"hei, tolong ambilkan bolanya!" teriak seorang pemuda berambut gelap dari pinggir lapangan.
matahari bersinar menyengat, membuat pemuda yang berteriak itu menyipit ke arah seseorang yang duduk sendirian di bawah pohon besar yang tak jauh dari lapangan. kedua tangannya berada di pinggang, ekspresinya tak sabar.
mendengar suara pemuda jangkung itu, pemuda manis yang tengah menikmati waktu istirahatnya menurunkan buku yang sejak tadi ia baca. ia mengikuti pandangan si jangkung dan menemukan bola sepak berhenti tak jauh dari tempatnya duduk.
"oh, itu si jihoon! oi, jihoon, cepat tendang bolanya ke sini!" teriak pemuda itu lagi.
apabila kejadian ini terjadi setahun yang lalu, mungkin jihoon akan ragu-ragu untuk berdiri. namun saat itu, setelah melihat jaemin yang melambai ke arahnya, jihoon cepat-cepat berdiri dan bergegas menghampiri bolanya.
ia masih tidak jago dalam olahraga, dan tidak yakin apakah tendangannya akan mencapai lapangan atau tidak. namun, dengan segenap konsentrasinya, jihoon pun mengambil ancang-ancang dan memfokuskan tenaganya untuk menendang bola tersebut.
hanya saja, kakinya tak mengenai sasaran.
kehilangan keseimbangan, gaya gravitasi menarik pemuda manis itu supaya jatuh terjengkang, namun sesuatu—atau seseorang—menangkapnya.
ia mendongak dan menemukan jaemin yang (entah bagaimana sudah ada di sana) menyeringai di atasnya. "kau tahu, kejadian ini terasa sangat familiar hingga aku hampir bisa melihat kau akan jatuh."
"dan kau lebih baik melepaskan tanganmu darinya sebelum bola ini kena ke mukamu." di hadapan mereka, junkyu menendang-nendang bola sepak yang menjadi perkara tersebut dari satu kakinya ke kakinya yang lain.
jaemin hanya menyeringai mendengar ancaman junkyu. sementara itu, jihoon mengucapkan terima kasih pada jaemin atas pertolongannya.
"aku kecewa kau tidak menolongku duluan," kata jihoon pada junkyu yang masih berusaha membuat bola tersebut agar tidak menyentuh tanah.
"aku memang sengaja membiarkanmu, siapa tau aku bisa melihat celanamu rob—" sebelum junkyu menyelesaikan kalimatnya, jihoon menarik telinganya.
"aw!" teriaknya.
"dasar!"
"aku tidak menyangka akan tiba waktu di mana kim junkyu dijewer oleh seseorang tanpa perlawanan di tempat umum." ucap jaemin
"ya, dan sekarang aku harus meninjumu sampai pingsan," balas junkyu sambil mengelus telinganya yang sakit.
"junkyu!"
"aku cuman bercanda, jihoon! kau sudah menghabiskan waktu bersama kami hampir setahun dan kau masih belum terbiasa dengan candaan kami. kurasa aku harus membuatmu menghabiskan waktu bersama haruto." ia melirik jaemin, "kau tahu, supaya jihoon tidak serius-serius amat."
"kurasa itu ide yang bagus," kata jaemin serius, namun beberapa detik kemudian wajahnya mengerut dan ia tertawa terbahak-bahak.
jihoon memandang kedua lelaki itu dengan bingung. "memangnya kenapa dengan haruto?"
"oh kau tahu, haruto sangat pintar mendidik anak nakal supaya sikap mereka berubah seperti apa yang ia inginkan. atau kuinginkan," kata junkyu. "kau tahu, seperti choi jisu, lia."
jaemin tertawa lagi.
lia, salah satu gadis tercantik di sekolah. setahun belakangan gadis itu sangat jarang terlihat di sekolah. ketika ia memutuskan untuk menampakkan diri di sekolah pun, pasti hanya ketika ada ujian atau tugas praktik, dan saat itu pun ia tidak berbicara dengan siapapun. jika ada yang berani mendekatinya, ia akan melempar pandangan yang membuat orang-orang lebih memilih untuk menjauh.
KAMU SEDANG MEMBACA
lawless; kyuhoon
Fanfiction(completed) menjinakkan kim junkyu yang liar mungkin sulit, namun jika berarti jaemin akan berhenti menindasnya, jihoon akan melakukannya. hanya saja, dia tidak tahu kalau cinta selalu muncul di saat yang tak terduga. a treasure's kyuhoon fanfic. ⚠️...
