10.23 WIB
Senin, 30 Mei 20XX
Helaan napas berat berhembus begitu Elisa mendengar suara langkah mendekat ke arahnya. Dia menengok ke belakang melihat sosok jangkung yang baru saja muncul. "Untuk apa kau datang ke sini?" tanya Elisa dengan wajah datar.
Alih-alih menjawab, Raigan yang masih berdiri di belakang Elisa memilih untuk berkata, "Ternyata kau tidak berubah, ya." Dia tersenyum kecil sambil melihat suasana di sekitar sana. Kedua tangannya terselip di dalam saku celana.
"Kalimatmu ambigu." Suara Elisa mulai terdengar dingin. Matanya menunjukkan ketidaksukaan yang kentara sekali.
Raigan langsung menatap kembali Elisa. Senyumnya kian lebar. "Dulu, kau juga sangat menyukai suara riak sungai. Itu sebabnya kita memiliki rumah pohon di pinggir sungai."
Dahi Elisa tampak mengernyit. Entah kenapa, dia merasa sedikit terganggu dengan sikap sok tahu dari orang yang masih dia anggap asing itu. "Aku tidak ingat," ucap Elisa sambil membereskan tempat makannya dan bersiap untuk kembali ke kelas.
Raigan diam sejenak memperhatikan Elisa yang sudah bersiap untuk meninggalkan dirinya, sebelum akhirnya berkata, "Nanti malam bulan purnama. Waktu yang tepat untuk melaksanakan upacara pembangkitan kekuatan."
Elisa tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia berbalik menghadap Raigan yang kini sedang menatap lurus ke arah depan. "Pelakunya sudah tertangkap."
Kepala Raigan langsung menoleh, dia ikut berbalik menghadap Elisa. "Kau yakin dia pelakunya?"
Kalau boleh jujur, sebenarnya Elisa memang tidak yakin jika pelaku yang ditangkap tadi malam adalah pelaku yang asli. Namun, kan tidak mungkin Elisa langsung menunjukkan wajah paniknya dan memohon bantuan Raigan. Mau ditaruh di mana mukanya setelah selama ini sudah bersikap ketus pada pemuda itu.
Meski demikian, rupanya rasa penasaran Elisa lebih besar daripada egonya. Karena selanjutnya, gadis itu memilih untuk bertanya, "Jadi, kau tahu siapa pelakunya?"
Tawa Raigan meluncur begitu saja, walau terdapat binar kesedihan di matanya yang segelap malam itu. "Jika aku tahu siapa pelakunya. Aku tidak akan repot-repot meninggalkan desa dan ... membuatmu melupakanku."
Perseteruan darah dan tahta akan merenggut banyak nyawa.
Ramalan yang waktu itu diberikan Raigan tiba-tiba melintas di ingatan Elisa. Jujur saja, dia masih bingung dengan isi ramalan itu. Namun, setelah mendengar ucapan Raigan barusan, untaian tali kusut yang bersemayam di kepalanya tiba-tiba mengendur.
"Apakah 'darah' yang dimaksud dalam ramalan itu melambangkan siluman kelelawar merah? Sedangkan 'tahta' melambangkan siluman gagak?" Elisa kembali mengajukan pertanyaannya.
Senyum kecil kembali muncul di wajah Raigan. "Ya, itu benar, El."
"Jadi ... kau akan berseteru dengan siluman gagak?" Suara Elisa terdengar lebih pelan dari sebelumnya. Ada keraguan dalam kalimat yang dia ucapkan.
Raigan tak menjawab, tapi senyum simpul di wajahnya sudah menyiratkan jika dugaan Elisa benar adanya.
"Apa alasannya?"
Bahu Raigan mengedik dengan santainya. "Tak ada yang tahu."
"Kalau begitu-"
"Loh, Elisa?" seru suara tak asing yang baru saja muncul di sana. Nafita menatap penasaran pada Elisa dan Raigan. Dia memicingkan matanya seolah curiga pada dua orang itu.
Hingga beberapa saat kemudian, Nafita kembali berseru, "Astaga!" Dia menutup mulutnya yang menganga dengan tatapan seolah tak percaya. "Aku baru ingat. Dia ... dia yang waktu itu menjadi pasangan menarimu, kan? Iya kan?!" Nafita langsung heboh sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Desa Rembulan
Mystère / Thriller(Misteri - Fantasi - Psikologi) Bagi Elisa, ketenangan adalah yang utama. Selama tak mengganggu ketenangannya, Elisa tak akan mau peduli. Namun, sebuah kejadian aneh muncul di Desa Rembulan, desa tempat dimana Elisa dilahirkan dan dibesarkan. Dimul...
