Kristal pilu itu mengalir perlahan, terus menetes seolah membawa serpihan kenangan hati yang mulai memudar. Kakinya bahkan bergetar dan lekas kehilangan keseimbangan. Yah, dia jatuh terduduk sembari memegang figura foto dengan kaca yang pecah. Dari ujung jemarinya yang rapuh itu kini telah teraliri oleh sepercik darah hangat. Ah, rupanya jemari itu terus mengelus foto dalam figura meskipun tau tajamnya kaca yang telah pecah akan melukainya.
-Kita mungkin tak berada dalam satu garis keluarga, tapi kamu akan selalu jadi saudara kecilku, Sagara-
Mungkin hanya sekedar satu kalimat yang begitu sederhana. Namun hal ini sudah cukup menggetarkan hati Sagara. Tulisan tangan yang berada dibelakang foto dalam figura itu mampu membawa kenangan masak kecil mereka. Dan lebih mengejutkannya, Dion memiliki perasaan lebih dari sekedar teman, dia menganggap Sagara sebagai saudara. Meskipun tak memiliki hubungan darah, namun ikatan ketulusan Dion pada Sagara membuatnya melihat Sagara sebagai sosok saudara yang sudah seharusnya dijaga.
"Kenapa baru sekarang? Kenapa gua baru tau kalau lu masih tetap nganggep gua saudara? Gua kira lu bakal lupain hubungan kita ini karena gimanapun lu mulai ninggalin gua sejak deket sama Kevin"
"Harusnya lu ngucapin kalimat dibalik foto ini secara langsung! Kenapa lu biarin gua yang baca ini? Kenapa lu pergi?"
Mau bagaimanpun Sagara menangis dan meraung sekarang, itu tak akan mengembalikan situasi. Kepergian Dion tetaplah kenyataan yang harus diterima, sepahit apapun itu. Penyesalan ini akan tetap menjadi bayang-bayang yang selalu membisikkan kata-kata 'seandainya' pada diri Sagara. Ya, seandainya saja dia mampu memperbaiki hubungan mereka....
Sampai saat-saat terakhirnya pun, mereka taakan pernah mengerti perasaan tertekan yang telah Dion alami. Anggap saja dia pengecut karena tak bisa lepas dari sangkar yang telah Kevin buat, namun hatinya memakas untuk tetap bertahan. Dia harus bertahan, demi bocah yang sangat ia sayangi sebagai saudara tak sedarahnya itu.
"Gua minta maaf atas segalanya ya, saudaraku" ujar Sagara pelan dengan tangis yang telah mereda
Hembusan angin tipis terasa, samar-samar seperti terlihat kabut tipis merangkul pundak mungil yang tadinya bergetar. Rangkulan itu tampak begitu nyata, bahkan atmosfer ruangan itu menjadi lebih hangat bagi Sagara.
'Kapan gua nggak maafin lu? Sampai kapanpun selalu ada kata maaf Sagara'
Entah halusinasi atau bukan, akan tetapi bisikan suara itu mengalun begitu lembut menyapa daun telinga Sagara. Saat matanya menoleh tetap saja yang ditemukan hanya kekosongan yang diiringi rasa sepi.
.
.
.
.
"Apa om yakin Sagara bakal baik-baik aja disana?" Tanya Revan yang tentu pada setiap katanya terselip keraguan
"Saya sudah memintanya untuk beristirahat di kamar, seharusnya semua akan baik-baik saja" balas Bara sedanya
Yah, mereka meninggalkan kediaman Sayora dan segera bergegas menuju bandara untuk menyampaikan informasi terkait tindakan Rasya dan Kevin.
Kenapa tidak menghubungi melalui telepon atau cara lainnya? Tentu saja karena Rasya menyabotase semua perangkat itu! Satu-satunya cara meluruskan fakta mengenai kejadian malam itu hanya dengan menemui Arland secara langsung. Bukankah melenyapkan seluruh keluarga Aprilio adalah cara terbaik untuk balas dendam? Tapi tidak dengan Bara, bagaimanapun terlepas dari jabatannya, Arland adalah sahabatnya, bahkan Sagara sudah dia anggap sebagai keponakannya.
Sebelum Rasya menemui Arland yang akan segera mendarat di bandara selepas melakukan perjalanan bisnis, mereka harus sampai terlebih dahulu!
"Lagipula ivi akan menjaga Sagara, karena kami sudah menganggapnya istimewa selayaknya keluarga. Terlebih lagi teman mu Rengala juga ada di sana" lanjut Bara agar Revan tak mengkhawatirkan temannya itu
KAMU SEDANG MEMBACA
Help a Rich Boy
FantasyTransmigrasi protagonis? antagonis? figuran? Mau adu nasib sama Alkan Devano yang baru aja tidur malah kebangun di raga burung merpati. ----------------------------------------------------- Saat ini ia mulai mengamati tubuhnya sendiri, kaki bentukn...
