36

238 18 2
                                        

06.55 WIB
Senin, 30 Mei 20XX

Napas Irma terdengar menderu setelah gadis itu mendudukkan diri di samping Elisa. Dia baru saja berlari dari rumah menuju sekolah, takut terlambat karena sudah bangun kesiangan. Namun, dahinya langsung mengerut begitu melihat suasana kelas yang masih tampak sepi. Hanya ada empat orang murid di dalam sana, lima jika Irma yang baru tiba juga dihitung.

"Kau bangun kesiangan, ya?" tebak Elisa yang ternyata kini sedang menatap Irma.

Irma menyengir lebar, memamerkan gigi putihnya yang berbaris rapi. "Entah kenapa, aku kesulitan untuk tidur tadi malam, El. Itu sebabnya aku bangun kesiangan," jelas Irma dengan kepala yang mulai diletakkan di atas meja. Matanya tampak sayu seperti orang yang kurang tidur.

"Begitu rupanya." Elisa mengangguk-anggukkan kepalanya, mengerti dengan alasan keterlambatan teman sebangkunya itu.

"Oh ya, ngomong-ngomong, dimana yang lain? Kenapa kelas sepi sekali?" Kepala Irma kembali terangkat. Dia bertanya dengan wajah penasaran.

"Gia dan Bayu sedang keluar. Advis sepertinya akan izin. Nafita bilang kondisinya masih belum terlalu baik. Sisanya belum datang." Elisa terdiam sebentar, sebelum akhirnya melanjutkan, "Lalu Vin ... dia juga tidak masuk."

Kedua alis Irma terangkat mendengar jawaban dari Elisa. "Ken-"

"Vin tidak masuk?" sambar Juan yang duduk di kursi belakang. "Kau tau berita itu dari mana?"

Elisa menoleh perlahan ke arah belakang. Dia melihat sekilas wajah Nafita yang tampak tegang. "Dari Gia tentu saja. Dia kan ketua kelas," jawab Elisa dengan nada meyakinkan.

"Wah anak ini benar-benar!" gerutu Juan sambil berkacak pinggang. "Dia mengabaikan panggilan dariku, tapi menghubungi Gia?" dia melanjutkan dengan wajahnya yang sudah berubah sinis. "Awas saja kalau nanti ketemu!"

Elisa hanya tersenyum kecil melihat respon Juan. Dia kembali melirik Nafita sambil mempertahankan senyum kecilnya, lantas berbalik menghadap ke depan.

"Bagaimana jika Kenya dan Raka ternyata tidak masuk? Berarti hari ini hanya akan ada tujuh murid di kelas." Irma kembali menjatuhkan kepalanya di atas meja. Wajahnya tampak lesu.

Dahi Elisa mengerut. Tidak mengerti dengan perubahan wajah Irma. "Lalu kenapa jika hanya bertujuh?"

"Ah, tidak kenapa-kenapa sih sebenarnya. Hanya saja, itu terasa aneh." Irma terdiam sejenak. Dia menghela napas sebelum berkata, "Sepertinya murid kelas kita semakin berkurang dari hari ke hari."

Elisa membisu untuk sesaat. Jika dipikir-pikir, teman-temannya memang terus berkurang. Dia yang biasanya memang menyukai keheningan, entah kenapa merasa sedikit terganggu karena itu. "Kalau begitu, mari berdoa, semoga akan ada murid baru yang masuk ke kelas kita," ujarnya mencoba menghibur Irma sekaligus dirinya sendiri.

Irma tertawa kecil. "Sepertinya akan mustahil, El. Aku tidak mendengar ada warga baru di desa kita. Jadi, anak mana yang akan menjadi murid baru di sekolah ini?"

Elisa mengedikkan bahunya. "Entahlah, mungkin saja warga dari desa tetangga?" tebaknya asal.

Irma hanya menggelengkan kepalanya. "Baiklah, El. Semoga saja begitu." Irma mengakhiri percakapan dengan mata yang mulai dipejamkan.

