06

739 72 19
                                        

-- Typo's --

----
"Jadi, lo kesini mau ngasih bukti? Kenapa ngga lo kasih ke polisi."

"Lah, lo udah tua kaga bisa mikir apa gimana bang?" Langit yang tadinya hendak menyeruput kopi seketika terhenti dan menatap Lintang begitu tajam.

Lintang mengatupkan bibirnya, lalu mengangkat kedua jari tanda perdamaian. Langit berekspresi jengah, kemudian Ia menyeruput kopinya dengan khidmat.

"Kalau gua ngasih ke polisi yang ada gua di bungkam terus disuruh ngaku kalau gua beneran pelaku, lagian lo ngga baca kasusnya bang? Gua rakyat biasa yang kebetulan bapak gua jaksa loh, mereka berlima anak anak pejabat yang gelarnya tinggi. Mana berani gua anjir, gua tau batas."

"Mereka masuk UGD?"

Lintang menepuk keningnya, "Iya itu kan bentuk perlindungan..." Berpikir sejenak "Eumm, maksudnya perlawanan. Cuma ya gua kelepasan, yang dimana gua korban gua malah jadi pelaku kan anjing ya bang."

"Mana buk-"

Langit membulatkan matanya ketika Lintang tiba tiba membuka bajunya, bahkan tubuhnya sampai mentok ke sandaran kursi. "L-lo mau ngapain anjir bocah???!" Tanyanya gugup.

Lintang melempar bajunya, kemudian Ia berbalik memperlihatkan luka di punggungnya "Lo tau kaga bang? Ni punggung mulus nan ringkih ini, dengan prihatinnya digebukin ama mereka tiap hari."

"Ngeri juga." Langit menelan ludah, "Mau liat bukti lain? Nih!" lagi, Lintang menggulung celana panjangnya sebatas lutut, memperlihatkan betisnya yang banyak luka.

Langit menghela nafas, lalu Lintang merogoh sakunya dan memberikan flashdisk pada Langit. "Thanks to temen sekelas gua yang kaga bisa apa-apa selain ngerekam, gua jadi punya bukti."

"Lagian, kenapa lo pengen masuk Never?"

"Mereka ngancem, kalau gua berani lapor mama gua yang bakalan jadi korban, bang. Gua rela mati, asal mama jangan. Gua mohon, dengan status gua anggota Never, mereka ngga akan berani ganggu gua."

"Lo manfaatin Never demi kepentingan lo pribadi dong?"

Lintang berlutut, tangannya disatukan mengepal dengan ekspresi wajah memohon.

"Sumpah tolong, gua bingung harus minta bantuan kemana lagi."

"Lah, lo kan punya bapak ngga kek gua yatim."

"Dark anjing bang masih siang, lagian bapak gua mana peduli anaknya di gimana gimana-in. Mental gua beneran kacau banget rasanya bang kalau di tumbuk sana sini, hati gua kasianan ini mau mati. Tolong, sumpah tolong."

Langit terpaku sejenak, "Ngga pernah sekalipun, lo memohon kaya gini Bintang." Dan itu membuat Langit kesakitan.

Ia mengalihkan pandangan, tak mau menatap Lintang yang berlutut dihadapannya. "Oke, gua bantu lo. Gua kabarin ke anak anak, lo resmi masuk Never."

"Astaga dragon, semudah itu? Terima kasih Tuhan, aku cinta kepadaMu."

"Najis alay lo bocah."

----
To be Continued...

Lapak Kritik, Saran, dan Diskusi :

pov gelud, itu ceritanya yang dibelakang nyamuk (langganan penulis) ya, atau pajangan dinding deh kamar penulis deh

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

pov gelud, itu ceritanya yang dibelakang nyamuk (langganan penulis) ya, atau pajangan dinding deh kamar penulis deh.

Follow akunku, mau aktif nulis lagi nih xixi.

Langit dan Lintang | S2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang