Sepanjang perjalanan Retha diam saja padangannya menatap kosong keluar jendela dan Evan pun hanya bisa ikut terdiam melihat sahabatnya melamun. Laki-laki itu tidak tahu masalah apa yang sedang dihadapi Retha, tapi jika dilihat dari sikapnya saat ini pastilah itu bukan masalah sepele. Tiba-tiba terdengar suara isakan dari bangku sebelah dan Evan langsung melihat ke arah Retha.
Dilihatnya perempuan itu menutupi wajhnya dengan tangan, bisa ia pastikan pujaan hatinya sedang menangis. Langsung saja Evan menepikan mobilnya,
"Kenapa Re, apa masalah lo? Coba cerita,"
Bukannya bercerita justru Retha tambah mengeraskan isakannya dan bahkan ditariknya Evan ke dalam pelukannya.
Awalnya laki-laki itu terkejut tapi lama ke lamaan Evan pun balas memelik Retha, membiarkan perempuan itu menangis disana. Tidak lupa juga Evan memberikan belaian pada rambut Retha.
Setelah beberapa lama akhirnya tangis Retha pun reda, peremuan itu melepaskan pelukannya pada laki-laki
di hadapannya, "Van, nikah yuk?"
Evqn cukup terkejut dengan ajakan dadakan Retha. 'Dia... aku tidak salah dengarkan ini?' tanyanya dalam hati. Tapi sayangnya belum sempat ia menjawab Retha tertawa dan berkata,
"Hahaha, kamu pasti anggap aku gila kan?"
Evan diam tidak merespon.
"Aku udah jelas berkali-kali nolak kamu, tapi sekarang..."
Ya, memang sudah berkali-kali Evan menyatakan perasaannya pada Retha namun selalu ditolak dengan alasan yang sama, tidak ingin merusak persahabatan katanya.
***
Setelah acara 'nembak dadakan' selesai kini mobil kembali dijalankan Evan mengarah pulang kembali ke apartemen Retha. Saat mobilnya berhenti di lampu merah, tiba-tiba ada suara kerikil yang mengenai kaca jendela belakang mobil. Sontak hal itu membuat Evan dan Retha serempak menoleh ke sumber bunyi. Namun tiba-tiba saja lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, jadi mau tidak mau Evan menjalankan mobilnya.
Setelah selesai mengantarkan Retha ke depan pintu unitnya Evan segera kembali ke dalam mobilnya dengan perasaan yang... entahlah ia sendiri tidak tahu pasti. Pada saat ia menstart mobilnya ia juga melihat sebuah mobil dibelakangnya yang baru di starter oleh pemiliknya. Evan tidak menghiraukan mobil itu dan memasang seatbelt sebelum laki-laki itumenjalankan mobilnya.
Saat Evan berhenti karena lampu merah, ia mengambil ponselnya untuk sekedar mengusir rasa bosan menunggu lampu berubah hijau. Walaupun jaanan sudah mulai sepi, tetapi Evan tetap mematuhi peraturan jalanan. Saat lampu berubah menjadi hijau, dari arah belakang terdapat sebuah mobil yang melaju kencang ke arah mobil Evan dan terjadilah,
BRAK
Tubuh Evan sedikit terhempas ke depan, kepalanya menabrak setir hingga membuat kepalanya memar. Ia pun segera turun sambil memegangi keplanya yang sakit akibat benturan dan menghampiri orang yang menabrak mobilnya.
Tapi baru saja laki-laki itu hendak bicara, sebuah tinjuan langsung mendarat di perutnya hingga ia jatuh tersungkur. Saat ia sedang terbatuk-batuk sambil memegangi perutnya laki-laki asing itu berkata,
"Jauhi cewek terdekat lo kalo lo gak mau celaka!"
"S-siapa yang ka-"
BUGH
Lagi-lagi Evan harus mendapat tendangan di bagian perutnya. Saat ia telah berhasil berdiri kembali laki-laki asing itu telah berada di dalam mobil dan melaju pergi.
Evan hanya dapat memperhatikan mobil itu melaju pergi meninggalkannya yang masih memegangi perutnya yang terasa sakit. Di kepalanya terngiang-ngiang perkataan laki-laki itu.
'Siapa yang dia maksud, apakah Retha?'
***
KAMU SEDANG MEMBACA
B.I.L (Because I Love)
Teen FictionSejak insiden itu, Retha dipaksa menikah dengan Evan. Sementara itu ia memiliki perasaan romantis dengan orang lain yang juga satu profesi dengannya. Ketika Retha sudah membuat keputusannya, orang yang telah membuat hidupnya menderita kembali masuk...
