seluruh pengeras suara di bandara menyuarakan pengumuman tentang seorang bocah laki-laki yang hilang dari dalam pesawat. nampaknya saat sedang mengantri di depan pintu menuju pesawat, orang tua si bocah tidak sadar bahwa anaknya tidak lagi berada di sampingnya, dan sekarang anak itu entah berada di mana.
dari antriannya di depan gerbang f2, kim junmyeon memutar mata saat melihat wanita berkulit hitam histeris yang dikelilingi oleh beberapa petugas bandara.
cuman orang tua bodoh yang gampang kehilangan anak di tempat ramai seperti ini. lihat, gara-gara kebodohannya mereka harus men-delay pesawatnya. kalau tidak bisa jaga anak, kau bisa menyewa nanny!
kalimat sarkastik yang seharusnya tertuju pada wanita tersebut justru malah membuat junmyeon menghela napas. punggungnya yang tegak sedikit membungkuk saat ia menyadari bahwa dia adalah salah satu dari orang tua bodoh seperti itu. junmyeon bahkan tidak ingat apa yang terakhir kali ia bicarakan dengan dengan putra dan putrinya.
"sir, anda baik-baik saja?" wanita berjas abu-abu dan berambut cokelat di belakangnya bertanya dengan nada khawatir.
antrian di depan mereka bergerak, dan junmyeon melangkah maju. dengan nada tidak peduli ia menjawab, "tidak apa-apa."
bukan hanya seohyun―si wanita berjas abu-abu―yang mengawasi setiap gerakannya. ada seorang pria lain yang ikut bersamanya naik pesawat komersial hari itu.
orang itu adalah eduardo, yang berada di antrian lebih belakang yang agak jauh dari junmyeon dan seohyun, namun mereka masih tetap mendapat pandangan yang jelas ke arah junmyeon dan sekitarnya.
"may i please check your boarding pass, sir?" ujar petugas bandara di depan gerbang dengan ramah.
tanpa mengangguk junmyeon menunjukkan boarding passnya dan masuk ke pesawat setelah mengucapkan terima kasih.
walaupun menggunakan pesawat komersial, junmyeon tetap harus mendapatkan pelayanan terbaik yang bisa ia dapatkan.
setelah menunjukkan nomor bangkunya, seorang pramugari cantik dengan seragam berwarna hitam, merah, dan pink khas pramugari pesawat lantas memandunya menuju kelas bisnis.
setelah meminta scotch dan es batu pada si pramugari, junmyeon pun berusaha membuat dirinya nyaman. eduardo dan seohyun duduk persis di samping lorong yang memisahkan kelas bisnis dan kelas ekonomi, agar mereka lebih gampang mengawasi situasi yang terjadi di kabin.
"di sini bangku anda, tuan." seorang pramugari yang lain menunjuk ke arah bangku di sebelah junmyeon untuk seorang lelaki muda berbahu sempit.
"biar saya simpan ransel anda," kata si pramugari lagi, dan pemuda itu pun menyerahkan ranselnya. junmyeon lalu berdiri untuk membiarkan yang lebih muda masuk dan duduk di bangkunya.
"t-terima kasih," katanya dengan suara lembut kepada junmyeon dan si pramugari.
"boleh saya membawakan anda sesuatu?" tanya si pramugari ramah.
pemuda itu hanya tersenyum dan menggeleng. setelah si pramugari pergi, pemuda itu menghela napas lalu bersandar pada bangkunya.
sepanjang ingatannya, junmyeon hampir tidak pernah duduk bersebelahan dengan orang asing di pesawat, sebab ia memang selalu berpergian sendirian dengan jet pribadi dengan ditemani orang-orang yang ia kenal, atau ketika ia memang naik pesawat komersial, ia selalu duduk sendiri.
setelah mematikan ponsel, junmyeon menarik keluar majalah yang ada pada kantong di kursi depannya lalu membaca. saat mereka take off, si pemuda sudah terlelap.
junmyeon mengecek jam tangannya. saat itu pukul sebelas lebih. estimasi waktu penerbangan mereka adalah sepuluh jam, sehingga mereka akan tiba di perth pukul sembilan pagi. setelah itu ia masih harus berganti pesawat lalu melanjutkan perjalanan dengan mobil.
KAMU SEDANG MEMBACA
lawless; kyuhoon
Fanfiction(completed) menjinakkan kim junkyu yang liar mungkin sulit, namun jika berarti jaemin akan berhenti menindasnya, jihoon akan melakukannya. hanya saja, dia tidak tahu kalau cinta selalu muncul di saat yang tak terduga. a treasure's kyuhoon fanfic. ⚠️...
