almost 5k words, pelan-pelan aja bacanya.
•
•
•
"aku yakin kamu pasti memiliki penjelasan yang lebih baik dari itu."
park jihoon menelan ludah. kedua tangannya saling meremas-remas dengan gugup di depan dadanya. bibirnya yang merah semakin memerah akibat gigitannya yang terus menerus.
di hadapannya, park yeonjun mengetuk-ngetuk kakinya dengan tak sabar saat menunggu jawaban dari jihoon. setelah kepulangannya, yeonjun tak membiarkan sepupunya tersebut lolos ke kamarnya sebelum mendapat penjelasan yang dapat diterima logikanya mengenai cara berpakaian pemuda itu yang tak pantas.
"apa maksudmu? sudah kukatakan berkali-kali aku menginap di rumah temanku ... dan karena ukuran bajunya lebih kecil dariku, aku terpaksa menggunakan baju kakak laki-lakinya ..."
"di mana ponselmu?" yeonjun tiba-tiba memotongnya dengan tajam, membuat jihoon nyaris menggigit lidahnya sendiri.
"eh ... maaf?" kedua bola mata yang sejak tadi mengawasi jam besar di ruang tamu tersebut kini beralih pada satu-satunya pria di ruangan itu.
"kubilang di mana ponselmu, park jihoon?"
jihoon mengernyit. pandangannya jatuh pada tas kulit di pangkuannya. sambil menjilat bibir, ia membuka tas tersebut perlahan-lahan.
tentu saja dia tahu ponselnya tak berada di sana. kejadian semalam membuat ponsel terdengar sangat sepele dan bahkan membuatnya sama sekali lupa kalau ia punya ponsel.
dengan akting pas-pasan, jihoon mengobrak-abrik isi tasnya, kemudian setelah beberapa menit yang meyakinkan, pemuda itu mendongak dan memelas pada sepupunya.
"kelihatannya tertinggal."
namun yeonjun tak lagi menatap jihoon. pandangan lelaki itu kini tertuju pada ponsel di tangannya. ia tampak sedang mencari sesuatu dalam ponselnya, sebelum berkata, "sejak tiga hari yang lalu aku sudah mencoba meneleponmu, mengirimi dm, sms, email, tak ada satupun yang kau balas. aku bahkan tak yakin kau membacanya!" yeonjun mengangkat kepalanya dan kembali menatap jihoon. matanya yang beberapa kali lebih besar dari jihoon tersebut kini bersinar dingin.
"di mana ponselmu selama tiga hari belakangan ini, park jihoon?"
karena gugup jihoon tanpa sadar menjilati bibirnya, kemudian menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. "bateraiku ... bateraiku rusak."
"kau berbohong."
"aku tidak bohong!" bantahnya dengan penuh kebohongan. betapa ironis.
"aku tau kamu berbohong." kalimat tersebut menusuk jihoon bagaikan anak panah. dia seharusnya tahu bahwa bila ada satu orang di dunia ini yang dapat membacanya bagaikan buku yang terbuka, itu adalah yeonjun.
mendadak, bagaikan bunyi lonceng dari surga, jam besar di ruang tamu berdentang, menunjukkan pukul sepuluh lebih tiga puluh menit. jihoon sontak berdiri dengan semua barang bawaannya.
"sudah jam segini. aku harus siap-siap kalau masih ingin ikut fisika nanti," ujarnya tanpa menatap yeonjun, kemudian mengambil langkah lebar-lebar mencari pertolongan pada tangga yang menuju ke lantai atas.
"aku tidak bilang aku sudah selesai denganmu, jihoon," sahut yeonjun yang kini juga sudah berdiri di kakinya. "kubilang aku belum selesai denganmu!" katanya sekali lagi dengan nada lebih keras, membuat jihoon berhenti.
jihoon memejamkan mata, kemudian menarik napas dalam-dalam, tubuhnya bergetar.
perlukah dia membentakku?
KAMU SEDANG MEMBACA
lawless; kyuhoon
Fanfiction(completed) menjinakkan kim junkyu yang liar mungkin sulit, namun jika berarti jaemin akan berhenti menindasnya, jihoon akan melakukannya. hanya saja, dia tidak tahu kalau cinta selalu muncul di saat yang tak terduga. a treasure's kyuhoon fanfic. ⚠️...
