35.

3 2 0
                                        

Di dalam ruang rias pengantin, Retha sedang di rias. Hanya tinggal memberi srntuhan terakhir saja lalu selesai. Tapi pada saat penata rias akan mengoleskan lipstik ke bibir tipis milik Retha, gadis itu justru mencebikkan bibirnya, yang membuat satu goresan yang keluar dari bibirnya tergambar.

Penata rias itu hendak meminta maaf, namun baru saja hendak menghapusnya gadis itu malah
memukul meja dengan kuat, membuat semua penata rias terlonjak kaget dan langsung menundukkan wajahnya takut.

"EVAN, AWAS KAMU YA!"

"Ah maaf, apa aku mengejutkan kalian? Maaf ya,"

Retha tersenyum malu dan meminta maaf atas sikapnya barusan.

"Aku hanya agak marah dengan pengantin laki-laki. Itu saja,"

"Memang jika mau menikah ada saja halangannya, kak."

Retha tersenyum terpaksa, dalam bayangannya terlintas sebuah ingatan kemarin saat sedang melakukan persiapan pernikahan.

"Van, nanti aku mau upacaranya outdoor ya. Semi juga gak apa-apa,"

Dengan senyuman di wajah, "Oke."

Lalu mereka mulai memilih pakaian pengantin dan riasan. Semua dipilih berdasarkan keinginan
Retha.

Akan tetapi pada hari H, kenapa semuanya berbeda dengan keinginan Retha? Mulai dari lokasi
tempat upacara, gaun pengantin bahkan makanan yang tersaji semua jauh dari keinginan Retha.

Sebelumnya ia sudah bertanya pada Evan bahkan laki-laki itu sudah menyetujuinya.

Tiba-tiba pintu ruang rias di buka dari luar dan muncullah Evan dengan senyuman di wajah. Retha
kesal setengah mati melihat senyuman itu dan menyuruh orang yang meriasnya keluar sebentar
karena ia ingin  bicara pada pengantin laki-laki.

"Sudah siap jadi istri ku?" tanya Evan dengan senyuman di wajahnya

Sementara Retha masih menunduk. Perlahan tapi pasti gadis itu mulai mendongak drngan wajah menahan
marah. Di cengkramnya kuat karangan bunga yang ada di tangannya.
Evan ingin berjalan menghanpiri Retha
tapi, kejadian yang tidak terduga terjadi. Bukan disambut
dengan senyuman, Retha malah melemparkan karangan bunga itu dan hampir mengenai wajah Evan.

"Retha? Ada apa? Kok marah?"

"Serius lo nanya?"

Retha langsung beralih dari duduknya dan menatap Evan lalu menunjuk gaun pengantinnya.

"Kenapa ini berubah? Dekornya? Semua gak ada yang sesuai!"

Retha langsung keluar dari ruangan
itu, meninggalkan Evan seorang diri.
Laki-laki itu langsung meronggoh saku jasnya untuk menelepon Ayahnya untuk menanyakan hal ini padanya.

"Ayah dimana?"

Dan tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, dan Darwin muncul dengan senyuman yang merekah.

"Apa Ayah yang merombak ulang segala keputusan Retha?"

"Kenapa? Kamu pasti suka kan?"

Evan menggelengkan kepalanya perlahan, lalu keluar dengan langkah gontai. Membuat Darwin heran dengan putranya itu.

***

Evan dan Retha sudah bersiap-siap di depan pintu aula, sebentar lagi mereka akan memasuki altar pernikahan. Tapi senyuman sama sekali tidak tergambar diwajah mereka, justru raut kekesalan dan
bersalah yang terpampang.

"Rere, aku minta maaf,"

Diam. Tidak ada tanggapan dari Retha

"Aku benar-benar gak tahu, Re"

Baru saja Evan hendak berbicara, tapi pintu aula kembali terbuka dan Retha dan Evan dipersilahkan berjalan ke altar. Perlahan-lahan keduanya berjalan sembari memberi salam pada
setiap tamu yang hadir.

Tapi sampai belum sampai di tengah-tengah ballroom, sebuh suara terdengar di seluruh ruangan
membuat Evan dan Retha sama-sama ikut menoleh. Dan tiba-tiba saja air mata Evan jatuh bersamaan dengan tanggannya yang menuntun tangan Retha, membuat gadis itu heran dengan calon suaminya.

***

Salam hangat, Koala Kecil 🐨🐨🐨

B.I.L (Because I Love)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang