Semoga kalian bijak memilih bacaan.
![SAGARA BIRU [END]](https://img.wattpad.com/cover/366338007-64-k62414.jpg)