Cakra sedikit berlari menuju lapangan, ia terlihat tergesa-gesa karena sedang di tunggu oleh seseorang.
"Cakra! "
Cakra melambaikan tangannya ketika melihat Aylina di pinggir lapangan, ia semakin mempercepat langkahnya.
"Akhirnya lo sampe, gue nyariin lo dari tadi. "
"Maaf ya, tadi gue ada pelajaran. "
Aylina tersenyum manis. "Enggak masalah kok, pertandingannya juga belum mulai. "
Cakra ikut tersenyum ia, mengelus rambut Aylina yang di kuncir dua. "Semangat ya, semoga menang! "
Aylina mengepalkan tangannya pada Cakra. "Kalau menang, lo janji bakalan temenin gue kemanapun 'kan? "
Cakra mengangguk yakin. "Iya, gue janji. "
Aylina tertawa kecil, ia bahagia bisa sebebas ini dekat dengan Cakra di sekolah.
Pritt..
Suara peluit itu menandakan para pemain harus segera berkumpul, karena pertandingan akan segera di mulai.
"Udah ya, gue mau ke lapangan dulu. " Aylina melambaikan tangannya dan berlari ke lapangan.
Cakra juga berjalan menuju tribun untuk menonton pertadingan Aylina. Ia duduk di tribun sembari memperhatikan Aylina. Di tribun sudah banyak para pendukung dari masing-masing tim.
"Laka, duduk disini aja! " Tiba-tiba saja Alura datang sembari menarik Laka untuk duduk persis di depan Cakra.
"Iya-iya."
Pandangan Alura tanpa sengaja teralih pada Cakra yang berada di belakang, ia terkejut karena bertemu dengan Cakra disini. Ketika pandangan mereka bertemu, Alura langsung saja membuang mukanya dan duduk di samping Laka.
Alura yang semula exacited dengan pertandingan ini, menjadi malas karena harus bertemu kembali dengan Cakra. Tapi Aylina tidak terlihat bersama dengan Cakra, kemana gadis itu?
"Lura, lihat gadis itu? Itu teman kamu 'kan? "
Alura melihat jari telunjuk Laka yang mengarah pada pemain. Alura melebarkan matanya, Aylina? Sejak kapan gadis itu menyukai basket? Seingatnya Aylina tidak menyukai permainan bola ataupun sejenisnya, lalu mengapa sekarang?
Hm, pantas saja Cakra ada disini. Untuk apa lagi jika tidak untuk menonton Aylina. Huh, mood Alura semakin hancur karena mengetahui Cakra sangat effort untuk datang ke pertandingan basket, padahal biasanya Cakra tidak menyukai menonton pertandingan ini, ia lebih memilih membaca buku di perpustakaan.
Alura juga melihat dengan jelas tadi, terdapat buket bunga di sebelah Cakra, itu artinya buket itu akan di berikan pada Aylina setelah pertandingan usai. Alura tidak tau apakah ia akan kuat melihat Cakra nanti memberikan bunga itu, atau jangan-jangan Cakra ingin mengutarakan cintanya pada Aylina di tengah lapangan? Seperti drakor yang pernah ia tonton? Astaga, Alura jadi overthinking oleh pikirannya sendiri.
"Lura? "
"Lura! "
Alura terperanjat, ia menoleh menatap Laka yang memandangnya khawatir.
"Lagi-lagi lo melamun, beneran enggak ada masalah 'kan? "
Alura mencoba untuk tersenyum. "I'm okey, Laka. "
Laka menghela napas. "Ngomong ke gue kalau lo enggak nyaman. "
"Tenang aja, gue nyaman kok disini, " ujar Alura dengan senyum getirnya.
Mereka kembali menonton pertandingan yang entah sejak kapan mulainya karena Alura yang melamun sedari tadi.
Pertandingan berlanjut sengit, Alura benar-benar tidak menyangka Aylina bisa segesit itu ketika bermain, ia terlihat serius dan lincah bergerak untuk mencetak skor.
KAMU SEDANG MEMBACA
Status Sosial
AçãoCakrawala Abirama "Setiap manusia itu sama, hanya berbeda takdir dengan manusia lainnya. " Cakrawala Abirama, hanya laki-laki sederhana bermata elang, berbadan tegap, dan memiliki wajah rupawan. Ia memiliki semua keindahan itu, namun tidak dengan ta...
