Di rumah keluarga Raditya, tampak seorang remaja sedang termenung, sambil memandang sebuah foto yang terdiri atas dirinya dan anggota keluarganya.
"Gue tahu lo pasti kangen banget kan sama mereka, udahlah kalau sama gue lo nggak usah malu tunjukkin perasaan lo" Ucap Fang yang duduk disamping remaja itu sambil merangkulnya.
"Segitu bencinya ya mereka sama gue, sama lo, sama Ice dan Solar. Kenapa mereka masih belum mau kembali ke rumah ini?" Tanya Halilintar.
"Mungkin mereka masih enggan tinggal sama kita, lo inget kan pas pemakaman Ayah sama Bunda Maya, mereka nggak henti-hentinya cari perkara sama kita, ada aja yang didebatkan" Ucap Ice datang sambil menuruni tangga.
"Iya bener tuh Bang Hali, mereka itu bukan cuma nyerang pakai mulut, tapi udah sampai nyerang fisik. Sebenarnya gue juga takut kalo tinggal bareng sama mereka" Ucap Solar duduk di dekat Fang sambil membawa segelas air putih.
"Terserah apa kata kalian, intinya ingat kata Ayah, walau bagaimanapun mereka tetap saudara kita, kalau Gempa aja bisa tahan sama mereka kenapa kita nggak" Ucap Halilintar.
****
Malam hari sekitar pukul 01.00 pagi, Gempa yang tiba-tiba terbangun karena hendak mengambil air, justru terkejut karena melihat kakaknya yang masih sibuk mengotak-atik laptop.
"Bang, Bang Upan belum tidur?" Tanya Gempa, menghampirinya Abangnya.
"Belum... Gue masih ada kerjaan" Kata Taufan tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptop.
"Bang sampai kapan sih Abang ambil kerjaan kayak gini, ini bahaya Bang, gimana kalau kita semua kena imbasnya?" Tanya Gempa.
"Kenapa, lo takut? Lo nggak mau ikut -ikutan nanggung resiko dari kerjaan gue, lagian lo tenang aja Gem, hal itu nggak akan terjadi , dan gue nggak akan biarin itu terjadi" Ucap Taufan memutar kursinya dan memijit pundak Gempa pelan.
"Lo tahu sendiri kan, selama ini, pekerjaan inilah yang udah nolong kita, emang lo kira uang yang Ayah kasih ke kita itu cukup untuk menghidupi kita selama sebulan, ya nggak lah Gem. Itu sebabnya gue terpaksa ambil kerjaan ini, toh juga duitnya lumayan, daripada gue minta ke Bang Hali atau ke Bang Kaizo banyak-banyak, nanti mereka pasti jadi banyak tanya, ngapain siswa SMA kayak kita ngabisin duit segitu" Ucap Taufan masih dengan posisi yang sama.
"Bang aku boleh nanya, tapi Bang Upan jangan marah ya" Ucap Gempa ragu.
"Iya ngomong aja kali Gem" Ucap Taufan.
"Apa sesulit itu ya Abang maafin mereka? Aku pengen kehidupan kita kayak dulu Bang. Sampai kapan kita gini terus? Terlalu banyak rahasia diantara kita" Tanya Gempa.
"Gem, bukan gue yang mau semua ini terjadi, tapi mereka, gue masih ingat banget waktu Blaze dipukulin di Gudang sampai dia punya trauma berkepanjangan, dan Thorn yang selalu dicaci-maki oleh Ayah karena nilainya selalu lebih rendah dari yang lain, dan gue yang dibilang gila sama Ayah waktu gue coba jelasin tentang kondisi Blaze yang sebenarnya. Dan saat gue pergi dengan kedua adik gue, lo tahu apa yang bikin gue makin kecewa, karena Ayah kirim lo, buat ngurusin kita, seolah-olah gue emang nggak bisa diandalkan untuk jaga
adek-adek gue" Ucap Taufan mengenang masa lalunya.
"Sorry Bang aku nggak bermaksud..." Ucap Gempa, yang langsung dipeluk oleh Taufan.
"Iya gue tahu Gem, lo nggak salah kok. Kalau lo harus berada di posisi ini sekarang, itu semua karena terpaksa, jika boleh meminta lo juga nggak pengen kan ada di situasi kayak gini" Ucap Taufan sambil mengelus kepala Gempa yang ada di pelukannya.
"Lo tahu Gem, apa alasan gue nggak mau tinggal sama mereka?" Tanya Taufan. Setelah melepas pelukannya dia kini menatap mata Gempa yang berkaca-kaca.
"Apa Bang?" Tanya Gempa.
"Aze, gue takut Aze kembali" Ucap Taufan lirih.
Gempa yang mengerti maksud Abangnya pun memutuskan untuk tidur kembali, dia menyesal, karena keinginannya kembali ke Jakarta telah membuka luka lama kakaknya, yang mungkin masih belum sembuh dan sekarang harus tergores lagi.
Nah Happy reading ya guys
Sebenarnya Aze itu siapa sih?
Dan kenapa Taufan takut dengan Aze?
TBC
See you 👋😁
KAMU SEDANG MEMBACA
SAVIOUR
FanfictionSAVIOUR Artinya penyelamat, pelindung atau penjaga. Penggambaran yang tepat untuk mereka berdelapan Mampukah mereka menyelamatkan satu sama lain, demi menghadapi kerasnya dunia dan hitam putihnya kehidupan Konflik, tekanan, keluarga, rahasia semuany...