Namun, belum sampai satu menit mata Irma terpejam, suara langkah pantofel seorang guru mulai terdengar menuju kelas mereka. Elisa mencoba memberi isyarat pada temannya itu agar bersiap. Dan Irma yang sudah bertahun-tahun duduk bersama Elisa, langsung tahu akan isyarat itu dan mulai menyiapkan diri.

Semuanya berjalan seperti biasa hingga sesosok pemuda jangkung dengan rambut hitam legam, muncul di belakang guru yang akan mengajar di kelas mereka. Irma dan Nafita langsung terbelalak melihat pemuda tampan yang tampaknya akan menjadi murid baru di kelas mereka itu. Wajah lesu Irma bahkan sudah berubah berseri.

Sementara Elisa, dia mulai membatu di tempat duduknya. Degub jantungnya sudah melaju kencang. Begitu juga napasnya yang kini sudah tak beraturan.

"Raigan?" seru Gia yang baru saja muncul di bibir pintu. Ekspresinya tampak syok melihat penampakan tak asing yang kini tengah berdiri di depan kelas mereka. Bayu di belakangnya tak jauh berbeda.

"Wah, kalian sudah saling mengenal rupanya," ucap bu guru yang baru saja tiba di tempat duduknya. "Baiklah, Gia dan Bayu, silakan duduk dulu, sebelum ibu mengenalkan murid baru kepada teman-teman yang lain."

Gia tak dapat berkata-kata lagi. Dia hanya bisa menuruti perintah gurunya sambil terus menatap Raigan. Entah apa yang sedang direncakan oleh pemuda itu, yang jelas Gia harus terus waspada.

"Baik semuanya, seperti yang kalian lihat. Hari ini kelas kita kedatangan murid baru ...."

_____°_____

10.03 WIB
Senin, 30 Mei 20XX

Entah sudah berapa kali Irma menoleh ke belakang, senyumnya tak sedikitpun memudar setiap kali dia sudah menghadap ke depan. Elisa yang melihat itu mulai jengah. "Kalau ingin berkenalan, sebaiknya kau hampiri dia sekarang, Ir. Sebelum ada yang mendahuluimu," pesan Elisa tanpa melirik Irma. Dia masih sibuk membereskan alat tulisnya.

Irma memanyunkan bibirnya. "Inginku sih begitu, El. Tapi dua biang kerok itu masih mengerubungi si murid baru. Kau tahu sendiri kan bagaimana usilnya mereka," jelas Irma merujuk pada Juan dan Derry yang kini tengah berkenalan dengan si murid baru, Raigan.

Elisa bangkit berdiri. Kedua tangannya membawa tempat bekal dan botol minum, sudah siap untuk pergi ke tempat biasa. "Kalau begitu tunggulah sampai mereka pergi." Dia berujar santai. Senyum kecil ikut tersungging di bibirnya.

Irma mendengus pelan. Walau menyebalkan, tapi apa yang dikatakan Elisa memang ada benarnya. Lebih baik menunggu hingga si biang kerok pergi daripada harus diganggu nantinya. "Baiklah, sepertinya memang tidak ada cara lain." Irma mulai berdiri, dia menoleh ke arah Nafita yang masih membereskan alat tulisnya.

Melihat Irma yang sudah bersiap hendak menghampiri Nafita, Elisa pun mulai menyicil langkah untuk menuju halaman belakang sekolah. Langkahnya tampak ringan meski batinnya terus merasakan tatapan menusuk dari berbagai arah. Elisa tahu siapa pelakunya, tapi dia memilih untuk tidak peduli.

Setelah penampakan Elisa menghilang di balik tembok, iris gelap Gia beralih menyorot pemuda yang duduk di bangku belakang. Pemuda menyebalkan yang tidak pernah Gia sukai kehadirannya. Seolah sadar akan tatapan Gia, pemuda itu tiba-tiba menoleh ke arahnya dengan seringai misterius. Gia semakin menajamkan tatapannya, seolah memberi isyarat kepada si pemuda untuk tidak macam-macam di wilayahnya.

Desa RembulanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang