03. Awal pertemuan

93 4 0
                                        





hai hai..

semoga suka sama cerita nya

kalau ada saran, komen aja.

jangan pelit pelit vote nya ya guyss

selamatt membaca ♡♡

°°°

''kita patah untuk tumbuh, tenang saja''
~Zirana Putri E.~

Minggu 23 mei

Langit sunrise' telah memperlihatkan wujudnya sedikit demi sedikit.
Kini seorang gadis telah bangun pagi-pagi untuk Joging sendirian.

Ia bersiap-siap dan memilih baju nya untuk di pakai untuk joging pagi ini. Setelah merasa cocok, langsung saja ia turun dan memulai pemanasan di luar mansion nya.

Hawa nya cukup dingin, untung ia memakai sweater agar tidak merasa kedinginan
setengah 2 jam ia berlari santai kini ia merasa sudah cukup lelah,

Zira mulai ngos ngosan saking lelah nya. Akhirnya ia beristirahat sebentar, barulah ia kembali ke mansion nya.

Langit sudah manampakan mentari dari arah timur, cahaya nya sudah menyilaukan. Keringat Zira sudah bercucuran karena cuacanya ternyata lumayan panas. Zira merasa pengap, ia melepas masker nya lalu membuang nya ketempat sampah, akhirnya ia memilih pulang untuk membersihkan diri.

ponsel Zira yang berada di tangan nya bergetar dan berbunyi menandakan ada sebuah panggilan.

daddy is calling. . .
"papa?" ternyata ayahnya yang menelpon, ada apa pagi-pagi menelpon? aneh sekali,

tangannya bergerak memencet tanda hijau, lalu tersambunglah dengan suara Evrix'
"Kenapa pah?"

". . ."

"Zira lagi Joging ini"

". . ."

"Loh? kok SMA Angkasa pa? kan Zira mau nya SMA Cakrawala

?"

". . ."

"Ya-yaudah deh, ntar Zira kesana,"

Bertepatan dengan telpon nya yang dimatikan oleh ayah nya, ia menabrak pejalan kaki lainnya yang jika dilihat dari penampilannya sedang joging juga.

Bruukk...

"Awws, aduhh" bokong Zira terhempas ke tanah akibat bertabrakan dengan dada bidang seorang lelaki yang umurnya sebaya dengan Zira

"Maaf kak-" ucap Zira, hanya ia disiniang terjatuh,
seorang laki-laki tadi mengulurkan tangannya, berniat membantu Zira bangkit, Zira menerima nya, karena masih sakit rasanya sulit untuk bangun sendiri

"Hm, lainkali hati hati." sahutnya

"Ya kak,"

"Huzar, jangan kak" Laki-laki itu merasa tua walau hanya di panggil dengan sebutan kak'
"Oh iya ka- eh Huzar" *Aduhh malu banget anjirr, mana ditatap nya gitu lagi.*

"nama?" tanya nya.

"h-hah?"

"nama lo"

"oh nama gue Zira"

"oh, kemana?" didalam batin Huzar, ia bingung dengan diri sendiri, kenapa ia malah kepo? bukan dirinya banget.

*anjir, ternyata ni orang dingin banget, irit bicara, untung gue dah biasa dengar penuturan singkat gini sama papa* batin Zira

HUZZIRA [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang