"jaemin?" suara renjun pelan saat ia bertanya.
sentuhannya pada bahu jaemin pun ringan, seakan-akan ingin menenangkan pria itu. ia tahu dengan wajah yang menggelap seperti itu, berarti jaemin marah, sangat marah. ia tidak tahu apa yang membuat jaemin begitu marah.
karena sudah putus dengan pemuda angkuh itu, seharusnya ini bukan lagi jadi urusannya. namun, sepanjang pengetahuannya, junkyu dan jaemin sudah seperti saudara. mereka tak pernah bertengkar. jadi, kejadian yang langka ini sangat memancing keingintahuannya.
"dasar pemuda kurang ajar." gumam jaemin.
renjun mundur sedikit mendengar kalimat pria itu.
apa-apaan, sih, dia?
"bukan kau." sambung jaemin sebelum renjun bisa menyemburkan amarahnya. "si park..."
"memangnya apa salah jihoon?" desak renjun.
sejak dulu ia memang selalu bertanya-tanya, mengapa jaemin begitu dendam pada semua yang berbau park. dari park yeonjun, park jihoon, bahkan adik mereka yang paling kecil, park doyoung.
jaemin melirik renjun sebentar, sebelum mengalihkan pandangannya kembali pada teman-temannya yang lanjut bermain bola tanpa dirinya dan junkyu. karena jihoon sudah dibawa oleh si rambut blonde, ryujin pun memutuskan untuk membawa kembali bola sepak mereka ke lapangan, meninggalkan jaemin berdua dengan mantan pacarnya.
si na menghela napas, kemudian berdiri. "malam ini, lia mengadakan pesta di rumahnya. datanglah." ia pun berbalik dan melangkah menjauh, meninggalkan renjun yang menatap punggungnya dengan bingung.
tapi, sebelum ia mencapai lima langkah, ia berbalik lagi, "ajak teman barumu." katanya, diikuti seringainya yang khas. seringai yang renjun tahu selalu ditunjukkan pria itu kalau dia baru saja merencanakan sesuatu yang brilian di dalam kepalanya.
renjun tidak berkata apa-apa. terlalu banyak hal mengejutkan yang terjadi dalam beberapa menit saja.
pertama, tingkah aneh junkyu.
kedua, sikap misterius jaemin. ia pun mengigiti kuku jempolnya, kebiasaan lama yang selalu dilakukannya ketika ia frustasi.
apa sebenarnya yang terjadi antara jihoon, junkyu, dan jaemin?
dilihat dari sikap mereka tadi, renjun yakin dirinya tak akan mungkin mendapatkan jawaban dari jaemin... ataupun junkyu. jadi... hanya tertinggal satu orang yang bisa ditanyainya.
renjun tersenyum pada dirinya sendiri, sebelum mengibaskan rambutnya.
tak jauh dari bawah pohon tempat si pemuda mungil duduk, berdiri sebuah pohon ek lain yang jauh lebih besar. pohon tersebut memang pohon terbesar di sekolah.
di dahan tertingginya, duduk seorang remaja yang meskipun kedua matanya terpejam, namun ia sepenuhnya sadar akan situasi yang terjadi beberapa meter di bawahnya. ujung bibirnya tersungging sedikit saat ia mendengar kata-kata terakhir dari si na sebelum pemuda itu kembali ke lapangan.
"pesta, ya?" gumamnya.
•
•
•
sementara itu, di sepanjang koridor menuju klinik sudah terjadi kehebohan sendiri di antara para siswa. tangan-tangan menutupi mulut saat orang-orang berbicara di telinga satu yang lainnya. namun, si pria berambut blonde yang menjadi pusat perhatian sama sekali tak memedulikan tatapan tajam dari orang-orang di sekitarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
lawless; kyuhoon
Fanfiction(completed) menjinakkan kim junkyu yang liar mungkin sulit, namun jika berarti jaemin akan berhenti menindasnya, jihoon akan melakukannya. hanya saja, dia tidak tahu kalau cinta selalu muncul di saat yang tak terduga. a treasure's kyuhoon fanfic. ⚠️...
