cuaca di jumat siang itu amat cerah. hanya terlihat beberapa awan cirrus menggantung di langit sementara angin berhembus menyejukkan. hari yang indah untuk dihabiskan di luar. karena itulah, beberapa siswa memutuskan untuk meninggalkan kafetaria dan menyantap makan siang mereka di halaman belakang.
termasuk park jihoon.
pemuda manis itu duduk sendirian di bawah pohon. di pangkuannya terdapat sebuah kotak bento yang hampir kosong, tangannya memegang sumpit, sementara mulutnya yang kecil mengunyah sepotong daging dengan seksama.
di kejauhan ia bisa melihat sekelompok murid yang bermain bola di tengah lapangan. jihoon yakin bahwa mereka tahu kalau diri mereka sedang diperhatikan oleh sekelompok gadis dan beberapa pemuda yang terkikik dari pinggir lapangan. mereka bangga dengan efek yang mereka timbulkan pada para penonton tersebut.
jihoon hanya menghela napas melihatnya. ia sudah menyaksikan pemandangan seperti ini berkali-kali. namun baru kali ini ia memperhatikannya dengan seksama, dan dengan perasaan yang sedikit lain dari biasanya.
ia terkejut menemukan dirinya tak begitu suka melihat manusia-manusia centil itu terkikik sambil menunjuk-nunjuk seorang lelaki dengan rambut blonde mencolok yang kebetulan sedang menggiring bola sepak.
ia menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir perasaan tersebut. sejak kapan ia berubah jadi menyebalkan begini?
sejak kim junkyu memasuki hidupku...
jihoon menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. setelah beberapa saat, baru ia melepaskannya.
junkyu... pikirnya lagi.
sudah tiga hari berlalu sejak insiden yang terjadi di hotel, dan jihoon masih tak bisa berhenti memikirkannya. laki-laki itu tak berkata apa-apa lagi setelah jihoon selesai membagi salah satu rahasianya.
ia hanya duduk di sana, kemudian mengeluarkan rokok, dan tetap duduk di sana. begitu mencium bau asap rokok, jihoon pun bergegas berdiri dan kembali ke restaurant. ia tak begitu suka dengan bau rokok, asapnya selalu membuatnya kesulitan bernapas.
ia setengah berharap junkyu akan mengejarnya... atau memanggilnya... atau apalah. tapi lelaki itu tak bergeming dari tempatnya.
tentu saja ia merahasiakan pertemuannya dengan junkyu dari ayahnya. hanya mereka berdua saja yang tahu tentang pertemuan mereka malam itu. jihoon sama sekali tak berniat membaginya dengan orang lain. siapa yang tahu apa yang akan dilakukan ayahnya kalau dia tahu junkyu mencekiknya?
ia juga tak mau membayangkan bagaimana wajah ayahnya kalau sampai dia tahu putranya berciuman dengan pria lain persis di luar restaurant tempat mereka makan malam dengan (orang yang kemungkinan akan menjadi) keluarga baru mereka.
wajah jihoon memerah.
si pemuda park terlonjak ketika mendengar pekikan nyaring dari para penonton centil di pinggir lapangan. kepalanya tersentak ke arah mereka, mencoba mencari penyebab kehebohan tersebut.
ia hanya menaikkan sebelah alisnya saat melihat na jaemin, salah seorang laki-laki yang sedang bermain bola, rupanya begitu kepanasan hingga ia melepas kemejanya. otot-ototnya yang saling berkontraksi di bawah kulitnya saat ia berlari ditambah lagi dengan cucuran keringat yang berkilauan tertimpa cahaya matahari membuat penonton tersebut menggila.
bukannya terpana pada jaemin, jihoon malah merasa adegan tersebut begitu konyol. ya, na jaemin sangat konyol. menurutnya, si na itu sengaja melepas bajunya hanya untuk mencari perhatian.
para pemain yang lain, termasuk junkyu, juga bersimbah keringat. tapi si pria berambut blonde yang wajahnya tak kalah tampan (bahkan menurut jihoon lebih tampan) dari jaemin itu masih tetap berseragam lengkap, minus blazernya.
KAMU SEDANG MEMBACA
lawless; kyuhoon
Fanfiction(completed) menjinakkan kim junkyu yang liar mungkin sulit, namun jika berarti jaemin akan berhenti menindasnya, jihoon akan melakukannya. hanya saja, dia tidak tahu kalau cinta selalu muncul di saat yang tak terduga. a treasure's kyuhoon fanfic. ⚠️...
