38.

9 0 0
                                        

Sudah hampir satu bulan sejak batalnya pernikahan mereka. Retha terakhir melihat dan berbicara dengan Evan saat di rooftop hotel. Tidak ambil pusing, dokter muda itu pun memilih untuk mensibukkan dirinya dengan menerima banyak pasien.

Dan soal Vian...

Dokter muda itu kegiatannya tidak jauh berbedq dengqn Retha. Dan entah mengapa dokter itu malah menghindari Retha. Dirinya sendiri bahkan tidak tahu alasan ia menghindari perempuan itu. Karena merasa tidak enak dengan Retha, laki-laki itu pun secara perlahan mulai mendekati Retha. Bahkan Vian berencana akan memberikan kejutan pada Retha.

Suatu hari di jam makan siang Retha baru saja hendak keluar ruangannya, bertepatan dengan Vian yang hendak mengetuk pintu ruangan itu. Gadis itu memadang raut wajah terkejut sekaligus herannya tapi buru-buru ia ganti dengan senyuman manis.

"Dokter Vian? Ada apa, tumben banget, "

Vian hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Saya hanya ingin ma-"

Belum selesai kalimatnya itu diucapkan seorang perawat datang dan menyela ucapan Vian.

"Dok, gawat. Pasien bed B kamar F alami kejang!"

"Apa?"

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Retha dan perawat itu pun berlari dan meninggalkan Vian seorang diri.
Dengan terpaksa Vian harus makan seorang diri.

***

Tampaknya waktu tidak mengizinkan Retha untuk bertemu Vian. Pasti ada saja hal yang mengganggu niat Vian untuk berduaan dengan Retha. Mulai dari panggilan telepon dari UGD, perawat ataupun murid pelatihan yang sedang menjalani masa koasnya.

Tidak jarang Vian menyaksikan beberapa murid koas Rethayang notabene laki-laki tengah menatap Retha dengan pandangaan kagum dan penuh perasaan. Dokter tampan itu hanya bisa memandangi mereka dengan pandangan cemburu sambil menggertakkan giginya menahan marah.

"Tembak yan, keburu diambil orang nanti." kata dokter Galih yang tiba-tiba datang

"Tapi om,"

"Kamu lama banget, nanti keduluan jangan cari om!"

Vian terdiam sebentar lalu ia tersenyum setelah membuat keputusan dalam hatinya.

***

"Ini resenya, semoga anda cepat sembuh ya."

Itu adalah kalimat terakhir sebelum pasien Retha yang terakhir keluar. Retha merasa seluruh tubuhnya sudah remuk. Ia mengangkat kedua tangan ke udara untuk melakukan peregangan. Lalu segera memcopot jas putihnya dan menyambar tas miliknya. 

Tapi saat Retha membuka pintu ruangannya, ruang tunggu yang seharusnya terang benderang itu menjadi gelap. Seketika bulu kuduknya meremang ketika melihat sosok  berwarna putih menyerupai manusia berdiri tidak jauh dari depan pintu ruangannya.

Perlahan-lahan Retha mendekati sosok itu dan dengan debaran jantung
yang tidak tertahan ia menepuk sosok itu. Pada saat ditepuk, sosok itu berbalik dan memperlihatkan wujud aslinya dan serempak lilin-lilin putih menyala, membentuk tulisan  'will u marry me?'

Sontak saja Retha terkejut dan Vian tengah berlutut sembari memegang sebuah buket mawar dan sekotak cincin.

Belum sempat Vian mengungkapkan perasaannya dengan kata, Retha lebih dulu menganggukan kepalanya.

"Aku bersedia menikah dengan dokter!"

Vian pun langsung bangkit berdiri dan memeluk Retha dengan erat. Setelahnya ia elepaskan pelukan itu dan memakaikan cicin pada jari manis Retha. Akhirnya penantiannya lunas terbayar, tidak sia-sia ia bersabar selama ini.

                         The end

Terimakasih buat para pembaca yqng udah setia membaca cerita ini sampai tamat ❤🤗

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 10, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

B.I.L (Because I Love)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang