27. Did it work?

1.8K 185 36
                                        

Genggaman tangan itu terasa hangat bagi nya, begitu familiar dan lembut. Keduanya cukup berlari menjauh dari gedung acara tersebut, gadis itu sedikit menghempaskan tangannya agar terlepas dari sang sosok bertopeng itu.

"Apa-apaan?! Siapa Lo?"

Seseorang bertopeng itu berbalik menghadapnya, dibalik topeng nya, ia sadar dengan tatapan memuja yang diberikan pada gadis yang memakai dress putih di depannya itu. Harin, seperti gadis bidadari dibalik balutan gaun putihnya.

"Harin.. kenapa kamu masih mau ikutin kemauan mereka? Setelah apa yang mereka lakukan ke kamu." Mengabaikan pertanyaan dari Harin, topeng itu masih di sana, hanya menutupi setengah wajahnya. Hidung ke dahi.

Harin kenal betul suara itu, matanya berkaca-kaca, dan tangan nya meraih rahang tegas gadis bertopeng di depannya.

"Sooji.." bisiknya di depan wajah. "Aku kira kamu marah sama aku, maaf, maafin aku kalo aku gak bilang ke kamu.." lirihnya.

Sooji menggeleng, tentu dia tak bisa menyalahkan gadis nya saat ini, semuanya ini perbuatan keluarga Baek. "Kamu gak perlu minta maaf. Yang salah di sini adalah mereka yang membuat kamu seperti ini. Kenapa kamu masih bertahan di sana?"

Harin menghela napas, "aku ngerasa hutang budi. Setelah aku di angkat jadi cucu dari keluarga Baek. Aku ngerasa perlu membalas kebaikan mereka. Itu yang Baek ajarkan."

Sooji terkekeh tak percaya, tangannya yang bersarung tangan mengelus punggung Harin lembut.

"Mana da seperti itu. Kamu tak perlu balas budi ke mereka yang egois, hanya mementingkan kepentingan mereka, tapi mengorbankan batin seorang anak. Itu kah yang kamu bilang kebaikan?"

Harin meneguk ludahnya kasar, tangannya turun ke bahu Sooji, meremas blazer yang membalut tubuh gadis di depannya.

"Tapi, Ji.. mau bagaimana pun mereka keluarga aku. Aku gak bakal bisa lepas dari mereka."

Membuatnya menggeleng merespon Harin, "gak, apapun itu rintangannya, kamu tau kamu gak sendiri. Aku bakal maju buat kamu bisa lepas dari kekangan Baek. Aku bakal buat mereka sadar akan perbuatan mereka."

Harin menggigit bibir bawahnya pelan, mendekati bibirnya pada Sooji. Namun tangan yang dibalut sarung itu menahan bibirnya. Matanya yang sempat terpejam, seketika terbuka, melihat senyuman tipis dari seseorang di depannya.

"Harin.. kita sepertinya memang ditakdirkan satu sama lain. Karena kamu bahkan bisa mengetahui aku walau sudah pakai topeng," ujar Sooji dengan senyum tengil.

Puk!

Lengannya dipukul manja oleh Harin, "ih.. gombal."

"Terus itu kenapa pakai topeng terus. Lepas~" lanjut Harin.

"Gak, nanti penyamaran aku ke bongkar. Ayo pergi dulu, di sana ada mobil aku."

Tangan itu kembali digandeng hangat oleh Sooji, menarik pelan tangan sang bidadari. Dibalik topeng itu hanya bisa tertutup kesedihan yang mendalam.

"Mungkin ini akhirnya. Aku harus ikhlaskan kamu, Harin."

_-_-_-_

Dua orang itu keluar dari ruang staff, salah satunya memegang laptop yang baru saja dipakai untuk membuat live langsung ke keseluruh media sosial.

Saat keduanya akan pergi dari lorong itu, para bodyguard Baek langsung menodongkan senjata pada kedua nya. Ayah Baek bertepuk tangan keras sambil mendekati keduanya.

"Kalian rupanya yang membuat kekacauan di pesta saya? Sunghwa, dan Min young?"

"Baek Jin Wien." Geram Min young.

Ayah Baek itu terkekeh, "masih mengingat ku ternyata, pengkhianat! Kau malah masuk The Clown, setelah bekerja denganku? Cih."

