perfect morning

1.4K 138 14
                                        

tentu saja junkyu tak menceritakan cerita itu sampai ke detail-detailnya pada jihoon. ia yakin pemuda itu pasti akan freaked out kalau tahu yang sebenarnya. beberapa hal memang lebih baik dirahasiakan saja.

"setelah itu sebenarnya aku mau langsung memulangkanmu ke rumahmu. tapi, melihat kondisimu dan kondisiku, orang tuamu pasti bisa salah paham. karena itulah aku membawamu kemari." junkyu menyelesaikan ceritanya.

padahal junkyu sudah sengaja meninggalkan detail-detail yang mungkin akan membuat pemuda itu malu. tapi memang si park sudah dasarnya pemalu, ia masih saja memberikan junkyu pandangan ngeri setelah mendengar bahwa mereka berciuman.

"a-apa?"

"aku tak akan mengulang ceritanya lagi."

jihoon shock.

yah, siapa yang tidak shock setelah diberitahu kalau pada malam sebelumnya kau mabuk, kemudian berkelahi dengan seorang yoo jimin, karina! salah satu sosok di sekolah yang tak mau kau bikin kesal, lalu menciumi kim junkyu, dan muntah di hadapannya.

jihoon merasa dirinya bisa pingsan kapanpun.

"k-kau tak berbohong, 'kan?"

junkyu merengut padanya. "untuk apa? tak ada untungnya buatku."

selama junkyu bernarasi, mereka berdua sudah berpindah tempat duduk. junkyu merasa dirinya tak bisa bercerita dengan baik apabila ia menetap di satu tempat yang sama. karena itulah saat ini mereka berdua duduk berhadap-hadapan di pinggir salah satu jendela raksasa di ruangan tersebut.

jihoon memeluk kedua kakinya. wajahnya tenggelam di lututnya. ia seharusnya punya firasat hal seperti ini akan terjadi. mana mungkin lia akan membiarkannya bersenang-senang di pestanya. perempuan itu pasti akan melakukan sesuatu untuk mempermalukannya.

dan dia berhasil.

meskipun demikian, jihoon bersyukur karena junkyu ada di sana dan walaupun mereka tak begitu mengenal satu sama lain, lelaki itu masih mau menolongnya.

"maafkan aku... sungguh. aku tak tahu lagi apa yang harus kukatakan..." kata jihoon untuk yang kesekian kalinya pagi itu.

"sudahlah." kata junkyu untuk yang kesekian kalinya juga. "lagipula itu sudah berlalu. seperti yang kubilang tadi, yang terpenting kau sekarang tak apa-apa."

pintu ruangan itu mendadak terbuka, dan masuk seorang pelayan yang tadi dijumpai jihoon di dekat tangga. ditangan pelayan tersebut terdapat sebuah nampan besar yang jihoon yakin berisi sarapan.

"letakkan saja di meja." kata junkyu pada pelayannya yang bingung mau meletakkan nampan tersebut dimana ketika melihat tuannya berada di jendela.

"baik, tuan."

begitu si pelayan pergi, junkyu berdiri. "biar kuambilkan."

"tunggu!" jihoon menarik pergelangan tangan lelaki itu, menghentikan gerakannya. "biar aku saja yang ambil. kau duduk di sini." ia sudah terlalu banyak merepotkan lelaki itu. membawakan nampan mungkin hal termudah yang bisa ia lakukan setelah apa yang junkyu lakukan untuknya.

junkyu hanya mengangkat bahunya sedikit, kemudian duduk seperti permintaan jihoon. sementara pemuda manis itu melepas pegangannya lalu meninggalkan junkyu dan berjalan ke tengah ruangan untuk mengambil sarapan mereka.

jihoon lalu berjalan kembali ke tempat ia dan junkyu duduk, di pinggir jendela yang hangat karena tertimpa cahaya matahari. pinggir jendela itu cukup besar untuk mereka berdua duduk beserta nampan dan sarapan mereka.

sejak kecil jihoon tahu ia bukanlah orang yang ceroboh. dulu ia sering sekali membawa nampan sarapan seperti ini ke kamar doyoung untuk membangunkan adiknya. jadi sama sekali bukan masalah bagi jihoon untuk membawa nampan tersebut dari meja menuju jendela, bukan?

lawless; kyuhoonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang