Sagara menyesal kenapa dia memutuskan libur hari ini. Padahal banyak sekali pekerjaan sebelum peresmian Yayasan pendidikan yang dibangun keluarganya itu. Coba kalau tadi dia bekerja, mungkin gak akan diseret sama bumil yang keinginannya aneh-aneh sejak semalam.
Semula ingin beli makanan khas Arab, tapi gak ada pada akhirnya makanan khas Turki pun dijabanin. Sagara akhirnya pasrah, daripada kena badmoodnya Bumil yang kadang bagus kadang jelek.
Saat mobil terparkir, Sagara terhenyak karena melihat motor Biru parkir depan Indomaret. Inginnya putar balik karena dia memang tidak mau lagi bertemu Biru, hatinya sakit saat memikirkan mereka tak lagi bersama, tapi Sagara tidak bisa memaksakan diri untuk tetap berada di sisi Biru.
Untungnya saat urusan di restoran Khas Turki itu selesai, Sagara tak lagi melihat motor Biru atau orangnya. Sagara takut luluh jika harus berhadapan dengan Biru. Apalagi saat melihat Biru terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Sagara memang tidak datang lagi setelah menyetujui permintaan Biru untuk putus, tetapi Rega selalu memberikan kabar dan perkembangan kesehatan Biru berikut fotonya.
"Ga, sekalian beli tahu Sumedang, ya, tapi yang dekat perempatan sekolahan kamu dulu. dekat Arcadia, katanya di sana enak."
Niscala, Kakak perempuan Saga memaksa. sekuat apa pun Saga menolak tetaplah tidak bisa dibantah. Sudah pernah dengar tentang Kakak Perempuan yang menyeramkan? Gambarannya mungkin seperti Kak Ros. Dulu saat coming out, Niscala yang paling galak. Untungnya keluarga Sagara sekarang sudah menerima tentang diri Sagara. Termasuk Niscala ini, asalkan Sagara pulang, kembali bersama keluarga dan tidak kabur-kaburan lagi.
"Sok aja mau ke mana pun. Saya ikut aja, Kak."
"Gak suka deh, kamu tuh sekarang formal banget kalo ngomong, Saya, saya, berasa jadi atasan kamu deh. Biasa aja deh Ga, jadi adik kecil aku yang dulu manja."
Sagara terkekeh, "Mungkin kebiasaan, Kak. Itu beneran gak apa-apa kamu nyetir?"
"Gak apa-apa, Hamil si Kila tuh kan aku ke rumah sakit sendiri, posisi udah pecah ketuban. santai aja Ga, nikmati perjalanan ini."
"Motifnya apa sih ngajakin keluar begini?" tanya Sagara curiga.
"Ketebak, ya? iya deh, aku mau jujur, Mama sebenarnya minta aku hibur kamu. Sejak putus sama anaknya om Darius katanya kamu banyak mengurung diri. Mungkin takut kamunya bunuh diri kali."
"Sembarangan kalau ngomong. Dari dulu, kan, memang begini. Males banget keluar rumah keluyuran. Kemarin aja di kontrakan ya selesai ngajar tuh rebahan. Rebahan adalah surga dunia yang paling nikmat."
"Iya deh, iya. Ngomong-ngomong, beneran putus sama anaknya Om Darius? Ingat dulu deh, itu bocah sering ngintilin kamu."
Sagara menoleh kaget. Memangnya dia pernah ketemu Biru sebelumnya?
"Of course, kamu pernah ketemu. Ada fotonya di album lama papa, nanti minta papa deh biar diliatin." Niscala seperti bisa menebak isi kepala Biru. Namun, Biru kembali menggeleng, lebih baik diurungkan saja niatnya untuk melihat foto jaman dulu. Daripada gagal move on, kan gawat.
Setelah membeli tahu Sumedang, Sagara masih dibawa untuk mengunjungi tempat-tempat kuliner yang asik. Padahal itu jajanan yang dibeli Nisca banyak sekali, mungkin bisa ngasih makan orang serumah termasuk mama papa dan art mereka.
"Loh, tumben Aksa jam segini udah pulang?" tanya Niscala.
"Tadi bilangnya nganterin papa."
Sagara melihat Biru tapi dia berjalan tergesa dan melewati Biru begitu saja. Bisa gawat kalau lama-lama dekat Biru. Hatinya bisa goyah. Sayangnya, sebelum Sagara menjauh Biru sempat mencekal lengan Sagara.
KAMU SEDANG MEMBACA
SAGARA BIRU [END]
Roman d'amourTakdir selalu tidak terduga. Luka Sagara berganti tawa karena Biru. Takut Sagara sirna bersama Biru. Biru bukan sekadar anak mahasiswa berusia 21 tahun. Lebih dari itu, Biru adalah segalanya bagi Sagara. (21+) Semoga kalian bijak memilih bacaan.
![SAGARA BIRU [END]](https://img.wattpad.com/cover/366338007-64-k62414.jpg)