"Aku menikahimu karena aku sangat menghormati ayahmu".
Kalimat Frank Jensen membuat seluruh perasaan Elena Mayer membeku. Sungguh bukan itu yang ada di kepalanya selama 16 tahun menikah dengan suaminya.
Pernikahan yang semula bahagia dan tentram tib...
Elena yang kesal menelepon Derek untuk menjemputnya. Tadinya ia berharap bahwa Derek akan membawa Mobil namun ternyata pria itu datang dengan sepeda motor. Awalnya ia menolak namun setelah berdebat ia terpaksa harus duduk di boncengan motor Derek.
Saat motor melaju di jalan raya, Elena merasakan pengalaman luar biasa. Derek sengaja mengambil tangan Elena dan menautkannya di pinggangnya dengan alasan agar Elena tidak jatuh saat motor melaju kencang. Elena tidak menolak sebab ia takut akan jatuh.
Derek membawa Elena berputar-putar di pusat kota Kopenhagen kemudian pergi ke sebuah restoran untuk makan.
"Aku yang traktir!".
Derek menarik kursi agar Elena duduk. Elena tidak melepas kacamata hitamnya. Ia takut seseorang akan mengenali dirinya.
"Buat dirimu santai. Ini tempat favoritku. Orang dengan kalangan atas seperti dirimu tidak akan sudi mampir ke sini".
Elena menarik napas berat.
"Apa maksudmu?".
"Lepaskan kacamata itu dan makanlah dengan nyaman".
Karena melihat Elena masih ragu Derek dengan lancang melepaskan kacamata dari wajah Elena. Untuk sesaat, keduanya membeku. Malah wajah Elena merona merah.
Sepanjang hidupnya, ia selalu menjaga jarak dengan orang lain. Apalagi pria. Didikan sedari kecil telah memberi Elena batas yang jelas untuk dekat dengan orang lain.
Dalam hidupnya, hanya ada satu orang pria yang pernah diijinkan oleh ayahnya untuk melewati aturan itu. Frank Jensen.
"Apa yang kau pikirkan?".
Ucapan Derek menghentikan lamunan Elena. Ia menyentuh rambutnya dan pura-pura merapikannya.
"Tidak ada!".
"Kau belum memberitahu aku bagaimana kau bisa terdampar di jalanan".
Wajah Elena tiba-tiba berubah sayu. Derek menduga ia bertengkar dengan suaminya lagi. Mereka baru saja tiba dari Paris dan Elena pasti mengungkit semua yang ia lihat ketika di sana.
"Nyonya... bisakah aku memanggil namamu saja saat di depan umum? Ini terasa canggung".
Derek tertawa konyol. Beberapa orang menoleh pada mereka. Dengan refleks Elena memukul lengannya. Wajahnya kembali memerah malu.
"Terserah dirimu tapi berhentilah tertawa dengan ekspresi itu. Semua orang melihatmu, dan aku seperti orang bodoh di sini".
Bisik Elena dengan mata sedikit melotot. Derek sedikit terpana dengan kecantikan majikannya ini.
"Apa itu artinya ya?".
Elena terdiam sebab pelayan datang dan menyajikan makanan.
"Jadi Elena...".
"Berhenti bicara dan makan. Jika tidak aku akan pergi sekarang!".
"Ya. Ya. Baiklah".
Sebenarnya Derek bukan tipe orang seperti itu. Di agensi spy ia adalah tipe pria dingin dan tertutup. Tidak banyak orang yang tahu tentang kehidupannya. Tapi ia terkenal karena pekerjaannya yang selalu memuaskan pelanggan. Terutama pelanggan kelas atas. Dan bayarannya juga tak main-main.
Namun berada bersama Elena beberapa waktu membuat image Derek berubah. Di hadapan wanita ini, ia terlihat lebih sabar dan juga ramah. Bahkan kini ia duduk dan makan layaknya teman. Suatu hal yang mustahil ia lakukan.
"Apa kau sudah punya rencana untuk membongkar ini?".
Tanya Elena tiba-tiba yang membuat Derek berhenti mengunyah.
"Selesaikan makananmu dan kita akan membahasnya".
Tak lama setelah makan, Derek kembali berboncengan dengan Elena di jalan raya. Elena mengira pria ini akan membawanya pulang ke Naerum namun ternyata Derek membawanya ke salah satu apartemen mewah di Kopenhagen. Elena tahu unit ini karena itu unit kelas atas.
"Rumah siapa ini?".
Tanya Elena ragu karena sungguh interior dan semua yang ada di sini sangat mahal.
"Duduklah. Apa kau mau minum sesuatu?".
Elena menggeleng. Derek menjauh darinya sebentar lalu kembali dengan satu minuman kaleng bersoda. Ia membukanya dan menyodorkannya pada Elena. Kemudian ia melepas jaket hitamnya dan membuangnya di atas sofa.
"Aku pikir kita harus mengumpulkan sedikit bukti lagi untuk membongkar ini. Oh ya, aku tidak mau kau bertindak gegabah lagi seperti mendatangi rumah perempuan itu. Kau harus percaya padaku Elena. Aku sedikit kecewa padamu".
Kalimat terakhir Derek terdengar sedikit lebih rendah. Elena menilai ia kecewa. Ia menunduk dan memainkan jarinya.
"Aku tidak tahan Derek. Bagaimana bisa keduanya berpura-pura selama acara pemakaman? Mereka memanfaatkan kebaikan dan kepercayaan ayahku".
Derek melangkah dan duduk di sisi Elena. Ia tidak tahan untuk memeluk wanita itu tapi akal sehatnya melarang itu.
"Aku tahu itu tapi bisakah untuk sementara kau mengendalikan diri? Aku hanya butuh beberapa momen lagi untuk menyeret mereka berdua di kakimu. Bisakah kau melakukan itu?".
Elena mencoba menatap Derek.
"Momen?".
Derek mengangguk.
"Kau tahu apa yang paling menunjukan inti dari perselingkuhan?".
Elena menggeleng tapi kemudian ia menatap lekat Derek.
"Sebuah ciuman panas? Ah bukan itu! Ti...tidur bersama!".
Derek mengangguk mantap.
"Pernahkah kau melihat foto-foto yang aku kirimkan padamu secara detail? Hampir semua foto itu menggambarkan kedekatan keduanya tapi tidak ada unsur seperti yang kau sebutkan. Kau tahu artinya?".
"Itu belum bisa menunjukan perselingkuhan mereka".
Jawab Elena cepat. Derek memberinya dua jempol.
"Kau pintar tapi suamimu jauh lebih pintar. Jika kau membongkarnya sekarang, ia pasti akan menolak itu dengan alasan masuk akal. Dan ayahmu akan mempercayai itu. Tapi jika kita mendapatkan salah satu momen yang kau sebutkan, ayahmu pasti akan percaya itu. Jadi, beri aku sedikit waktu lagi".
"Tapi aku lelah Derek. Sikapnya benar-benar membuatku tidak tahan".
"Aku tahu itu Elena tapi bersabarlah. Kau tahu, kata orang buah dari kesabaran selalu manis rasanya".
Elena tidak menjawab. Ia menghabiskan isi kalengnya dan berdiri.
"Aku akan pulang ke Naerum dengan taksi!".
Derek sedikit terkejut tapi kemudian mengangguk.
"Bisakah aku mandi sebentar? Setelah itu aku akan mengantarmu pulang".
Tak ada sahutan jadi Derek langsung berjalan menuju kamarnya. Elena menunggu sambil mendekati jendela besar. Hari sudah sore, sebentar lagi malam akan datang.
Sabar? Apakah aku siap melihat momen itu? Ciuman panas? Ranjang?
➡️➡️➡️➡️➡️➡️➡️➡️➡️➡️➡️➡️➡️➡️➡️
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.