16.

6 1 0
                                        

Darwin tengah memijat kepalanya yang sedari tadi berdenyut. Ia saat ini sedang pusing memikirkan nasib proyek pembangunan vila di Bali yang bermasalah akibat salah satu kontraktor yang menggelapkan uang untuk membeli bahan baku.

Narendra yang melihat itu diam-diam tersenyum meledek Darwin. Ia seperti mengetahui sesuatu dibalik penggelapan dana itu.

"Huft gimana ini, dra. Apa kamu ada ide untuk menyelesaikan masalah ini?"

"Bagaimana kalau kita relakan saja?"

"Relakan katamu?"

Tiba-tiba saja Darwin berdiri dari duduknya sambil tertawa terbahak-bahak.

Tiba-tiba ia langsung mencengkeram kerah kemeja Narendra dan mendekatkan wajah mereka, "Apa kau ingin melihat putrimu tidak bekerja di rumah sakit keluarga sehat, hm?!"

"Ka-kalau proyek itu membuat pusing, lebih baik menyerah bukan?"

Darwin melepaskan cengkraman pada kerah kemeja Narendra sembari tertawa keras.

"Kalau menyerah berarti mental kamu lemah, pantas saja kamu tidak cocok bekerja dibidang ini."

Narenda menunduk sambil tersenyum malu. Tapi sebenarnya di dalam hati nya ia sangat marah terbukti dari tangannya yang mengepal hingga bagian urat nadi sampai terlihat.

"Oh ya bagaimana kalau kita menjodohkan anak-anak kita? Kalau dilihat-lihat mereka cocok juga." kata Darwin tiba-tiba

Narendra hanya bisa tersenyum untuk menutupi keterkejutannya.

'Jangan harap, Win!' ucap Narendra dalam hati.

Lain di wajah, lain di hati ungkapan itu sangat cocok dengan Narendra saat ini.

***

Evan memarkirkan mobilnya di tempat parkir depan UGD. Ia keluar sambil menenteng 2 bungkus makanan, rencananya akan ia makan ersama Retha.

Sayangnya rencana itu harus gagal karena dilihatnya sedari tadi banyak mobil ambulance datang dan pergi. Bukan Evan namanya kalau ia tidak memaksa masuk meski suasana di dalam sedang kacau.

Evan mulai mengedarkan pandangan matanya dan menangkap sosok Retha yang sedang menangani pasien. Ia tersenyum ketika melihat perempuan itu memakai baju dokter dan sedang berusaha menyelamatkan nyawa.

Sampai enyuman Evan luntur ketika melihat Vian datang membantu Retha.
Puncaknya pada saat Vian memegang tangan Retha untuk melakukan CPR.

Saat itu juga mata dan telinga Evan berubah warna menjadi merah, tangannya terkepal dengan kuat. Evan berjalan kearah Retha dan langung menarik tangannya, membawanya ke area tempat parkir.

"Retha apa kau sudah gila?"

"Maksudmu? Aku hanya menjalankan tugasku,"

Laki-laki itu tampak menahan amarahnya,

"Jangan dekati Vian lagi, oke!?"

"Apa hakmu mengaturku?"

Tangan Evan terkepal marah, kali ini ia sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.

BUGH.

Evan memukul mobilnya hingga penyok sedikit.

"Karena kau itu tunanganku mulai sekarang!"

Retha tidak dapat berkata-kata, tubuhnya terlalu berat untuk ia gunakan. Detik selanjutnya ia tertawa keras,

"Sepertinya kau sangat tergila-gila padaku, ya?"

Kali ini gantian Evan yang terdiam mendengar perkataan Retha.

"Apa lo salah makan? Kita itu mustahil untuk bersama."

Tiba-tiba saja Evan menarik pergelangan tangan Retha dan mengurung tubuhnya agar tidak bisa bergerak.

"KAU ITU MILIKKU DAN AKAN SELAMANYA SEPERTI ITU!"

Entah sejak kapan air mata Retha berkumpul dan sekarang jatuh membasahi pipi putihnya. Melihat itu Evan langsung pergi entah kemana dengan mobilnya.

Kaki Retha tidak bisa menopang tubuhnya, ia membiarkan tubuhnya jatuh ke tanah.

"Ini pertama kalinya kau membentakku, Van. Kenapa rasanya sakit sekali"

***

Jangan lupa like, share and comment ^^

Instagram; jwiter00

Koala Kecil 🐨🐨🐨

B.I.L (Because I Love)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang