33.

7 1 0
                                        

Vian menutup pintu UGD dengan pelan namun api kemarahan berkobar di dalam hatinya. Matanya melihat sebuah undangan yang baru saja diberika oleh Evan. Di halaman depannya tertera nama Evan dan Retha, saat membacanya membuat perasaannya bercampur menjadi satu. Ketika hendak melangkah menuju tempat sampah terdekat, tiba-tiba pintu ruqngan UGD terbuka dan memunculkan sosok yang menarik perhatian Vian selama ini.

Retha sedikit terkejut melihat Vian apalagi Evan baru saja memberikan undangan pernikahan mereka, membuat keduanya sedikit canggung saat bertemu. Retha sedikit menundukkan kepalanya dan tersenyum canggung saat melewati laki-laki itu.

"Dokter Retha! Bisa kita bicara sebentar,"

Retha yang terkejut segera menoleh dan mengiyakan ajakan tersebut. Dan diinilah mereka sekarang, duduk berdampingan di bangku taman ditemani pemandangan sore.

Awalnya tidak ada pembicaraan antara keduanya, hanya ada suqrq canda tawa ppasien anak-anak yang terdengar. Sampai akhirnya Vian lebih dulu membuka percakapan,

"Selamat atas pernikahannya,"

"Terima kasih."

"Apa... dokter bahagia?" tanya Vian menatap Retha dengan pandangan sendu.

Retha cukup terkejut dengan pertanyaan Vian, namun sebisa mungkin ia memasang wajah tersenyum. Tapi mulutnya menghianatinya, "T-tentu."

Tiba-tiba Vian mengalihkan pandangannya kearah Retha dan begitupun sebaliknya hingga keduanya saling menatap.

"Retha, sebenarnya... aku menyukaimu."

Deg.

Pernyataan cinta Vian yang mendadak cukup membuat Retha tidak bisa berkata-kata. Senyuman tipis yang terpasang diwajahnya luntur seketika, ada perasaan bahagia namun perasaan sesak menelan rasa bahagianya itu ketika mengingat dua sahabatnya.

"Maaf, saya tidak bisa." Retha hendak bangkit dan meninggalkan Vian.

Namun tangannya ditarik secara pqksa oleh Vian dan

Cup.

Plak.

"Dokter Vian, apa yang anda lakukan!"
setelah berkata begitu Retha pun langung meninggqlkan Vian dan berlari menuju toilet.

Sesampainya di toilet, Retha segera memasuki salah satu bilik toilet dan menangis disana. Hatiya sangat sakit mengingat kejadian yang baru saja terjadi.

"Kenapa... kenapa baru sekarang?"

***

Salam hangat, Koala Kecil 🐨🐨🐨

B.I.L (Because I Love)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang