Biru paling tidak bisa jika berkeringat dan sekarang dia berkeringat. Banyak, sangat banyak. Sepulas apa pun dirinya pasti akan terbangun jika bajunya basah karena keringat. Dia mengernyit, tangannya terasa berat dan kaku. Setiap sendi baru terasa sakitnya.
Lelaki itu langsung bangun dan mendapati tangannya dipegang erat sama sosok yang tidur tertelungkup di kursi samping tempat tidurnya.
Ah pantas saja berat!
Dari potongan rambutnya Biru bisa tahu dia adalah kekasihnya. Ah tidak tidak, mantan kekasihnya. Biru merasa ngilu menghadapi kenyataan yang ada. Merasa bodoh karena selama ini bercinta dengan orang yang tahu betul siapa yang telah menghancurkan keluarganya.
Biru tidak masalah jika Sagara pada awalnya jujur. Jujur setelah dia tahu kenyataan tentang papanya. Tapi Sagara menyembunyikan semuanya, malah makin gencar nyogok Biru dan Jingga dengan limpahan uang dan makanan. Maksudnya apa? Menebus rasa bersalah, bukan begitu seharusnya, kan?
"Ga!" Panggil Biru. Sagara yang tertidur sontak bangun, matanya merah. Entah habis nangis atau karena bangun tidur.
"Ru, gimana, udah enakan. Minum, ya?"
Biru melengos saat sedotan plastik itu sudah ada di depan bibirnya.
"Ga! Rega!" Panggil Biru sekali lagi. Sagara mengernyit, benar, Biru tidak pernah memanggilnya Saga. Ga di sini adalah Rega, bukan dirinya.
Pintu terbuka, Rega yang sejak tadi di luar kamar langsung masuk saat denger Biru memanggilnya.
"Udah bangun, Ru. Gimana, mau apa?"
"Kenapa dia di sini? Lo ingkar janji ya sama gue?" tanya Biru dan tentu saja ucapannya bikin Sagara sedikit sakit hati. Padahal Sagara udah besar kepala kalau Biru bakalan menerimanya dan berbaikan dengannya.
Apalagi melihat gimana Biru terus menerus mengigau dan memeluknya sejak tadi sampai dia benar-benar tidur.
"Disuruh Kak Reyna," jawab Rega sengaja berlindung di balik nama kak Reyna, dengan begitu dia akan selamat dari amukan Biru.
"Rega, bisa tinggalkan kami berdua?"
"Gak usah, Lo di sini aja," sambar Biru saat Sagara meminta Rega untuk meninggalkan ruangan.
Sagara melirik Biru, sekilas keduanya bertatapan sampai Biru memutuskan pandangannya.
"Kalian ngomong dulu, Ru. Gue di luar, gak ke mana-mana. Lo panggil aja."
"Gak mau, Lo diem atau Lo bukan temen gue lagi," ancam Biru.
"Sepuluh menit paling lama, jangan. Salahin dia. Saya cuma minta waktu sepuluh menit habis itu terserah kamu mau ngapain,"pungkas Sagara.
Rega mengangguk pada Biru berusaha meyakinkan bahwa memang keduanya butuh bicara.
Setelah pintu ruangan tertutup Sagara mendekat, berusaha meraih kembali tangan kiri yang bebas dari jarum infus. Sayang, belum sempat Sagara genggam, Biru sudah menepisnya. Menyembunyikan tangan di bawah selimut.
Sagara tidak menyerah, dia hendak mengelus rambut kekasihnya yang basah karena keringat, lagi-lagi Biru menghindar. Tapi Sagara berhasil meraih tangan yang tadi disembunyikan di balik selimut itu.
"Lepasin, Anjing!" umpat Biru. "Kita udah selesai, gue gak mau berhubungan sama orang yang menghancurkan keluarga gue. Oke, kalau pun Lo gak terlibat, tapi itu keluarga Lo, sampai kapanpun kalau dilanjutkan hubungannya gue bakalan terhubung sama orang itu. Gue gak mau, jadi tolong lepasin."
Sagara mengangguk, lalu dia melepaskan Biru. Dia diam sejenak menarik napas dalam-dalam dan mulai bicara.
"Aku baru tahu kalau kamu anaknya Om Darius beberapa Minggu setelah apply pengajuan Magang di kantor. Dikasih tahu Kak Aksa kalau kamu adalah orang yang selama ini papa cari."
KAMU SEDANG MEMBACA
SAGARA BIRU [END]
RomanceTakdir selalu tidak terduga. Luka Sagara berganti tawa karena Biru. Takut Sagara sirna bersama Biru. Biru bukan sekadar anak mahasiswa berusia 21 tahun. Lebih dari itu, Biru adalah segalanya bagi Sagara. (21+) Semoga kalian bijak memilih bacaan.
![SAGARA BIRU [END]](https://img.wattpad.com/cover/366338007-64-k62414.jpg)