23.56 WIB
Sabtu, 28 Mei 20XX
Angin malam menusuk kulit, membuat daun-daun bambu di pekarangan rumah neneknya Lusi bergesekan seperti bisikan samar. Lampu minyak yang menggantung di ruang dapur berayun pelan, memantulkan bayangan aneh di dinding anyaman bambu. Lusi dan neneknya sudah tertidur di kamar masing-masing, tak menyadari kehebohan yang perlahan-lahan menjalari rumah tuanya.
Di sebuah ruangan sempit di bawah dapur, Kenya berdiri gelisah. Siluman gagak yang mengincarnya semakin dekat. Dia bisa merasakan itu dari aura gelap yang menyelimuti malam.
Giara, dengan tatapan tenangnya, menyentuh pundak Kenya. "Tenanglah. Makhluk sialan itu tak akan menemukan kita di dalam sini," kata Giara dengan suara pelan tapi tegas.
Sementara itu, Nafita dan Bayu berjongkok di balik pintu ruang tengah. Keduanya tengah bersiap menanti kedatangan siluman gagak. Nafita membawa pisau belati pendek sebagai senjata, sementara Bayu membawa tombak besar dengan ujung yang lancip.
"Bay, bersiaplah," bisik Nafita begitu mendengar suara langkah pelan dari arah dapur.
Bayu mengangguk singkat. Tapi matanya sesekali melirik ke arah jendela yang setengah terbuka, memastikan kalau siluman gagak lain tidak menyelinap masuk dari arah sana.
Di luar rumah, gerombolan siluman kucing hitam bergerak cepat di kegelapan. Mata mereka memantulkan kilauan tajam seperti kaca, mengawasi setiap bayangan yang mencurigakan.
Di dapur rumah nenek Lusi, suasana mulai berubah mencekam. Lampu minyak bergoyang semakin kencang, bayangannya menari di dinding seperti hantu yang gelisah. Sosok dengan perawakan tinggi dan wajah yang ditutupi topeng sudah berdiri di sana. Itu siluman gagak, matanya yang gelap mengamati setiap sudut ruangan.
Merasa sedikit janggal, siluman gagak mulai memejamkan mata, mencoba melacak keberadaan Kenya. Tapi aneh, jejak gadis itu berhenti di tengah dapur, seperti menghilang begitu saja. Kepalanya mulai menunduk, mengamati karpet anyaman bambu di lantai yang terlihat biasa saja. Namun, sebenarnya di bawah karpet itulah pintu menuju ke ruang bawah tanah, tempat dimana Kenya tengah bersembunyi.
Di bawah sana, Kenya menahan napas, tubuhnya gemetar. Dia terus mengucap doa dalam hati agar rencana yang mereka buat dapat berjalan lancar.
Giara berdiri di samping Kenya, wajahnya tetap tenang meski telinganya menangkap setiap langkah siluman gagak di atas mereka. "Dia bingung. Ini saatnya mereka bertindak," gumam Giara sambil menatap pintu di atas kepalanya.
Di ruangan lain, Nafita dan Bayu saling melirik. "Sekarang," bisik Nafita memberi aba-aba.
Mereka berdua keluar dari persembunyian dengan gerakan cepat. Nafita melempar belati peraknya, mengincar punggung siluman gagak. Tapi siluman itu gesit, dia berbalik, membuat belati Nafita hanya menggores lengannya.
Bayu yang melihat itu langsung melompat ke arah siluman gagak. Dia mengayunkan tombak miliknya, mencoba menghantam kepala siluman gagak. Sayangnya, serangan itu meleset, dan siluman gagak berhasil menepisnya.
Dalam kebingungan, siluman gagak melesat keluar melalui pintu yang terbuka. Nafita berteriak frustrasi, sementara Bayu mengejar hingga ke pintu depan.
"Jangan kabur, kau sialan!" seru Nafita sebelum ikut menyusul kepergian Bayu.
Namun, di luar rumah, situasinya sudah terkendali. Gerombolan siluman kucing hitam yang berjaga segera mengepung siluman gagak. Salah satu dari mereka melompat, mencakar sayap siluman gagak yang baru saja muncul, hingga membuat sayap itu terpaksa kembali bersembunyi di balik punggung. Siluman gagak mengerang, mencoba melawan, tapi jumlah siluman kucing hitam terlalu banyak.
Giara yang tadi mendengar teriakan frustasi dari Nafita, buru-buru pergi keluar rumah. Dia yang semula hendak mengeluarkan kekuatannya, kini langsung mengurungkan niat itu begitu melihat siluman gagak yang sudah tak berdaya. "Buka topengnya!" perintah Gia dengan suara dingin yang langsung dilaksanakan oleh seorang siluman kucing hitam.
Begitu topeng dibuka, wajah tak asing muncul dari sana. Seringai keji menghias wajah pemuda yang kini sudah tertangkap basah. Gia dan Nafita kini sudah syok melihat pemandangan itu.
