Di meja makan Gempa sedang meletakkan, beberapa makanan yang baru saja dimasaknya. Namun saat dia hendak ke dapur lagi untuk mengambil piring dan gelas, suara seseorang membuatnya terkejut.
"Mending lo nggak usah masak deh, kita semua mau makan di luar. Gue harap lo nggak lupa, semua orang lagi marah sama lo, jadi nggak akan ada yang mau makan masakan lo" Ucap Halilintar yang baru saja turun tangga.
"Gue sama Ice mau kok, kasihan Bang Gem udah capek-capek masakin kita tapi nggak ada yang menghargai" Ucap Blaze yang sedang menuruni tangga dengan Ice.
Ice pun menatap Hali, kemudian saudara-saudaranya yang lain, yang hendak turun tangga.
"Biasakan, hargai kerja keras orang lain, kalau menurut kalian Bang Gem jahat, lantas apa bedanya dengan kalian?" Tanya Ice sedikit menyindir.
"Benar itu Bang, kalau setiap orang melakukan kesalahan baik yang disengaja maupun tidak, apakah seseorang itu harus langsung di cap jahat. Bukankah kita harus cari tahu dulu alasannya?" Tanya Blaze membenarkan ucapan Ice.
"Nggak papa, kalian makan aja di luar, biar Abang simpan aja makanannya di kulkas. Abang nggak ikut kok" Ucap Gempa tersenyum, namun matanya sudah berkaca-kaca.
"Ya memang Abang nggak usah ikut, emang siapa sih yang ngajakin lo Bang?" Tanya Solar dari anak tangga atas.
"Maaf..." Ucap Gempa dia langsung lari ke lantai atas, menyela para saudaranya dan memasuki kamarnya.
"Heh siapa yang ijinin lo masuk kamar gue Gem? Keluar nggak, Gem buka pintunya" Teriak Taufan dari luar kamar.
"...hiks, hiks .." Tidak ada jawaban, yang Taufan dengar hanyalah suara tangisan.
"Kalian semua please, jangan kayak gini, kalian nggak tahu kan apa yang terjadi sebenarnya, Bang Gempa diancam Bang" Ucap Ice dengan nada datarnya.
"Maksud lo?" Tanya Taufan.
Akhirnya Ice yang malas berbicara panjang lebar, menceritakan sejelas-jelasnya apa yang diceritakan Gempa waktu itu, dengan dibantu oleh Blaze tentunya.
"Sekarang terserah kalian, mau percaya sama Bang Gempa, atau Gopal" Ucap Ice pada saudaranya.
"Tapi, bukannya Bang Gopal orangnya baik banget ya?" Tanya Thorn, yang tidak langsung percaya.
"Kita semua nggak tahu Thorn, tapi kita harus cari tahu" Ucap Blaze.
Semuanya pun merasa bersalah, mereka memandang makanan yang terhidang di atas meja. Makanan itu sudah dibuat oleh Gempa dengan penuh kasih sayang, belum tentu juga kalau makan di luar mereka akan aman.
"Kalian siapin meja makannya ya, gue mau nyusul Gempa ke kamar" Ucap Halilintar.
"Gue ambil kunci cadangan dulu" Ucap Taufan.
Yang lainnya hanya menurut.
*****
CEKLEK!!!
Setelah pintu terbuka, suasana begitu sunyi, bahkan sepertinya Gempa sudah berhenti menangis. Namun dia masih duduk di lantai dengan kepala telungkup sambil memeluk lututnya.
"Gem, lo nggak papa kan?" Tanya Halilintar, mencoba menyentuh pundak adiknya.
Gempa pun menoleh dengan mata merah sembabnya yang masih berkaca-kaca.
"Maafin Gempa Bang" Ucap Gempa memohon.
"Maaf karena udah bikin lo nanggung semuanya sendirian, gue nggak tahu kalau Gopal ternyata sering ngancam lo, maaf gue udah bawa lo ke dalam masalah" Ucap Taufan, memeluk Gempa dari arah samping.
"Jadi kalian udah maafin aku Bang? Terus gimana sama yang lain?" Tanya Gempa menatap Hali dan Taufan dengan tatapan sendunya.
"Mereka lagi nunggu di meja makan" Ucap Halilintar.
"Kalian nggak jadi makan di luar?" Tanya Gempa lagi.
"Lo kan udah masak Gem, ngapain kita makan di luar" Ucap Taufan.
"Tapi tadi.."
"Udah nggak ada tapi-tapian, kita ke bawah sekarang, gue gendong deh" Ucap Hali memberikan punggungnya.
"Nggak usah Bang, aku kan udah gede, malu sama yang lain" Ucap Gempa menolak.
"Nggak usah malu, diantara kita bertiga lo kan bungsunya kita, iya kan Fan?" Tanya Hali meminta persetujuan.
"Iya sih, tapi pengen juga hehe" Cengir Taufan.
"Heh, kalo gitu sih enak di elo nggak enak di gue" Ucap Halilintar, yang langsung keluar kamar setelah Gempa naik ke punggungnya.
Happy reading ya guys
Author jadi pengen ditabok juga sama Hali, biar bisa digendong kayak Gempa.
Kali ini Author puas banget sama ending bab ini
See you
👋😁
KAMU SEDANG MEMBACA
SAVIOUR
FanfictionSAVIOUR Artinya penyelamat, pelindung atau penjaga. Penggambaran yang tepat untuk mereka berdelapan Mampukah mereka menyelamatkan satu sama lain, demi menghadapi kerasnya dunia dan hitam putihnya kehidupan Konflik, tekanan, keluarga, rahasia semuany...