"Diam, brengsek! Anda dan Baek Hyun Joong tidak seperti nona Bona. Kalian keji dan tak punya hati, tak seperti nona." Ujar Min young.

"Bukan keji ataupun tak punya hati. Tapi itu namanya cerdik," jawabnya sambil jarinya mengetuk pelipisnya. "Itu yang biasanya dipakai seorang pengusaha agar perusahaan nya bisa maju, Min young."

Matanya melirik Sunghwa, "saya bukan Baek Hyun Joong yang bodoh, tak bisa memanfaatkan semua kesempatan yang ada."

"Apa maksud mu?" Tanya Sunghwa yang sadar bahwa dirinya ditatap aneh.

Jin Wien tersenyum licik, "kalian bisa keluar hidup-hidup dari sini. Tapi dengan satu syarat."

Kedua tangannya terbuka lebar, menatap keduanya. "Bekerja sama lah dengan ku."

_-_-_-_

"Para reporter berkumpul di depan rumah keluarga Baek, yang tentu penjagaan ketat yang dilakukan oleh keluarga Baek menghambat seluruh pemeriksaan. Membuat kepolisian semakin curiga, dan mendapatkan surat sah untuk penyelidikan lebih lanjut. Saat ini-"

Televisi itu dimatikan. Gadis berkacamata itu membetulkan posisi kacamata nya, dan berbalik menghadap kedu orang itu.

"Jadi.. ayo mulai operasi nya. Bona, Sooji."

Keduanya saling bertatapan dengan gugup, termasuk Doah, yang melakukan pencatatan dari hasil operasi Transmigrasi Machine tersebut.

Sooji masuk ke dalam tabung kiri dan Bona masuk ke dalam tabung kanan. Dua gadis itu perlahan dibius, dan tabung itu dibuat tidur. Semua vital-vital mereka dimonitor melalui komputer besar di tengah-tengah tabung itu.

Transmigrasi Machine itu diotak-atik sesuai prosedur. Dengan pengalihan jiwa dan tubuh yang disesuaikan. Dan tombol hijau itu ditekan, dan perpindahan jiwa itu dimulai.

Suara dengungan yang menyakitkan, dan seketika tubuh Bona sedikit kejang-kejang. Detak jantung Sooji menurun. Ini memang beresiko, tapi ini satu-satunya cara agar mereka bisa kembali.

"Kumohon.. semoga ini bisa berjalan lancar. Dan berhasil membuat mereka kembali ke tubuh mereka sebenarnya." Harap Doah.

_-_-_-_

Kelopak itu bergerak, dan kemudian terbuka perlahan, matanya berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.

"Lo udah sadar, Bona?"

Kepalanya dengan sedikit kaku menoleh ke samping kanannya. Dia ingat siapa gadis berkacamata itu.

"Doah.." panggil nya dengan suara serak. "Ini.. berhasil?"

Doah tersenyum senang. Dan mengambil cermin, ditunjukkan lah refleksi wajah dari Bona. "Berhasil. Astaga, gue deg-degan banget pas tadi pas Lo sama Sooji mengalami penurunan.."

Bona menatap bayangan wajahnya yang ada di cermin. Rasanya, rindu juga akan wajah aslinya. Jika dilihat-lihat, tak begitu jauh berbeda dengan wajah Sooji.

"Tapi gue bahagia, Lo sama Sooji baik-baik aja. Terlebih, Lo Bona. Gue khawatir banget," sahut Doah, membuat Bona mengangkat wajahnya agar dapat melihat wajah Doah.

Kalau dilihat-lihat, gadis berkacamata itu cantik, dan semakin hari semakin riang. Padahal awalnya mereka tak sedekat ini. Pahatan wajah yang sempurna itu, membuat ujung bibirnya terangkat.

"Gue juga senang.. ternyata semua jerih payah Lo sama tuan Seo berbuah hasil."

Doah mengangguk dan menatap sayu Bona. Tangannya mengelus rambut gadis yang masih di ranjang. Bibirnya terbuka pelan.

"Gue juga ngerasa lebih bebas, kalau kayak gini, Bon. Jadi gue gak merasa bersalah kali deket sama Lo, karena Lo bukan lagi di dalam Sooji. Sekarang Lo Bona, Bona yang asli."

Mata mereka bertatapan, dalam sunyinya ruang itu.

Just You and Me [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang