78

5.3K 172 19
                                        

Rapat Dewan Direksi baru saja selesai. Semua orang telah meninggalkan aula kecuali Elena, pengacara Frank dan Tuan Mayer.

"Selamat untuk jabatan CEO yang baru Nyonya".

Pengacara Frank mengulurkan tangannya pada Elena.

"Ini bukan apa-apa. Oh ya, aku ingin memberikan ini untuk Tuan Jensen".

Elena mengeluarkan sebuah kotak bludru berwarna abu lalu memberikannya pada pengacara. Namun pengacara itu menolak.

"Aku disini hanya untuk menyaksikan rapat dan aku tidak diijinkan menerima apapun. Anda bisa memberikannya langsung nanti".

Elena terdiam lalu mengangguk. Ia menoleh pada ayahnya.

"Ayo pergi ke ruang kerjaku".

Setibanya di ruang kerjanya tepatnya di meja kerja Elena yang baru, ia terkejut melihat namanya tertera di meja. Relief nama Elena Jensen dengan ukiran tinta emas.

"Selamat untukmu. Jika mengalami kesulitan, kau bisa bicara pada ayah".

"Tentu saja".

"Rasanya seperti mimpi berada di titik ini ayah. Aku tidak pernah menyangka akan berdiri di sini dengan ribuan karyawan di bawahku...".

"Itu tanggung jawab. Kau harus bekerja lebih keras mulai hari ini. Buat Frank... maksudku buktikan pada ayah bahwa jabatan ini berharga bukan karena nama Mayer namun karena kau mampu".

Tuan Mayer sengaja menekan kata Mayer karena ia baru saja melihat tulisan Elena Jensen. Dan Elena melihat jelas tanda tanya di wajah ayahnya.

"Aku yang meminta Theodor melakukan itu. Walaupun aku dan Frank tidak memiliki hubungan lagi tapi perusahaan ini tetaplah miliknya. Ia yang telah membangunnya dengan susah payah. Bahkan sebelum ia menikahi aku, perusahaan ini telah ia miliki. Aku hanya ingin menghargai keringat orang lain".

Rasa haru menyeruak di rongga dada Elena saat kenangan lama datang lagi. Ia ingat sekali, betapa Frank sangat mencintai perusahaan ini. Ia akan tenggelam dalam pekerjaan ini setiap hari hanya untuk membuat perusahaan ini tetap kokoh dan memberi kesejahteraan untuk keluarganya dan semua karyawannya. Itu yang ia katakan jika Elena protes karena ia tidak pergi ke Naerum di akhir pekan.

"Bahkan ketika dia pergi seperti ini, aku masih menangis untuknya".

Gumam Elena sambil menghapus air matanya. Ia menatap jendela dengan mata berkabut, seakan mencari Frank di deretan bangunan di kejauhan.

"Buktikan padanya bahwa  kau yang terbaik. Ingat janjimu untuk pergi ke makam ibu lusa nanti. Jaga kesehatanmu".

Elena memeluk ayahnya sebelum pria itu pergi. Ia mengambil kotak abu tadi dan membukanya.

"Dimana dirimu?".

Bertepatan dengan itu Derek muncul. Buru-buru Elena memasukan kotak itu ke laci meja dan menguncinya.

"Selamat ibu CEO".

Derek merentangkan kedua tangannya lalu memeluk Elena.

"Kau berlebihan. Ini kantor, aku takut orang lain salah paham".

Derek melepas pelukannya kemudian menggenggam tangan Elena.

"Aku tidak perduli. Aku tidak merugikan siapapun. Berhentilah memikirkan orang lain".

Elena menarik tangannya kemudian duduk di sofa.

"Lain kali beritahu aku jika kau ingin datang".

"Ini kejutan".

Balas Derek sambil tertawa. Ia mengambil sesuatu di sakunya.

"Aku membeli dua tiket bioskop. Ayo pergi malam ini".

SECOND HOME (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang