32.

6 0 0
                                        

1 setengah jam sebelum kejadian penembakan.

Sebuah mobil berhenti di lobby apartemen dan seketika Retha yang sedang menunggu tersenyum senang sambil membuka pintu penumpang samping kemudi. Setelah perempuan itu mobil melaju meninggalkan apartemen.

Tidak lama kemudian mobil yang dikendarai oleh Evan harus berhenti karena saat ini lampu lalu lintas sedang berwarna merah.

"Kita kemana, van?"

"Ke butik langganan mama aku. Kita cari baju pengantin disana."

Meski mulut Retha berkata 'baiklah', tapi raut wajahnya menunjukkan ketidaksukaan. Setelah Evan bertanya ada apa, awalnya Retha tidak ingin menjawab pertanyaan itu namun Evan mendesaknya.

" Aku sebenernya udah bikin janji sama butik yang di dekat rumah sakit, Van,"

Evan terlihat berpikir sejenak dqn tidak ama menyetujui permintaan Retha.

Retha duduk menunggu sambil mengingat kejadian sejam yang lalu, saat Evan menjemputnya di apartemen. Laki-laki itu terlihat bahagia, sangat bahagia. Bahkan ketika Retha menganjurkan untuk ketempat lain, Evan mengiyakan perkataan perempuan itu.

Saat ini Retha hanya bisa menunggu Evan selesai ditangani oleh dokter jaga UGD. Ia terlihat meremat tangannya dan dalam hati tidak henti-hentinya berdoa kepada Tuhan. Saat perempuan itu sedang mengalihkan pandangannya, tidak sengaja ia melihat Vian yang juga sedang menatapnya.

Buru-buru Retha menghapus jejaak air mata pada wajahnya dan berpura-pura tegar. Tqpi saat Vian sampai dihadapannya, air matanya tanpa permisi mengalir. Vian yag merasa iba dengan keadaan Retha segera memeluknya dan tangisannya pecah saat itu juga.

Setelah Retha puas menangis, barulah Vian menanyakan apa yang terjadi dan kenapa perempuan itu bisa berada di rumah sakit ini.

"Yan, Evan tertembak. Hiks, aku... gimana nasib aku, bentar lagi-"

Perkataan Retha terhenti ketika dokter keluar dari ruangan UGD. Retha yang sangat khawatir dengan keadaan sahabat terdekatnya langsung berlari menghampiri dokter dan bertanya tentang keadaannya.

"Pasien baik-baik saja, untungnya peluru tidak menembus bagian organnya."

"Syukurlah.  Boleh saya masuk?"

Setelah dipersilahkan masuk, Retha melangkah masuk dengan terburu-buru. Begitu melihat Evan yang berusaha bangun, Retha langsung berlari memeluk laki-laki itu. Tanpa ia sadari, Vian yang melihat kejadian itu diam-diam mengepalkan tangannya menahan amarah.

"Va, syukurlah kamu gak apa-apa. Tadi aku panik setengah mati sama kamu."

Evan terkekeh mndengar perkataan Retha, "Sorry ya, udah bikin kamu khawatir."

Tiba-tiba Vian yang sedari tadi diam pun berdehem, membuat 2 orang itu seketika menoleh kearahnya.

Sebenarnya sedari tadi Evan menyadari kehadiran Vian tetapi ia sengaja purq-pura tidak menadari ke hadiran Vian. Tujuannya, bukankah sudah sangat jelas. Apalagi kalau bukan untuk engaja memanas-manasi Vian. Menunjukkan pada Vian bahwa dirinya telah berhasil merebut hati Retha.

"Oh ada dokter Vian juga disini,"

"Tadi kebetulan ketemu diluar." jelas Retha

Vian tersenyum masam mendengar penjelasan Retha. Tiba-tiba Evan merogoh saku celananya dan memberikannya pada Vian.

"Ini..."

***

Kira-kira apa ya yang dikasih Evan ke Vian? Tulis di kolom komentar ^^

Salam hangat, Koala Kecil 🐨🐨🐨

B.I.L (Because I Love)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang