15. Alam bawah sadar

33 2 0
                                        

Hai hai...

Happy reading - !!

---

~Luka di tubuh, tidak sebanding dengan luka di dalam hati~


Telah terhitung 7 hari Zira terbaring lemah di atas brankar tersebut, mata nya masih setia tertutup, wajah nya masih pucat, badan nya masih terlihat jejak jejak lebam biru dan ungu memenuhi tubuh gadis itu.

Kini Evrix berada di dalam ruangan tersebut, dari sorot matanya terlihat tak ada kekwatiran atau rasa bersalah sedikit pun.
Bahkan ia masih menatap tajam anak perempuannya itu.

"Boss" dari arah belakang, seorang pria berpakaian serba hitam menghampirinya dan menyapa nya.
Wajah nya terlihat kusut.

"Kenapa?" tanya Evrix menangkap wajah cemas anak buah nya.

"Gawat boss, anak itu berhasil kabur dari ruangan bawah tanah" ungkap nya seraya menunduk, takut dengan sorot mata Evrix yang menajam.

"BAGAIMANA BISA?" ucap nya dengan nada tinggi, "Dasar bedebah lalai !!" maki nya kembali.

"Maaf boss"

"Segera lakukan pencarian!!, ambil helikopter, dan temukan anak itu!!" perintahnya

"B-baik tuan, saya permisi"

"Pergilah dari hadapan ku"

Seperti perintah Evrix, orang itu kini pergi, menyisakan Evrix dan Zira.
"Kapan kau bangun?" gumam Evrix melirik Zira.
"Sial. anak itu kabur, akan ku pastikan dia tersiksa karena telah berani kabur dari ku" gumam nya lagi.

Sedangkan di alam bawah sadar Zira bermimpi bertemu seseorang

Ruangan bernuasa putih di segala sisi, terdapat seseorang yang hendak menghampiri nya.

"R-raza? apakah itu kau?" tanya Zira tak percaya

"

Hai Zyr, aku kembali" ucapnya seraya melambaikan tangan nya ke arah Zira.

"B-bagaimana bisa?"

"Entahlah, tapi pesan ku adalah jangan pergi dahulu Zyr"

"Tidak, aku tidak kuat lagi Raza"

"Ku mohon, tunggu aku menyelamatkan mu dari nya"

"Dari nya? dari siapa maksudmu Raza?"

"Nanti kau akan tahu, tapi aku mohon kembalilah, buka matamu jangan kemana mana dulu, bertahan lah untuk ku"

"Tapi berjanjilah kepada ku!"

"Janji apa yang kau mau Zyr?"

"Kembalilah, dan jangan pergi dariku lagi, aku sendiri selama ini"

"Baiklah, akan segera aku kabulkan, tapi tidak sekarang, okey?"

"Yasudah, akan aku tunggu!"

"Sekarang, kembalilah ke dunia asli mu"

Perlahan mata gadis itu terbuka, ia agak kesusahan menyesuaikan cahaya yang masuk dari indra penglihatannya.

Saat ia berhasil membuka mata nya, hal pertama yang ia lihat adalah, 'Evrix"

"Shhhz" erangan Zira saat merasa kepalanya sangat pening.

Evrix melihat Zira yang memegang kepalanya lantas memencet tombol hijau untuk memanggil dokter. Tak perlu menunggu lama dokter itu telah tiba di ruangan Zira, dan segera mengecek ke adaan Zira.

"Apakah kau merasa masih pusing?" tanya dokter menatap Zira.

"Sedikit dok" sahutnya pelan layaknya seperti orang berbisik karena tenaga nya untuk berbicara masih sulit.

"Baiklah, keadaan anda sudah stabil, tinggal istirahat yang banyak maka kau akan sembuh" jelas nya, setelah mengecek keadaan Zira sebagai pasiennya."kalau begitu, saya permisi"

"Terima kasih dok" dokter pun mengangguk dan meninggalkan ruangan Zira.

Hanya ada keheningan di antara Ervin dan Zira. mereka sama sama memikirkan sesuatu.

Zira menerka nerka maksud mimpinya saat di alam bawah sadarnya.
Sedangkan Evrix memikirkan tentang Anak laki laki yang berhasil kabur dari ruang bawah tanahnya.

Tanpa sepatah kata pun Evrix melangkah kan kaki nya meninggalkan Zira pergi, entah kemana, Zira pun tak berniat bertanya apalagi menghentikan nya.

Selang beberapa detik, seorang Cowok tampan dan berbadan tinggi masuk ke ruangan nya.

"Sudah siuman?" Tanya nya--Huzar

"Seperti yang lo liat" sahut Zira tanpa menatap lawan bicaranya ia malah memandang ke arah keramik lantai putih di bawah nya.

"Baiklah, lo lapar nggak?, gue bawa nasi kuning nih." tawar Huzar dengan membenteng nasi bungkus di tangannya.

"Laper sih,"

"Yaudah, makan ya?"

"Nanti aja, gue haus nih" kata Zira dengan memegang tenggorokannya yang kering.

"Gue bawa Le mineral, mau?"

"Mau!" sahut Zira.

"Tapi, harus sambil makan okey? gue suapin, ngga nerima penolakan!" tekan nya di akhir kalimat.

"Yaya terserah deh"

"Nice girl" sahut Huzar seraya mengelus surai rambut panjang Zira dengan seulas senyum di bibir nya.

***

"Bagaimana?"

". . ."

"Sialan, tak berguna !"

". . ."

"Kumpulkan seluruh anak buah mu, malam ini Kiki, saya akan kesana"

". . ."

"Tidak menerima alasan apapun!"

Tutt.
Telpon itu di matikan sepihak oleh Evrix'
Ia berjalan meninggalkan rumah sakit untuk pergi mengambil mobil nya.

Saat menyetir, beberapa kali ia memijat kening nya sendiri, ia tak fokus dengan jalanan nya, sampai sampai ---

AAAA....

BRAKKK.

"Sialan!" umpat nya saat sadar ia menabrak seseorang paruh baya yang sedang menyebrang.
Ia langsung melarikan diri dari sana sebelum ada yang melihat nya atau plat mobil nya.

***

HUZZIRA [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang