"Ga! Rega!"
"Loh kebangun?" Rega yang berjalan mengendap-endap takut membangunkan Biru malah kaget mendapati Biru di tempat tidur sedang terpekur berbaris menuju hancur, atau sudah hancur?
"Mau packing, tas gue kok gak ada, ya?"
"Mau balik emang? Jam satu, loh, ini."
"Jingga besok pulang, Ga. Gak lucu kalau gue gak ada di rumah."
"Ya gak harus hari ini juga kan, besok aja pulangnya pagi-pagi. Nih!" Rega melemparkan satu gerendel kunci yang langsung ditangkap Biru.
Kunci yang teramat Biru kenali, dengan gantungan Dipsy Teletubbies terdiri dari kunci motor, kunci gembok motor dan satu kunci yang lain. Biru tahu itu kunci rumah di Puri Citraland. Terakhir meninggalkan rumah itu Sagara sengaja menahan semua kuncinya agar Biru tidak pergi.
"Setiap hari pak guru ke kampus, nyariin, maksa sama gue sama Kastara buat cerita kamu di mana. Dia sampe kusut gak ngurus diri. Hari ini dia datang, minta gue balikin ini sama Lo. Katanya biar Lo mudah ke mana-mana naik motor."
"Kenapa Lo terima, njir. Kalau gini kan dianya jadi tau kalau gue ada sama kalian."
"Sena tuh, dia bilang dia tahu Lo di mana. Tapi gak mau ngasih tau karena dia bilang Lo aman. Trus Pak Guru ngasih nomor telepon dia ke gue sama Kastara, dia bilang kalau ada apa-apa sama Lo, gue harus kasih tau. Pak guru bilang Lo gak boleh telat makan. Dia mau ngasih waktu sama Lo sampe Lo puas."
"Idih, so, perhatian."
Biru menyambar kaos kakinya, sudah beberapa malam ini dia memang gak enak badan. Selepas tengah malam selalu kedinginan, dinginnya beda, dia sampai pakai kaos kaki. Pakai jaket, celana training dan selimutan. Tapi tetap dingin. Rasanya pengen peluk botol isi air panas, tapi Biru sadar diri, sekarang posisinya numpang di rumah Rega.
"Ya dia begitu karena cinta sama Lo. Kalau enggak cinta gua yakin gak mungkin wajahnya yang ganteng itu jadi burik gegara mikirin Lo. Kenapa sih pake jaket segala, emang dingin, ya? AC nya gue matiin aja, ya?" Biru mencibir, saat ini apa pun yang dilakukan Sagara salah di matanya. Tapi tidak bohong, di sudut hati terdalamnya Biru juga jangan sama itu orang.
"Kalau AC mati Lo kepanasan gak?"
"Santuy gue mah, gue tidur buka baju aja. Lo gak enak badan?"
Rega mendekat menempelkan punggung tangannya di kening Biru. Hangat, sih, bukan hangat normal tapi suhunya lebih tinggi tapi gak panas-panas amat. Buat memastikan harusnya Rega pake termometer aja. Dia beranjak lalu keluar dengan tergesa, Biru tidak peduli dia lanjut berbenah mau langsung tidur karena mulai kedinginan. Padahal tadi dia mau packing mau pulang, berhubung motornya udah balik pulangnya bisa subuh aja.
Gak lama, Rega balik lagi, bawa termogun. Termometer yang sering biru lihat di klinik-klinik. Kakak perempuan Rega dokter, dia punya seperangkat alat kesehatan di rumahnya, mulai dari termogun sampai alat tensi meter ada.
"39 derajat loh ini." Rega bergumam, dia kembali menempelkan punggung tangannya. Memang iya, sekarang kerasa panasnya.
Mana biru gak ngerespon lagi, dia langsung selimutan dan bergetar getar di bawah selimut. Bergetar karena menggigil, sampai ada suara seperti desahan yang samar karena mungkin melawan rasa dinginnya.
"Ru, minum obat deh. Bangun dulu!" Rega tidak tega dia membangunkan Biru agar minum obat demam dulu lalu minum air hangat. Sayangnya Biru tidak menurutinya, lelaki itu hanya terus menggigil dan minta Rega buat duduk di telapak kaki Biru. Dingin banget katanya, kalau digencet kerasa hangatnya.
"Ru, gue panggilin kakak gue ya. Anjir Ru, Lo kalau mau mati jangan di kamar gue," ucapnya panik karena Biru memang tidak begitu merespon, dia sibuk dengan perasaan dingin yang selalu datang tiba-tiba di jam jam tertentu dan gak tanggung-tanggung dinginnya itu sampe ke tulang-tulang.
KAMU SEDANG MEMBACA
SAGARA BIRU [END]
RomanceTakdir selalu tidak terduga. Luka Sagara berganti tawa karena Biru. Takut Sagara sirna bersama Biru. Biru bukan sekadar anak mahasiswa berusia 21 tahun. Lebih dari itu, Biru adalah segalanya bagi Sagara. (21+) Semoga kalian bijak memilih bacaan.
![SAGARA BIRU [END]](https://img.wattpad.com/cover/366338007-64-k62414.jpg)