19.

7 0 0
                                        

Hari ini adalah hari yang menyebalkan bagi Dahlia. Bagaimana tidak hari ini ia harus menggantikan rekannya untuk jaga malam. Berarti hari ini ia sudah kerja full day, maka dari itu ia harus meminta jatah cuti lagi atau paling tidak gajinya bulan ini harus ditambah.

Saat sedang senggang, Dahlia minta izin untuk ke bawah, ke kantin untuk membeli kopi sebagai teman untuk memulai sift malam. Ia harus minum kopi kalau tidak mungkin Dahlia tidak akan bertahan malam ini.

Kantin rumah sakit berada di paling belakang lantai dasar rumah sakit. Kantin juga dekat ruang ICU rumah sakit ini.

Pada saat Dahlia melewati ruang ICU tepat pada saat itu juga pintu kaca ruang ICU terbuka dan muncullah Vian.
Wajahnya juga tidak kalah terkejutnya dengan Dahlia. 

"Dokter Vian, apa yang anda lakukan?"

"Eh, anu... saya habis visit pasien" ujar Vian gagap

Dahlia tersenyum ia sudah tau kalau di ruangan ICU tidak ada pasien yang membutuhkan dokter jantung seperti Vian, "Dokter bohong ya?"

"T-tidak..."

"Dokter bilang saja sama saya, janji deh gak akan bilang-bilang."

Vian menatap Dahlia sebentar lalu pandangan turun ke kakinya. Lalu tidak terasa setitik bulir bening jatuh mengenai ujung sepatunya kemudian dihapusnya dengan terburu-buru agar tidak di lihat Dahlia. Kemudian Vian mulai menceritakan kisahnya.

Awalnya Dahlia tidak percaya namun begitu menatap matanya ia sama sekali tidak menemukan kebohongan disana. Lalu secara tiba-tiba ia memeluk Vian tanpa ia sadari.

"Dokter yang sabar ya dan semoga Ayah anda cepat sadar dari komanya,"

***

Sudah hampir seminggu lebih Retha tidak menemui Evan. Tepatnya sejak pengumuman yang diberitakan oleh Papa Evan. Entahlah, Retha jadi malas untuk bertemu dengan sahabatnya itu.
Bahkan hanya untuk sekedar menanyakan kabar.

Pintu diketuk dari luar secara terburu-buru, lalu seorang suster pun masuk dengan nafas terengah-engah.

"Dok gawat, keadaan pasien atas nama Hanni... situasinya memburuk!"

Mendengar nama salah satu pasiennya disebut membuat Retha panik, ia buru-buru menyambar stetoskop miliknya yang ia simpan diujung meja dan berlari menghampiri kamar Hanni.

Sesampainya di ruang rawat Hanni dilihatnya banyak perawat, termasuk Dahlia. Yang paling menarik perhatiannya adalah dokter yang sedang menolong Hanni.

Dokter itu terlihat sangat gagah, apalagi saat melakukan CPR. Dari lengan kemeja yang sengaja di gulung keatas hingga memperlihatkan otot tangannya yang kekar. Jelas membuat kaum hawa tidak dapat menahan rasa terpesonanya. Dokter itu seperti sedang menunggangi seekor kuda putih.

Sama halnya dengan Retha ia sangat terbius dengan pesona Vian yang terlihat gagah. Sampai ia tidak sadar sudah membuka sedikit mulutnya dan mencengkeram gagang pintu dengan kuat.

Melihat kelakuan sahabatnya yang tidak biasa membuat Dahlia kebingungan. Pasalnya ia belum pernah melihat kelakuan Retha yang seperti ini. Pandangan Retha terfokuskan pada satu titik yang membuatnya terpesona.

Dan arah pandang Retha menuju dokter Vian. Dahlia menatap keduanya dengan pandangan tidak suka dan penuh curiga.

Prang

Semua orang menatap kearah sumbr suara. Karena kesal Dahlia menendang troli obat hingga beberapa obat dan peralatan medis jatuh.

"Maaf, akan saya ambilkan yang baru."

***

Wkwkwk perseteruan antara sahabat telah dimulai. Siapa kira-kira pemenangnya?

Salam hangat, Koala Kecil 🐨🐨🐨

B.I.L (Because I Love)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang