Satu tahun kemudian..
Hampa..
Sepi..
Sunyi..
Itu yang di rasakan Alura saat ini, padahal banyak orang yang tengah berlalu lalang di hadapannya namun entah mengapa ia masih merasa kesepian dan merasa sunyi.
"Kenapa bengong? "
Suara bariton itu terdengar, membuat Alura berhenti melamun. "Udah selesai belanjanya? "
Laka mengangguk. "Hm, makasi ya karna lo udah nemenin gue, maaf ya lama. " Laka mengusap lehernya tidak enak karna telah meninggalkan Alura begitu lama di luar toko, sedangkan ia asyik memilih sepatu di dalam.
"Gapapa kok, lagian lo juga tadi udah nemenin gue ke makam Bara, " jawab Alura dengan senyum tipis. "Sekarang, kita mau kemana lagi? "
"Kita makan malam dulu, terus nanti lanjut ke tempat yang lo mau? "
"Oke, ayo. "
Laka dan Alura berjalan beriringan meninggalkan toko itu.
"Cakra gimana kabarnya? " Laka bersuara kembali membuka obrolan.
"Dia baik, sekarang Cakra sedang kuliah sembari membantu pamannya di kantor. "
Wajah Laka berubah masam, ketika ia lihat bagaimana wajah cantik itu tersenyum lebar ketika berbicara tentang Cakra.
"Lo nggak ada niatan buat kuliah? " tanya Laka lagi.
Alura menghela napas panjang. "Ada, tapi gue nggak lulus ke kampus yang nenek suruh, karena itu nenek nggak ngizinin gue buat daftar di kampus lain, wanita itu memang selalu menyebalkan, " keluh Alura.
"Gapapa, lo bisa coba tahun depan lagi buat daftar ke kampus yang nenek lo inginkan. "
Wajah Alura semakin masam mendengar itu. "Gue tau, tapi gue juga nggak sanggup buat dengerin omelan nenek tua itu satu tahun lagi, " kesalnya menggerutukkan gigi.
Laka terkekeh kecil, saat Alura kesal ia tampak menggemaskan dengan kedua pipi yang menggembung serta bibir yang mengerucut ke depan, tak tahan melihat wajah gadis itu membuat Laka tanpa sadar mengangkat tangannya dan mengacak dengan lembut rambut yang tergerai itu.
Langkah Alura langsung berhenti, ia sontak menoleh ke arah Laka, lelaki itu tampak terkejut dengan tingkah lakunya barusan dan langsung menjauhkan tangannya dari kepala Alura. "Maaf, gue nggak sopan tiba-tiba elus kepala lo, " tukas Laka merasa bersalah. Lelaki itu merutuki dirinya karna berani menyentuh Alura yang sudah menjadi milik orang lain.
Alura tersenyum canggung menanggapi.
Mereka berdua kembali melangkah dengan Alura yang kini berjalan lebih cepat dari Laka, sedangkan lelaki itu berada di belakang Alura.
Drrrt...
Getaran ponsel terdengar, Alura meraih ponselnya. Melihat nama yang berada di panggilan membuat Alura menghembuskan napas kasar.
"Halo? "
"Dimana kamu? Keluyuran nggak jelas dari pagi sampai malam! "
Alura menjauhkan telinganya ketika suara bentakan itu keluar dari telepon. "Iya nek, sebentar lagi Alura pulang, " jawabnya enggan. "Tumben sekali nenek menyuruh Alura cepat pulang, biasanya nenek gak peduli sama sekali, " sinis gadis itu.
"Tcih, saya pun gak peduli kamu mau pulang kapan, kalau bisa sekalian kamu gak pulang. Ada hal yang ingin keluarga besar bicarakan, jadi cepat pulang sekarang dan jangan beri alasan apapun lagi, saya tidak mau dengar! "
Tut..
Telepon langsung di matikan tanpa mendengar balasan Alura, gadis itu menggeram marah karna Afniya selalu saja semena-mena terhadapnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Status Sosial
ActionCakrawala Abirama "Setiap manusia itu sama, hanya berbeda takdir dengan manusia lainnya. " Cakrawala Abirama, hanya laki-laki sederhana bermata elang, berbadan tegap, dan memiliki wajah rupawan. Ia memiliki semua keindahan itu, namun tidak dengan ta...