"Vin?" Gia bergumam dengan wajah tak percaya. Sosok yang terkenal hobi bercanda dan tak pernah serius itu, kini menjadi tersangka utama dari kasus pembunuhan yang melibatkan teman-teman mereka.
Nafita yang berdiri di sebelah Gia, sesat menahan napas. Gadis yang biasanya cerewet itu sampai tak bisa berkata apa-apa. Dia terlalu syok mengetahui fakta di depan matanya.
"Terkejut, huh?" Vin berujar menantang. Seringainya semakin lebar, seakan tak menyadari posisinya yang kini sudah terkepung dari segala arah.
Sementara itu, Kenya perlahan muncul dari ruang bawah tanah, wajahnya masih pucat. Dia berjalan pelan menghampiri teman-temannya yang berada di luar. Namun, langkahnya terhenti sejenak begitu melihat siluet seseorang dari arah hutan yang berjalan menjauh entah kemana.
____*____
06.05 WIB
Senin, 30 Mei 20XX
Pagi itu, langit masih diselimuti kabut tipis. Matahari belum sepenuhnya terbit. Tiga murid SMA berjalan cepat melewati gerbang yang hanya terbuka sebagian. Mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktu sebelum siswa lain mulai berdatangan.
Elisa sudah menunggu di kelas. Ruang kelas masih sepi. Elisa menoleh ke arah pintu ketika tiga temannya masuk.
"Bagaimana rencana semalam?" tanya gadis itu dengan suara datar.
Gia duduk di kursi depan, wajahnya berubah serius. "Rencananya berhasil." Gia menjawab pelan.
Elisa mengerutkan kening. Dia merasa ada yang aneh dengan gelagat teman-temannya. "Lalu?"
Nafita yang duduk di kursi Irma, mencoba mengambil alih pembicaraan,
"Kami sudah tahu siapa yang selama ini membunuh teman-teman kita."
Elisa menoleh ke arah Nafita. "Jadi?" Dia masih mencoba sabar menunggu penjelasan teman-temannya yang amat berbelit-belit itu.
Nafita ikut menatap Elisa, kemudian berkata, "Vin." Dia terdiam sejenak, menarik napas panjang. "Dia pelakunya."
Dahi Elisa mengernyit. Entah kenapa dia merasa masih ada hal janggal yang belum terungkap kebenarannya. "Kalian yakin dia pelakunya?" Elisa mencoba memastikan.
"Kau tidak berpikir kami sedang membohongimu, kan?" Gia membalas dengan wajah sinis. "Karena itu tidak ada gunanya sama sekali," lanjut gadis itu sambil membuang muka.
Elisa terdiam sejenak mendengar ucapan Gia. Dia masih mencoba memikirkan sesuatu yang mungkin sudah mereka lewatkan. Namun, sebanyak apapun Elisa berpikir, hanya jalan buntu yang dia temukan. Pada akhirnya, Elisa hanya mampu berkata, "Jadi, apa yang akan kalian lakukan pada Vin?"
Gia kembali menghadap Elisa. Kali ini sebuah senyum kecil terbit di wajah gadis itu. "Maaf tidak bisa memberitahumu, El. Ini bukan sesuatu yang bisa diurus oleh manusia biasa sepertimu," jawab Gia dengan nada tenang yang menyiratkan sebuah keangkuhan. "Namun, tenang saja. Semuanya sudah berakhir. Siluman kucing hitam akan membereskan masalah ini tanpa menyisakan apapun."
Perasaan kesal tiba-tiba muncul di benak Elisa. Entah kenapa ucapan Gia terdengar sangat menyebalkan di telinganya. Apalagi wajah Gia yang terlihat sangat angkuh itu, Elisa benar-benar tidak menyukainya.
"Semoga saja masalah ini benar-benar berakhir sesuai ucapanmu," balas Elisa sambil ikut tersenyum. "Karena jika tidak, seseorang harus bertanggung jawab akan masalah ini, bukan?"
Gia menggebrak meja di depannya. Dia menoleh ke arah Elisa dengan wajah marah. "Kau menantangku?"
Elisa tertawa pelan sesaat setelah Gia menyelesaikan ucapannya. "Mana mungkin manusia rendahan ini berani menantang siluman kucing hitam yang agung?" Dia berucap sambil mengusung senyum lebar.
Tak ingin emosi semakin menguasai dirinya dan berakhir melukai orang lain, Gia akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan kelas. Bayu menyusul di belakangnya sambil melayangkan tatapan tajam ke arah Elisa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Desa Rembulan
Mystery / Thriller(Misteri - Fantasi - Psikologi) Bagi Elisa, ketenangan adalah yang utama. Selama tak mengganggu ketenangannya, Elisa tak akan mau peduli. Namun, sebuah kejadian aneh muncul di Desa Rembulan, desa tempat dimana Elisa dilahirkan dan dibesarkan. Dimul...
